Empat Iblis Kali Progo Bab 1

ROMBONGAN pasukan berkuda laskar Kerajaan itu lewat dengan suara yang bergemuruh, melintas dijalan desa yang sunyi itu. Debu tebal mengepul disepanjang jalan. Batu dan pasir berterbangan. Dan sekejap saja lebih dari dua puluh ekor kuda itu melintas dengan cepat, disertai teriakan-teriakan gegap gempita bagai tengah mengejar orang.

Sebentar kemudian suasana ditempat itu kembali hening. Akan tetapi segera terlihat satu pemandangan yang mengharukan. Karena beberapa ekor kambing telah berkaparan dijalanan dengan keadaan yang menyedihkan.

Seekor kambing berbulu coklat tampak mencoba berdiri dengan susah payah, akan tetapi kembali roboh terguiing. Ternyata kaki depannya telah hancur remuk dilindas kaki-kaki kuda. Suara mengembiknya terdengar menyayat hati. Tiga ekor kambing berbulu hitam terkapar tak bernyawa dengan kepala berlumuran darah. Seekor lagi yang berbulu putih tengah sekarat dengan keadaan yang menyedihkan. Sementara dua ekor anak kambing yang masih kecil telah mati dengan tubuh hancur luluh.

Dari sebuah parit disisi jalan, muncul kepala seorang bocah gembala. Wajahnya pucat pias penuh debu dan lumpur. Rambutnya kusut masai penuh jerami kering. Rupanya tadi sewaktu pasukan berkuda itu melintas jalan. Dia tengah menghalau kambing-kaming gembalaannya melintasi jalan sunyi itu. Tak diduga rombongan pasukan berkuda itu begitu cepat datangnya, tahu-tahu telah didepan mata. Terbeliak sepasang matanya, dan dengan berteriak kaget dia cepat gulingkan tubuhnya menyelamatkan diri dan maut hingga terjerumus keparit.

Si bocah gembala ini ternyata seorang bocah perempuan yang berusia sekitar tujuh tahun. Gadis kecil ini mengucak-ucak matanya melihat sebuah pemandangan tragis terpampang didepan matanya. Penglihatannya tertumbuk pada dua ekor anak kambing yang terkapar mati dengan tubuh hancur bersimbah darah.

“Oh…?” Satu suara tersendat keluar dari bibir bocah gembala ini. Sepasang kakinya gemetaran seperti tak kuat menahan tubuhnya lagi. Ketika melihat seekor kambing berbulu putih yang tengah megap-megap sekarat dengan mulut mencucurkan darah, bocah ini berteriak menjerit. “Putih…!? oh, Pu Putiiiih!”

Baca novel ini di Temanin.site

Dan segera menghambur lari menubruk kambing itu. Selanjutnya sudah menangis terisak-isak dengan suara menyedihkan. Si Putih baru sebulan ini melahirkan anaknya yang dua itu. Anak kambing yang lucu-lucu. Seekor berbulu putih, dan seekor lagi berbulu hitam.

Kini kedua ekor anak kambing yang lucu-lucu itu sudah jadi bangkai tak bernyawa. Dan sang induknya tengah megap-megap sekarat dengan keadaan mengenaskan hati. Tersedu-sedu sibocah gembala memeluki sang kambing kesayangannya. Kambing yang satu ini adalah miliknya sendiri yang telah dibelikan oleh ayahnya setahun yang lalu.

Sedangkan yang lainnya adalah kambing-kambing milik sang paman, yang digembalakannya menjadi satu. Sementara si Putih itu rupanya sudah tak kuat mempertahankan lagi nyawanya. Setelah sekarat meregang nyawa, tak lama kemudian kambing itupun mati.

Sang bocah gembala itu semakin kuat memeluki tubuh binatang kesayangannya. Tangisnya hampir tak terdengar karena suaranya telah serak. Kenyataan yang tragis itu ternyata telah menggoncangkan jiwanya. Hingga karena tak kuat menahan kesedihan yang amat sangat, si gadis kecil itupun terkulai tak sadarkan diri.

Angin gunung bertiup berdesahan menyibak rambutnya. Entah berapa lama dia tertelungkup tak sadarkan diri dengan lengan masih memeluk binatang itu. Ketika tiba-tiba dikejauhan kembali terdengar bunyi derap kakikaki kuda mendatangi. Ternyata rombongan pasukan berkuda lasykar Kerajaan itu telah kembali lagi. Tak dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi, karena gemuruh puluhan ekor kuda itu menderu-deru cepat laksana air bah.

Peristiwa mengerikan itupun kembali berlangsung. Kuda pertama menerabas tanpa kenal ampun, disusul kuda-kuda selanjutnya. Kaki-kaki binatang kekar ini cuma menurutkan perintah tuannya, langsung menggilas apa saja yang menghalangi jalan. Lima ekor kuda telah lewat menerabas. Dan tubuh kecil tak berdaya yang membaur diantara bangkai-bangkai kambing itu pun terinjak-injak, terlempar kesana kemari. Lalu digilas oleh kaki-kaki kuda selanjutnya.

Pada saat itulah satu bayangan telah berkelebat menggelinding, dan menyambar tubuh bocah gembala itu. Dengan berguling-guling diantara kakikaki kuda yang berkepulan debu, dia berhasil keluar dari kaki-kaki maut yang melintas dengan cepat itu. Dan sebentar saja rombongan pasukan berkuda itu telah lenyap dikejauhan.

Kini terlihatlah satu pemandangan yang mengenaskan. Diantara kepulan debu yang menipis itu, tampak seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun lebih menggelepoh disisi jalan. Bajunya penuh dengan tapak-tapak kaki kuda. Bahkan bekas tapak kaki kuda terlihat dipelipisnya.

Sementara si bocah gembala itu belum diketahui nasibnya, karena telah dipeluknya erat-erat menempel didada. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri. Matanya bersinar menatap ke ujung jalan dimana rombongan pasukan berkuda lasykar Kerajaan itu lenyap. Tampak dada lakilaki ini berombak-ombak menahan geram, dengan gigi terdengar berkerot.

“Bangsat-bangsat terkutuk…!” Terdengar suara desis keluar dari bibirnya. Namun sesaat dia sudah tersentak ketika melihat keadaan bocah yang di tolongnya. Cepat-cepat ia menempelkan telinganya ke dada bocah itu. Dan wajahnya berubah pucat.

“Celaka…! Aku harus cepat menolongnya sebelum terlambat..!” Desisnya penuh kekhawatiran. Dan… berkelebatlah laki-laki berbaju putih itu tinggalkan tempat itu. Tubuhnya melesat cepat sekali, lalu sebentar kemudian lenyap dibalik perbukitan.

Tiba-tiba dari ujung jalan tadi, muncul lagi serombongan pasukan lasykar Kerajaan. Suara derap kakikaki kuda kembali menyibak keheningan. Ternyata rombongan yang tadi, akan tetapi kini cuma lima ekor kuda yang mendatangi. Tiba-tiba si penunggang kuda paling depan mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti. Penunggang kuda ini masih muda. Berusia sekitar dua puluh tahun lebih. Berwajah tampan dan menunggang kuda berbulu hitam berkilat.

Kiranya dialah si pemimpin rombongan berkuda itu. Segera sepasang matanya menyapu sekitar tempat itu. Menatap pada beberapa ekor kambing yang porak poranda dengan keadaan tak bernyawa. Berkilat-kilat sepasang matanya menatap bangkai-bangkai binatang itu. Kemudian memutar kudanya. Pandangannya menyapu bukit dan keadaan sekitarnya.

“Hm, cepat periksa keadaan disekitar perbukitan ini! Apakah ada manusia?” Perintahnya pada keempat anak buahnya.

Keempat penunggang kuda itu segera mengangguk hormat, dan segera memecah keempat penjuru. Lalu memulai penyelidikan. Sementara si pemuda tampan kepala pasukan berkuda ini berputar-putar disekitar tempat itu, dengan sepasang matanya memperhatikan bangkai-bangkai kambing yang berserakan dijalanan.

Kiranya tadi sewaktu rombongan pasukan berkuda lasykar Kerajaan itu melewati jalan ini, sekilas dia telah melihat seorang bocah kecil tertelungkup diantara bangkai-bangkai kambing yang memang telah berserakan dijalanan. Akan tetapi karena dia berada dibarisan ketiga, dan terhalang oleh tiga ekor kuda dihadapannya. Dia tak begitu memperhatikan. Apa lagi untuk menghentikan kudanya adalah tak mungkin. Karena kuda-kuda mereka berlari cepat sekali.

Sedangkan dia yakin, seandainya penunggang kuda paling depan mengetahui ada orang dijalanan, tentu dari jauh-jauh sudah memberi aba untuk berhenti. Itulah sebabnya tadi dia terus melewati dengan agak ragu, apakah penglihatannya cuma fatamorgana saja, ataukah sesungguhnya?

Namun ketika tiba di pos sebelah depan, pemuda ini sengaja kembali lagi bersama keempat perwira bawahannya. Sedangkan rombongan yang terdiri dari dua puluh ekor kuda dibawah pimpinan Tumenggung Wirapati meneruskan berangkat ke perbatasan Kota Raja.

Sebenarnya dia dan keempat anak buahnya berada dilain rombongan, yang memintas jalan memutar melalui belakang bukit, dan tidak melalui jalan desa ini. Ketika itu mereka tiba terlebih dulu. Setelah memberi laporan bahwa buronan yang dicarinya tak dijumpai, segera bergabung dengan rombongan yang dibawah pimpinan Tumenggung Wirapati.

Demikianlah, hingga kedua rombongan itu segera melewati jalan desa yang sunyi itu. Tentu saja membuat pemuda tampan pemimpin keempat perwira Kerajaan itu menjadi penasaran, dan kembali lagi. Penasaran untuk membuktikan penglihatannya. Apakah dijalanan yang dilewati rombongan mereka, ada seorang bocah tertelungkup diantara kambingkambing yang berserakan?

Tiba-tiba tatapan matanya tertumbuk pada sebuah benda bersinar diantara kambing-kambing yang berkaparan dijalan itu. Cepat dia bergerak melompat turun dari kudanya. Diambilnya benda itu, yang ternyata seuntai kalung berwarna putih berkilatan. Rantainya terbuat dari baja putih, sedangkan bandulannya terbuat dari gading berbentuk hati.

Pada bagian tengahnya terdapat ukiran sebuah huruf ” R “. Tersentak hatinya melihat kalung ini. Kini dia yakin benar bahwa yang tertelungkup disini tadi benar-benar seorang bocah manusia. Cepat disimpannya benda itu ke balik pakaiannya, dan kembali melompat ke atas kuda.

Sementara benaknya mulai berfikir… “Hm, kalau Tumenggung Wirapati dan anak buahnya mengetahui didepannya ada seorang bocah tetelungkup ditengah jalan, mengapa tak memberi isyarat berhenti? Mustahil kalau mereka tak melihatnya! Dan berkaparannya kambingkambing yang mati ini pasti karena diterjang terus oleh rombongan berkuda dibawah pimpinannya! Benar! Aku yakin bocah si pemilik kalung ini adalah seorang bocah penggembala kambing! Mungkin rombongan mereka terus menerjangnya disaat melewati jalan ini! Dan ketika kembali lagi setelah bergabung dengan rombongan pasukanku telah menerjang lagi bocah yang tertelungkup dijalanan! Entah bocah itu tertidur ataukah pingsan, aku tak mengetahui..!

Terdengar suara pemuda itu berdesis kesal. “Kalau begitu Tumenggung Wirapati benar-benar seorang yang berhati kejam! Sungguh-sungguh keterlaluan..!” Memaki si pemuda. Kini yang jadi pertanyaan adalah si pemilik kalung itu. Kemanakah gerangan bocah gembala itu? Kalau mayatnya ada tentu tak menjadikan dia penasaran. Kalau memang penglihatannya salah, tak mungkin ditemukannya kalung itu.

“Apakah si bocah penggembala kambing itu seorang bocah perempuan?” Desisnya lagi pelahan. Setelah berfikir bolak-balik tak menentu, akhirnya dia menyerah, tak dapat memecahkan persoalan itu. Sekarang tinggal menunggu penyelidikan keempat Perwira bawahannya. Kira-kira selang beberapa saat, tampak satu-persatu keempat Perwira bawahannya. Dia telah menerima laporan.

Ternyata laporan yang didapat adalah tidak adanya siapa-siapa disekitar tempat itu. Pedesaan masih amat jauh sekitar ratusan kaki dilereng bukit. Tak ada seorang manusiapun yang lewat ditempat itu. Akhirnya setelah temenung beberapa saat, pemuda pemimpin rombongan itupun segera perintahkan untuk kembali.

Derap suara langkah kaki-kaki kuda kembali terdengar disekitar tempat sunyi itu. Namun suara itupun semakin menjauh. Lalu melenyap, tinggalkan debu yang mengepul disepanjang jalan. Tempat itu kembali lengang seperti sediakala. Dan bangkai-bangkai kambing itu cuma menambahkan sebuah pemandangan yang memilukan….