Empat Iblis Kali Progo Bab 3

SEMENTARA sang kakek gelagapan ditanya Roro demikian, gadis tanggung ini tundukkan wajah sambil tersenyum. Padahal dia cuma “menggertak” saja. Karena seandainya sang kakek mengetahuinya dan melihat mereka mandi berdua, entahlah hukuman apa yang bakal mereka terima.

“Baiklah! Aku memang tak melihat kalian mandi berdua! Walau demikian kalian tetap bersalah, karena tak kulihat seorangpun berada ditempat latihan” Ujar sang kakek sambil mengelus jenggot putihnya yang lebat.

“Maka sebagai hukuman, guru..!” Tiba-tiba Ginanjar telah berkata dengan suara terdengar agak gemetar. Lain halnya dengan Roro, yang tampak monyongkan mulutnya, tapi tak berani bicara apa-apa

“Nah kini bangunlah kalian!” Membentak sang kakek dengan suara keras.

Tak usah dua kali perintah, bagai disengat kelabang keduanya sudah melompat bangun berdiri. Mata sang kakek tampak jelalatan mencari-cari sesuatu diantara dahan-dahan pohon disekitar tempat itu. Lalu berhenti menatap pada sebuah dahan pohon yang melintang rata. Dahan pohon itu tak seberapa tinggi. Kira-kira tingginya empat kali tubuh manusia dewasa.

“Ginanjar! Kau naiklah ke dahan pohon itu. Dan kau harus berjuntai disana dengan kaki diatas kepala dibawah! Mengertikah kau?” Berkata sang kakek. Ginanjar menengadah keatas pohon, lalu mengangguk.

Baca novel ini di Temanin.site

“Nah, kerjakanlah cepat!” Bentaknya dengan melotot.

Bocah laki-laki tanggung ini tak berani membantah. Dengan tiga-kali melompat, dia sudah berada dibawah pohon yang ditunjuk itu. Selanjutnya sudah memanjat ke atas dengan cepat. Sebentar kemudian sudah berada didahan yang ditunjuk tadi. Matanya menatap kebawah. Agak ngeri juga bocah laki-laki tanggung ini, tapi dengan kuatkan hati segera dia mulai melirik kearah Roro, yang juga tengah memperhatikan. Akan tetapi sebuah bentakan sudah menyambarnya lagi.

“Hayo, cepat!” Tentu saja tak ayal lagi segera kuatkan kepitan kakinya pada dahan pohon, dan segera jatuhkan tubuhnya untuk menjuntai kebawah. Dan dengan kepala dibawah sedemikian rupa, Ginanjar segera bersidakep dengan memejamkan matanya.

“Ingat! Kau tak boleh turun atau merobah posisimu, sampai aku datang dan menyuruhmu turun!” Berkata sang kakek dengan suara keras berwibawa. Kemudian berpaling menatap Roro.

“Ayo, kau ikut aku..!” Berkata sang kakek, dan mendahului berkelebat dari situ.

Tentu saja Roro tak berani membantah, dan tak ayal lagi segera bergerak menyusul. Tak sempat lagi dia menoleh pada Ginanjar yang menjuntai diatas dahan pohon. Bocah inipun ternyata tak membuka matanya karena amat takut pada gurunya.

Siapakah gerangan kakek tua berambut putih itu. Dialah seorang tokoh Rimba Hijau yang telah puluhan tahun menyembunyikan diri di lereng Rogojembangan. Bernama BAYU SHETA, dan digelari kaum persilatan dengan julukan si PENDEKAR BAYANGAN.

Tujuh tahun sudah Roro tinggal dilereng gunung itu sejak dibawa oleh seorang laki-laki yang telah menyelamatkan jiwanya, yaitu bernama Jarot Suradilaga, yang bergelar si Maling Sakti. Roro telah menjadi seorang gadis tanggung yang lincah jenaka, dengan usia kira-kira empat belas tahun. Ibarat bunga adalah mulai mekar, dan belum menampakkan keindahannya.

Sayang Roro tidak sebagaimana lazimnya anak-anak gadis sebayanya. Karena pengaruh akibat terjangan kaki-kaki kuda pada tujuh tahun yang silam, telah membuat wataknya agak aneh, dan angin-anginan. Terkadang akan membuat orang geleng kepala melihat sikapnya. Bahkan sang kakek itupun sudah maklum akan pembawaan watak Roro yang demikian.

Aneh juga lucu, karena sampai saat ini Roro belumlah mengetahui kalau dirinya seorang perempuan. Dan hingga saat ini dia tak mengetahui manakah sesuatu pada tubuhnya yang harus ditutupi dan disembunyikan…

Setelah sekian lama berlari-lari mengikuti sang kakek alias Ki Bayu Sheta itu, tampak laki-laki tua bertubuh kekar itu hentikan larinya. Roro pun segera berhenti berlari. Napasnya terdengar sengal-sengal. Kecepatan lari sang kakek itu amat luar biasa. Roro sudah keluarkan tenaga sepenuhnya untuk menyusul, akan tetapi tetap saja berada dibelakang tubuh si kakek Bayu Sheta itu sekitar lima-enam tombak tanpa mampu menyusul. Dia sudah jatuhkan tubuhnya mendeprok ditanah, lalu mengatur napasnya yang terengah-engah. Tak berapa lama segera rasa lelahnya sudah pulih lagi.

Sementara sang kakek Bayu Sheta telah duduk diatas sebuah batu. Sebelah lengannya mengelus-elus jenggotnya. Dan sebelah lagi mengipas-ngipas dadanya dengan ujung jubah. Tampak wajahnya seperti biasa saja. Tak terlihat rasa lelah sedikitpun setelah berlari sekian lama. Menandakan kakek tua berjulukan si Pendekar Bayangan ini bukanlah orang yang berkepandaian rendah. Karena telah memiliki kesempurnaan dalam mengatur napas ketika berlari.

“Heheheh… bagus, Roro! Ilmu larimu semakin maju pesat! Enam bulan sudah sejak kau dititipkan oleh gurumu si Maling Sakti ternyata tak mengecewakan! Cuma dalam hal mengatur napas kau harus lebih perhatikan lagi..!” Berkata Ki Bayu Sheta, dengan tersenyum menatap Roro.

Roro tersenyum seraya manggut-manggut mendengarkan penuturan sang kakek, tapi dalam hati amat keheranan karena apalagi untuk menyusul, merendengi sang kakek saja teramat sulit. Anehnya mengapa dikatakan maju pesat? Dia jadi benarbenar tak mengerti. Tentu saja Roro tak mengetahui kalau dalam setiap kali Roro sudah hampir berhasil merendenginya selalu Ki Bayu Sheta menambah kecepatan larinya. Hingga tetap saja jarak antara mereka tak berubah.

Diam-diam Ki Bayu Sheta juga terkejut, karena Roro telah jauh melebihi Ginanjar, bocah laki-laki tanggung muridnya itu. Kalau Ginanjar, ketika dia pergunakan tenaga separuhnya saja tak mampu berada lima enam tombak dibelakangnya. Tetapi Roro ketika dia pergunakan tenaga lari tiga perempat bagian, ternyata mampu berada dibelakangnya sejarak lima enam tombak dibelakangnya.

“Apakah hukuman yang akan kau jatuhkan padaku adalah dengan mengajakku berlatih adu lari seperti ini, kek..?” Tiba-tiba Roro bertanya, seraya bangkit berdiri.

Orang tua itu terdiam sesaat, tiba-tiba sepasang mata sang kakek telah melotot tajam padanya. “Hm, aku akan menjatuhkan hukuman padamu seberat-beratnya, karena kau telah berani berdusta!” Tiba-tiba Ki Bayu Sheta berkata dengan suara dingin.

Tentu saja kata-kata itu membuat Roro jadi terkejut. Celaka!? Pikir Roro, dengan wajah seketika berubah pucat. Hatinya menduga kalau sang kakek telah mengetahui kalau dia mandi berdua dengan Ginanjar. Padahal tujuannya berdusta adalah membela bocah laki-laki itu, karena tampaknya amat ketakutan sekali. Tiba-tiba….

“Kakek..! Ampunkanlah aku! Aku telah berani berdusta terhadapmu..!” Roro telah bersimpuh dihadapan sang kakek itu dengan kepala menunduk.

“Berikanlah hukuman apa saja padaku, walau berat sekalipun pasti akan hamba jalankan!” Tiba-tiba Roro bangkit berdiri dan tengadahkan lagi wajahnya menatap ke langit.

Melihat itu Ki Bayu Sheta jadi tertawa gelak-gelak, dan terpingkal-pingkal seperti amat lucu. Ternyata tadi dia cuma menggertak saja. Padahal sesungguhnya dia memang tak mengetahui sama sekali kalau Roro berdusta. Tapi diam-diam Ki Bayu Sheta memuji sifat ksatria yang terdapat pada Roro, yang mau mengakui kesalahannya dan berani menanggung resikonya.

“Duduklah Roro, cucuku..!” Berkata Ki Bayu Sheta setelah berhenti dari tertawanya, dan menghela napas. Dipandangnya lengkung-lengkung bukit diufuk sana, dimana awan-awan putih berderet diatas perbukitan. Sementara hatinya membathin. Di diatas langit ternyata masih ada langit lagi! Bocah perempuan ini telah berhasil menggertakku, menandakan bahwa diriku masih lemah!

Seandainya yang menggertakku adalah seorang musuh, dan aku mempercayai, tentu akan berakibat fatal! Akan tetapi jiwa kesatria memang sukar didapat! Bocah ini berdusta cuma untuk membela Ginanjar! Berarti dia mempunyai rasa setia kawan yang amat besar pada sesama murid atau kawan! Berarti bocah ini memang tak dapat disalahkan..! Demikianlah hatinya membathin.

“Aku telah memaafkanmu, Roro..!” Terdengar suara Ki Bayu Sheta lirih dengan nada parau.

Tentu gadis tanggung ini jadi terheran. “Lho!? Mengapakah, kek? Kalau aku bersalah, hukumlah! Kalau kesalahanku dimaafkan, apa alasannya?” Bertanya Roro dengan sepasang mata yang bening menatap pada Ki Bayu Sheta.

Tentu saja pertanyaan itu membuat sang kakek jadi melengak, tapi dia memang tak dapat menyahut karena tampak sebutir air bening telah tersembul disudut matanya yang sudah mulai agak mengabur itu. Wajahnya yang tegar dan seram itu ternyata tak seseram hatinya. Tiba-tiba sebelah lengannya sudah bergerak mengelus rambut Roro. Belaian itu begitu penuh kasih sayang. Roro tundukkan wajahnya dengan perasaan aneh, mengapa tibatiba sang kakek bersikap demikian?

“Kau memang anak baik, Roro! Tak percuma gurumu Jarot Suradilaga alias si Maling Sakti mendidikmu! Walau gelarnya tidak bagus, tetapi gurumu itu seorang Pendekar sejati. Berhati mulia dan selalu menjunjung tinggi kebenaran! Tidak kecewa kau menjadi muridnya, karena disamping ilmu-ilmu kedigjayaan yang telah diturunkannya padamu, ternyata jiwa ksatrianya pun telah diwariskan padamu!”

Berkata Ki Bayu Sheta dengan suara datar. Sementara sepasang matanya masih menatap kearah bukit nun jauh disana. Bukit yang sering dipandangi. Itulah bukit Kera, dimana segala penentuan nasibnya adalah diatas bukit itu. Namun Roro memang tak mengetahui, dan Ki Bayu Sheta memang tak ingin kedua orang bocah muridnya mengetahui….