SEMENTARA itu diatas puncak Bukit Kera telah menanti sesosok tubuh berdiri tegak dengan jubah berwarna hitam. Rambutnya putih beriapan. Bila dilihat keseluruhannya amatlah mirip dengan Tengkorak Hidup. Laki-laki ini bekulit hitam legam dengan tulang pelipis yang menonjol. Pada bagian belakang jubahnya terdapat sebuah simbol kepala tengkorak. Dilengannya tercekal sebatang tombak yang juga berwarna hitam. Usia orang ini sekitar tujuh puluhan tahun. Dialah si DEWA TENGKORAK.
Seorang tokoh Rimba Persilatan golongan hitam. Tidak terlalu lama sesosok bayangan putih berkelebat. Dan segera telah berdiri diatas sebuah batu besar tepat dihadapan si Manusia Jerangkong itu. Siapa lagi kalau bukan si Pendekar Bayangan Ki Bayu Sheta. Jarak mereka berhadapan kurang lebih tujuh delapan tombak.
“Hehehehe… hehe… Selamat datang sobat Pendekar Bayangan! Anda benar-benar seorang pendekar tulen yang menepati janji..!” Terdengar si manusia jerangkong berkata. Suaranya dingin mencekam menyibak kelengangan di sekitar bukit itu.
“Terima kasih atas pujianmu itu Dewa Tengkorak..! Maaf, mungkin kedatanganku agak terlambat!” Ujar Ki Bayu Sheta dengan suara datar.
“Hehehe… sama sekali tidak, sobat Bayu Sheta! Anda terlalu berbasa-basi, membuat aku terkadang malu terhadap diriku sendiri!” Sahut si Manusia Jerangkong, dan terdengar suara helaan napasnya.
Tiba-tiba dengan sekali bergerak tubuh di Dewa Tengkorak telah mencelat keatas setinggi sepuluh tombak. Dan dengan ringan bagaikan sehelai bulu, sepasang kakinya telah mendarat tepat dihadapan Ki Bayu Sheta berjarak kurang lebih dua tombak, tepat diatas batu besar. Ujung tombak dilengannya tiba-tiba diarahkan kedada Ki Bayu Sheta, dan terdengar suaranya yang berubah jadi angker.
Baca novel ini di Temanin.site
“Hm, Bayu Sheta! Tebusan nyawamu atas 300 nyawa kaum Partai Pengemis dan keluarganya pada dua puluh tahun yang silam, akan aku laksanakan pada malam purnama ini! Kukira sejak perjumpaan kita tujuh purnama yang lalu, dan pengunduran pelaksanaan pencabutan nyawamu berakhirlah sudah..!”
“Ya! aku telah siap untuk menyerahkan jiwaku, Dewa Tengkorak! Lakukanlah!” Berkata Ki Bayu Sheta dengan suara gagah. Dadanya dibusungkannya untuk segera menerima kematian.
Akan tetapi si Dewa Tengkorak telah turunkan lagi tombaknya. Dan menancapkannya ditanah hingga amblas sampai separuhnya. Suara serak si Manusia Jerangkong itu kembali memecah keheningan yang mencekam itu.
“Bayu Sheta! Tujuh Purnama yang lalu aku telah memberi kesempatan padamu untuk berlatih memperdalam ilmu kedigjayaanmu guna menghadapi malam ini, apakah sudah kau lakukan?” Bertanya si Dewa Tengkorak.
“Ya!”
“Bagus! kau memang manusia jempolan yang tahu diri! Heheheh… tahukah kau mengapa aku sengaja mengulur waktu untuk menjemput nyawamu? Karena aku memang menghendaki pertemuan kita disaat kita sudah sama-sama tua bangka seperti ini! Dan telah dekat ke liang kubur, karena cepat atau lambat toh pada akhirnya kita akan berangkat ke Akhirat..!” Berkata si Dewa Tengkorak dengan suara parau, dan kembali mengumbar tawa berkakakan. Kata-kata si manusia jerangkong ini terdengar tandas, anehnya seperti tidak mengandung dendam kebencian terhadap Ki Bayu Sheta.
“Selama dua puluh tahun kukira cukuplah untuk kau mendidik seorang murid pewaris ilmu-ilmu yang kau miliki! Dan kau masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang, karena waktu yang kuberikan cukup lama!” Ujarnya lagi.
Kini sepasang mata Ki Bayu Sheta telah beralih menatap pada si Dewa Tengkorak. Tampak sinar matanya membersit tajam seperti mau menembus jantung si manusia jerangkong. Kata-kata itu telah membuat napasnya memburu dan dadanya naik turun bergelombang. Betapa amat terhinanya si Pendekar Bayangan. Prioritas yang diberikan si Dewa Tengkorak selama itu justru telah membuat dia menderita. Tiba-tiba laki-laki tua ini sudah perdengarkan suara keras, gemetaran penuh amarah.
“Dewa Tengkorak!!! Kukira sudah lebih dari cukup kau menyiksaku lahir bathin. Dua puluh tahun lebih aku menderita, tersiksa..! Aku tak ubahnya seperti seorang hukuman yang sudah ditentukan kapan waktu kematiannya! Apakah aku bisa hidup dengan tenteram, dan bersenang-senang..?” Bergetaran tubuh Ki Bayu Sheta menahan amarah yang bergemuruh didadanya.
“Memang, selama itu aku masih dapat mengenyam nikmatnya hidup! Secara lahiriah aku kelihatan dapat merasakan hidup tenteram, dengan mempunyai seorang murid dan mendidiknya dilereng Rogojembangan. Akan tetapi secara bathiniah, aku telah tersiksa! Karena hidupku selama ini adalah atas belas kasih orang yang memberiku waktu untuk hidup. Saat-saat kematianku seperti sudah diambang mata dan waktu yang selama itu kau berikan padaku seperti tinggal beberapa hari saja..! Tidak, Dewa Tengkorak! Ketenteraman hidup akan bisa dirasakan tanpa orang itu mengetahui kapan kematiannya yang akan dia hadapi!”
Kata-kata Ki Bayu Sheta yang tegas dan tanda itu seperti air bah yang mengalir dari atas gunung. Si manusia jerangkong itu terpaku membisu bagai sebuah arca. Cuma terlihat ujung jubahnya yang melambai-lambai diterpa angin. Ternyata si Pendekar Bayangan telah lanjutkan kata-katanya lagi.
“Sepuluh tahun yang lalu akan hampir membunuh diri, karena tak kuat menanggung penderitaan bathin! Maut serasa sudah didepan mataku, dan aku sudah tak sabar menunggumu turun tangan mengambil nyawaku! Dan tujuh purnama yang lalu aku sudah bergirang hati, karena aku segera akan menemui kematian dibukit ini! Akan tetapi tak dinyana kau telah mengulur lagi waktu kematianku sampai hari ini…! Kini waktu itu telah tiba Dewa Tengkorak! Dan aku sudah tak sabar lagi menunggu! Segeralah kau memulai..!” Teriak Ki Bayu Sheta dengan suara tandas.
“Baiklah Bayu Sheta! Hari ini aku memang tak berniat mengulur-ulur waktu lagi, segeralah kau persiapkan dirimu! Akan tetapi aku tak dapat membunuh orang yang tanpa melakukan perlawanan! Segeralah cabut senjatamu..!” Berkata si Dewa Tengkorak dengan suara dingin. Lengannya sudah bergerak mencabut tombak hitamnya yang tertancap ditanah.
“Aku tak membawa senjata apa-apa, sobat Dewa Tengkorak! Pedang Pusakaku telah kutinggalkan dipondokku untuk pewaris pada muridku! Yah, kukira tak guna kulakukan perlawanan! Toh akhirnya aku akan mati, sesuai dengan janjiku untuk memberikan nyawaku sebagai penebus 300 jiwa orang-orang Partai Kaum Pengemis..!” Ujar Ki Bayu Sheta dengan suara tegas.
Akan tetapi justru membuat si manusia jerangkong ini kecewa setengah mati. “Huh! Benar-benar sial dangkalan..! Justru aku ingin melihat kehebatan jurus dari Ilmu Pedang Bayangan yang kau miliki itu, yang pernah membuat namamu harum dipuji orang! Mengapa kau membuatku kecewa, Bayu Sheta..?”
Berkata si Dewa Tengkorak dengan suara mengandung kemendongkolan. Sepasang matanya melotot menatap laki-laki tua dihadapannya. Dan sekali lengannya bergerak tombak ditangannya telah dihunjamkan ketanah hingga amblas tak kelihatan lagi.
Terkejut Ki Bayu Sheta. Dia tak menyangka kalau si Dewa Tengkorak akan melakukan hal seperti itu Tombak Hitam itu adalah Tombak Pusaka Kerajaan Kalingga milik Ratu SHIMA, seorang raja perempuan yang pernah berkuasa di Jawa Tengah pada abad ke tujuh. Ki Bayu Sheta mengetahui dari kakek gurunya, bahwa Tombak Pusaka ditangan si Dewa Tengkorak itu adalah benda bersejarah. Entah bagaimana asalnya hingga Tombak Pusaka itu bisa jatuh ketangan si Dewa Tengkorak.
Saat itu telah terdengar suara si manusia jerangkong yang parau. Kepalanya ditengadahkan menatap kearah perbukitan yang berjajar kehitaman nun jauh diarah sana.
“Bayu Sheta! Julukanmu si Pendekar Bayangan itu telah membuat aku mengiri pada lebih dari dua puluh tahun yang silam! Ternyata disamping tingginya ilmu yang kau miliki, kau juga memiliki keluhuran budi! Kau berjuang semata-mata karena membela kebenaran, melindungi si lemah yang tertindas dari si penguasa yang jahat! Perjuanganmu dalam membela Kerajaan Medang dari keruntuhan bersama-sama Partai Kaum Pengemis dan rakyat, telah ditulis dalam sejarah, dan dikenang orang sepanjang zaman. Aku benar-benar kagum atas keluhuran budimu Bayu Sheta! Kau telah rela menebus nyawa ratusan manusia dengan nyawamu sendiri! Aku merasa telah kau kalahkan, Pendekar Bayangan..! Aku cuma bertindak berdasarkan ambisiku belaka, tak tahu apakah orang yang aku bela itu golongan pengkhianat Kerajaan atau pihak yang benar. Bagiku sama saja! Karena yang penting adalah aku dapat berbuat semauku tanpa ada yang melarang. Dan aku dapat hidup berkecukupan dengan hadiah-hadiah yang tanpa ku minta akan datang sendiri, walau datangnya dari para Pembesar Kerajaan yang menggerogoti hasilnya dari memeras rakyat. Aku tak mau tahu..!” Ujar si Dewa Tengkorak dengan suara terdengar parau dan seperti berkumandang disekitar bukit. Dan lanjutnya lagi setelah terdiam beberapa saat.
“Aku merasa bangga kalau ilmu Tombak Iblis yang kumiliki tak ada yang menandingi. Bahkan kini telah kupersiapkan sepuluh jurus ilmu pukulan sakti hasil ciptaanku, yang telah memakan waktu hampir sepuluh tahun aku menekuninya. Ilmu pukulan sakti itu kuberi nama Sepuluh Jurus Pukulan Kematian..!” Sampai disini si Dewa Tengkorak berhenti berkata, dan palingkan wajahnya menatap si Pendekar Bayangan Ki Bayu Sheta.
“Baiklah, Bayu Sheta! Rupanya tak ada waktu lagi, walau aku harus kecewa karena ternyata kau tak memenuhi harapanku..!” Si manusia jerangkong itu rentangkan sepasang tangannya seperti mau menyangga bulan. “Bersiaplah Bayu Sheta! Aku akan melancarkan pukulan dari Sepuluh Jurus Pukulan Kematian! Bila kau dapat menahan ilmu pukulanku sampai sepuluh jurus, kau bebas menikmati kehidupanmu sampai Hari Kiamat..!” Berkata si manusia jerangkong ini dengan suara dingin bagaikan es.
“Baik! Segeralah kau mulai! aku sudah siap…!” Berkata Bayu Sheta dengan suara datar, yang telah memasang kuda-kuda. Walaupun sudah tak mengharapkan hidup lagi, namun dia tak mau mati konyol begitu saja. Dan dia memang tak mau mengecewakan si Dewa Tengkorak, untuk menghadapi kehebatan kesepuluh jurus Pukulan Kematiannya dengan kekuatan yang dimiliki. Dengan perdengarkan suara mendesis, si Manusia Jerangkong sudah lancarkan serangan.
Wuuuuk….! Segelombang angin pukulan berhawa panas telah menerjang kearah Ki Bayu Sheta.
Desss…! Si Pendekar Bayangan sudah memapaki serangan dahsyat itu. Benturan kedua tenaga dalam yang hebat itu menimbulkan asap tipis seperti kabut. Laki-laki Lereng Rogojembangan itu terhuyung ke belakang. Dia cuma keluarkan sebagian tenaga dalamnya, tak dinyana pukulan pertama si Dewa Tengkorak membuat dia terhenyak kaget, karena terasa hawa panas menembus masuk ke dalam tubuhnya beruntung sang kakek telah lindungi tubuh dengan hawa murni.
Sedangkan si manusia Jerangkong itu tampak tenang-tenang saja berdiri menatapnya tanpa menggeser tubuh. “Bagus! kini tahanlah pukulan kedua..!” Teriak si Dewa Tengkorak. Dan dibarengi teriakan menggeledek, si manusia Jerangkong segera hantamkan pukulannya.