DEWA TENGKORAK tiba-tiba merasa dirinya amat rendah sekali. Dan tak lebih dari seorang tokoh penyebar kejahatan. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengumbar kepuasan duniawi. Selama hidupnya tak pernah berbuat kebajikan, selain bergelimang dengan kekotoran yang digelutinya. Gelarnya memang telah membuat orang takut dan gemetaran, akan tetapi apakah dia memiliki kewibawaan?
Tidak! Orang tak akan menghargainya, bahkan mayatnyapun tak mau orang menyentuhnya. Demikian memikir dibenak si Dewa Tengkorak. Dan hal itu memang membuat dia merasa mengiri pada nasib Pendekar Bayangan Ki Bayu Sheta.
Roro si gadis tanggung itu tibatiba lepaskan pelukannya pada jenazah si Maling Sakti, dan melompat kearah Ki Bayu Sheta. “Kakek..!? Oh, kakek..! Kau… kau terluka..!” Dan lengannya sudah bergerak menyangga tubuh si Pendekar Bayangan yang terhuyung limbung.
Laki-laki tua ini tersenyum pedih. Sepasang matanya sedari tadi menatap pada tubuh si Maling Sakti, menantunya itu. “Jarot..! kau… kau telah berkorban nyawa untukku..! Aiih, mengapa kau lakukan itu?” Terdengar seperti menggumam suaranya yang lirih. Dan ketika Roro memeluknya untuk menyangga tubuhnya, sang kakek ini perlihatkan senyumnya. Lengannya bergerak mengelus rambut bocah perempuan itu.
“Roro..! kau… kau memang murid yang bandel! Mengapa kau menyusul kemari? Hahahaha… hapuslah air matamu itu, bocah centil! Sungguh memalukan! Seorang pendekar tak boleh cengeng! Kau sudah dengar tadi pembicaraan kami! Aku memang telah memberikan nyawaku pada si Dewa Tengkorak itu, jadi kau tak boleh mendendam padanya! Gurumu si Maling Sakti ternyata telah menyelamatkan nyawaku..! Ah, sungguh diluar dugaanku! Tapi dia telah tewas sebagai Pendekar Sejati cucuku! Tak usah kau sesali kematiannya! Kini menyingkirlah..! Aku harus menghadapi dua jurus lagi dari Sepuluh Jurus Pukulan Kematian yang sudah menjadi perjanjian kami..!”
Berkata Ki Bayu Sheta dengan tersenyum dipaksakan. Sementara darah masih mengalir disudut bibirnya. Sebelah lengannya sudah bergerak menepiskan tubuh Roro dari tempat itu. Dan dengan gagah Ki Bayu Sheta tegak berdiri, menatap si Dewa Tengkorak.
Baca novel ini di Temanin.site
“Hayo, Dewa Tengkorak! Mana jurus kesembilan dan kesepuluh! Hahahaha… Sayang menantuku si Maling Sakti itu telah menahan seranganmu, kalau tidak apakah kau kira aku tak sanggup menahannya. Hm, jangan mimpi!” Teriak Ki Bayu Sheta dengar menahan napasnya. Akan tetapi kesudahannya napasnya tersengal-sengal. Lagi-lagi tubuhnya limbung mau jatuh. Namun dengan berlagak kuat, sang kakek ini bertahan untuk tetap berdiri tegak menantang.
Saat itu si Dewa Tengkorak telah perdengarkan tertawa terbahak-bahak. Dan satu suara dingin berkumandang, seperti menembus, merasuk mencekam jantung.
“Hehehehe… hehehe… Bayu Sheta! Bayu Sheta. Kau memang seorang yang beruntung! Tidak seperti aku yang sial dangkalan! Kini bersiaplah kau untuk menerima dua pukulan terakhirku!”
Begitu habis kata-katanya, tampak sepasang lengan si Dewa Tengkorak bergerak memutar keatas, dengan menimbulkan suara berklotakan. Tampak kedua lengannya seperti tergetar dan merah membara serta mengeluarkan asap kabut berhawa panas. Disusul menggelombangnya angin panas yang santar menerjang kearah Ki Bayu Sheta. Saat itu si Dewa Tengkorak baru mempersiapkan jurus ke sembilan dan kesepuluh, tapi hawa panasnya telah terasa ke sekitar bukit itu.
Pada saat itulah terdengar suara bentakan nyaring. “Iblis tua bangka..! Aku akan adu jiwa denganmu..!”
Dan disusul dengan berkelebatannya tubuh Roro melompat kehadapan si Dewa Tengkorak. Saat itu justru si Dewa Tengkorak sudah lancarkan serangan kearah si Pendekar Bayangan. Melihat bocah perempuan tanggung murid si kakek itu melompat kearahnya, sepasang mata Dewa Tengkorak jadi melotot. Akan tetapi jadi tertawa menyeringai. Sementara Roro sudah lancarkan serangannya menghantam tubuh si manusia Jerangkong itu.
Akan tetapi si Dewa Tengkorak justru tak menghindarkan diri. Hantaman lengan bocah perempuan itu tiba-tiba seperti tertahan di tengah jalan. Dan pada detik itu dengan suara tertawa berkakakan, sebelah lengan si Dewa Tengkorak yang sedianya akan dihantamkan pada Ki Bayu Sheta, kini dialihkan mencengkeram batok kepala bocah perempuan itu.
Desss…!
Terdengar suara teriakan menyayat hati dari si bocah perempuan. Kepalanya seperti lenyap tak terlihat lagi, karena tertutup oleh tebalnya asap kabut. Sementara itu sebelah lengannya telah menghantam kearah Ki Bayu Sheta.
Bummmm….! Terdengar suara ledakan keras. Akan tetapi hantaman si Dewa Tengkorak tidak tertuju pada si Pendekar Bayangan, melainkan pada tanah berbatu dihadapannya. Seketika tanah dan batu berhamburan menyemburat. Sebuah lubang bergaris tengah tiga depa segera menganga lebar. Sementara itu si bocah perempuan bernama Roro itu sudah perdengarkan keluhannya, lalu tubuhnya roboh terguling dari atas batu besar itu.
Terperangah si Pendekar Bayangan…. Sepasang matanya terbelalak lebar melihat tubuh Roro terjungkal roboh akibat hantaman telapak tangan si Dewa Tengkorak. Sementara dia sudah pegangi lagi dadanya, yang seperti mau meledak. Pada jurus kesembilan dan kesepuluh itu tak dirasakan sedikitpun pukulan si Dewa Tengkorak mengenai tubuhnya. Akar tetapi Ki Bayu Sheta memang telah tak berdaya. Pukulan pada jurus ke tujuh tadi telah meremukkan bagian dalam tubuhnya.
Tampak angin pukulan Dewa Tengkorak yang menyerempet sedikit pada tubuhnya, telah membuat tubuh tua itu menjadi limbung dan segera roboh ke bumi. Sepasang matanya masih menatap pada Roro dan si Dewa Tengkorak. Akan tetapi melihat keadaan si Dewa Tengkorak yang tetap berdiri tak bergeming diatas batu itu, kakek ini perlihatkan senyumannya sambil meringis memegangi dadanya.
* * * * * * *
Rembulan semakin meninggi. dan malam semakin melarut. Suasana di atas Bukit Kera seperti penuh kemisteriusan. Karena kera-kera telah lari menjauh. Keadaan disekitar atas bukit itu seperti lengang, seolah tiada lagi kehidupan disana. Akan tetapi menjelang siang disaat Matahari sudah menggelincir naik, tampak sesosok tubuh bergerak-gerak seperti hidup.
Ternyata adalah si bocah perempuan tanggung bernama Roro itu. Satu keanehan ternyat telah terjadi diatas bukit itu. Kalau kedua tokoh Rimba Persilatan itu mati secara aneh. Bila kematian Dewa Tengkorak adalah dengan posisi berdiri seperti tengah melancarkan pukulan, adalah kematian Bayu Sheta si Pendekar Bayangan dalam keadaan terduduk dengan mimik wajah seperti orang tertawa. Roro belalakkan sepasang matanya yang membulat mengitari keadaan sekitarnya. Otaknya bekerja cepat memikirkan kejadian yang telah menimpa dirinya.
“He? masih hidupkah aku..?” Gumamnya lirih. Lengannya bergerak mencubit kulit tubuhnya, dan dirasakannya sakit. Kenyataan itu telah membuat dia mengambil kesimpulan bahwa dirinya masih hidup. Segera terbayang ketika si Dewa Tengkorak mencengkeram batok kepalanya. Ingatannya mendadak lenyap, karena kepalanya dirasakan berkunang-kunang dan dia sudah jatuh tak sadarkan diri.
Kini sepasang matanya jelalatan menatap pada tiga sosok tubuh yang kesemuanya telah tak bergeming. Melihat si Dewa Tengkorak yang masih berdiri tegak dengan posisi orang memukul dengan rentangkan sebelah tangannya, Roro jadi terpaku.
“Masih hidupkah si iblis tua bangka ini?” Desisnya pelahan. Dan tubuhnya sudah bergerak melompat berdiri. Pertama-tama yang diburunya adalah kearah Ki Bayu Sheta. Akan tetapi ketika dia menyentuh dan meraba tubuh si Pendekar Bayangan ternyata sudah tak bernyawa lagi. Tercenung si gadis tanggung ini. Air matanya sudah kembali menggenang. Lalu bergerak melompat kearah mayat gurunya si Maling Sakti menatapnya sejenak dan duduk bersimpuh dengan linangan air mata.
Tiba-tiba kembali dia palingkan wajahnya menatap pada si Dewa Tengkorak. Aneh!? Mengapa manusia iblis itu tak juga gerakkan tubuh? Apakah diapun sudah mati? Berkata dalam hati si gadis tanggung ini. Dan dengan sebat Roro sudah melompat kehadapan mayat si Manusia Jerangkong itu. Nyatalah setelah diperhatikan kalau tubuh Si Dewa Tengkorak pun sudah tak bernapas lagi. Dan kematiannya memang sungguh aneh.
Sementara Roro sendiri tengah tercenung, karena dirasakannya tubuhnya menjadi amat ringan sekali ketika melompat-lompat. Justru beberapa kali dia hampir terhuyung jatuh karena merasa kelebihan tenaga. Tanpa disadari kalau sebenarnya tenaga dalamnya telah bertambah 10 kali lipat.
Disamping merasa heran, juga merasa sedih sekali melihat semua orang yang disayanginya telah tewas. Kini Roro palingkan wajahnya menatap pada sebuah lubang besar dihadapannya. Sesuatu tampak tersembul ditengah lubang yang hangus kehitaman itu.
“Apakah itu bukannya Tombak Pusaka si Dewa Tengkorak?” Bertanya hatinya. Dan Roro sudah beranjak mendekati. Lalu melompat kedalam lubang. Benarlah apa yang diduganya. Tak ayal dia sudah gerakkan tubuh membungkuk, dan lengannya bergerak mencabut benda itu hingga tersembul seluruhnya batang Tombak Pusaka si Dewa Tengkorak itu.
Kini dia kembali termangu-mangu. Apakah yang akan dilakukannya lagi? Ternyata Roro berotak cerdas, segera dia berfikir kalau lubang besar itu pasti akibat hantaman lengan si Dewa Tengkorak. Apakah jurus kesepuluh dari ilmu pukulan sakti bernama 10 Jurus Pukulan Kematian si Dewa Tengkorak itu justru membuat kematiannya? Berfikir Roro. Dan lubang ini adalah dipergunakan untuk mengubur jenazahnya? Pikirnya lagi.
Namun Roro tak dapat berlama-lama untuk berfikir, karena dia sudah bergerak melompat keluar dari dalam lubang. Dan selanjutnya Roro sudah bekerja cepat untuk mengangkat ketiga jenazah. Satu-persatu dimasukkan kedalam lubang besar itu. Tak lama ketiga jenazah sudah terbaring membujur didalam lubang. Gadis tanggung ini memandanginya dengan sepasang mata berkaca-kaca. Hatinya kembali berkata.
“Kakek Bayu Sheta, guru… dan kau Dewa Tengkorak! Walaupun kalian adalah bermusuhan dimasa hidup, akan tetapi rupanya Tuhan sudah mentakdirkan kalian wafat dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan jasad kalian terkubur dalam satu lubang.”
Sesaat Roro sudah tundukkan wajah dengan sepasang mata sudah menjadi basah oleh genangan air mata. Namun cuma sesaat, karena Roro sudah hapuskan air matanya. Lalu mulailah bekerja cepat menguruk lubang kubur menutupi ketiga jenazah itu dengan tanah. Selang tak berapa lama pekerjaannya pun selesailah sudah.
Kini segunduk tanah telah tersembul diatas Bukit Kera. Dan seorang dara tanggung duduk bersimpuh dihadapan gundukan tanah itu. Bibirnya berkemak-kemik seperti memanjatkan doa. Tak berapa lama dia sudah bangkit berdiri. Lengannya mencekal sebatang Tombak Pusaka si Dewa Tengkorak yang berwarna hitam legam itu.
Setelah berfikir sejenak, tombak itu segera ditancapkan ke atas gundukan tanah setelah dengan seolah menjadikan tombak itu sebagai batu nisan. Lalu gadis tanggung itu balikkan tubuh. Wajahnya menengadah ke langit dengan pejamkan mata, dan terdengar suara helaan napasnya. Tak lama dia segera menindakkan kaki melangkah meninggalkan gundukan tanah itu. Akan tetapi baru sepuluh langkah dia sudah hentikan lagi tindakannya. Telinganya seperti mendengar satu suara aneh yang menyusup ke daun telinganya.
“Aiiih, bocah tolol…! Tombak Pusaka si Dewa Tengkorak itu sungguh sayang kalau dijadikan batu nisan! Mengapa tak kau bawa saja sebagai kenang-kenangan..?”
Tentu saja Roro jadi melengak heran. Suara siapakah gerangan yang menyusup ke telinganya? Pikir Roro. Akan tetapi Roro memang tak perlu berfikir lebih jauh. Hatinya sedang dilanda kesedihan. Dia berpendapat suara itu adalah suara hatinya sendiri. Oleh sebab itu segera dia balikkan tubuh, dan kembali beranjak mendekati gundukan tanah itu. Dan sekali lengannya bergerak, Tombak Pusaka itu telah dicabutnya lagi.