INGIN kencang membersit dari arah selatan dan dari kejauhan sudah terdengar deburan-deburan ombak yang melanda karang. Dua sosok tubuh itu berlompat-lompatan saling kejar dibarengi suara-suara bentakan dan tawa cekikikan. Ternyata mereka adalah dua orang wanita. Kalau yang seorang adalah seorang gadis tanggung yang tak lain adalah Roro adanya, tapi yang seorang lagi adalah seorang wanita berusia sekitar 30 tahun.
Wanita ini memakai baju sutera warna merah. Rambutnya memakai dua buah konde dikiri-kanan yang kedua kondenya dibeliti oleh pita berwarna merah. Sikapnya amat genit luar biasa. Sementara pada lengannya terdapat dua potong benda sepanjang satu depa. Ternyata kedua benda itu tak lain dari tombak pusaka si Dewa Tengkorak, yang entah bagaimana telah menjadi dua bagian. Sementara si gadis tanggung bernama Roro itu tengah mengejarnya dengan melompat-lompat disertai bentakan-bentakan keras.
“Hihihi… hihi… Tombak Pusaka ini toh bukan milikmu, mengapa tak kau biarkan aku yang merawatnya..?” Berkata si wanita genit itu. Suaranya terdengar aneh bagi pendengaran Roro, karena terkadang kecil terkadang besar mirip laki-laki.
Si gadis tanggung ini plototkan matanya dengan wajah gusar. Beberapa puluh kali lompatan sudah dilakukan untuk mengejar wanita yang telah merebut potongan tombak itu dari tangannya, akan tetapi wanita itu mempunyai gerakan aneh. Hingga selalu dia tak berhasil merebut kembali benda itu. Kiranya sewaktu Roro tinggalkan Bukit Kera, diam-diam telah dikuntit oleh sesosok tubuh yang tak lain dari wanita aneh ini.
Ketika Roro ditengah perjalanan berhenti untuk melepas lelah dan duduk dibawah pohon, lengannya telah iseng mempermainkan tombak hitam itu. Tak dinyana Roro berhasil menemukan kejanggalan pada bagian tengah tombak, yang ternyata besinya agak tebal dengan dua guratan melingkar. Rasa penasarannya membuat dia memperhatikan, dan menyelidiki kedua guratan ditengah batang tombak.
Ternyata kemudian dia berhasil memutarkan sebagian batang tombak, yang ternyata bagian tengahnya itu merupakan sambungan. Sayang disaat dia tengah mau menyelidiki lebih lanjut pada bagian tengah tombak yang berlubang, telah berkelebatlah sebuah bayangan merah menyambar kedua potongan tombak itu.
Baca novel ini di Temanin.site
Tentu saja Roro jadi terkejut, karena tahu-tahu kedua potong benda ditangannya telah lenyap dan berpindah tangan. Dengan gusar dia melompat dan mengejar si bayangan merah. Semakin lama semakin menjauh, hingga dari mulai matahari separuhnya dari atas kepala hingga sampai menjelang senja mereka berkejaran.
Ternyata keduanya telah tiba disatu daerah pantai. Itulah daerah Pantai Selatan, yang ombaknya sebesar-besar bukit bergulung-gulung menyeramkan. Roro yang sedianya akan kembali ke lereng Rogojembangan, jadi terkecoh karena mengejar si wanita aneh ini. Rasa penasarannya serta kemendongkolan hatinya untuk kembali merebut tombak itu membuat dia tak berhenti mengejar. Bahkan selama berkejar-kejaran itu Roro telah lancarkan serangan-serangan hebat.
Tenaga dalamnya yang telah bertambah 10 kali lipat itu amat menguntungkan Roro. Karena disamping tenaga hantaman lengannya menjadi berlipat ganda, dia juga dapat melakukan lompatan-lompatan mengejar si wanita genit itu. Tekad Roro telah bulat untuk merebut kembali Tombak Pusaka itu.
Akan tetapi amat diherankan karena selalu saja serangannya lolos tanpa dapat mengenai sasarannya, ataupun menyentuh seujung rambutpun tubuh wanita aneh itu. Demikianlah hingga mereka telah tiba diatas tebing karang di Pantai Selatan.
“Hihihi… bocah manis! Tenaga dalammu amat hebat! Rupanya si Dewa Tengkorak telah mewariskan tenaga dalamnya padamu! kau sungguh beruntung, bocah! Tapi… benda ini kau biarkanlah untukku! Aku akan menyimpannya untuk kenang-kenangan..!” Berkata si wanita aneh itu dengan senyum genit dan menimang-nimang benda itu bahkan menciuminya.
Roro jadi semakin mendongkol. Tiba-tiba dia sudah lakukan bentakan keras seraya melompat menerjang. “Kau boleh ambil benda itu setelah kau dapat jatuhkan aku!” Bentaknya. Dan….
Wukkk! Wukkk..!
Dia sudah kirimkan serangan dahsyat. Lagi-lagi terjadi keanehan, karena si wanita itu cuma melenggang-lenggokkan tubuhnya seperti orang menari. Namun serangan beruntun Roro ternyata telah luput. Semakin menggebu kepenasaran Roro, hingga dia telah keluarkan seluruh kepandaiannya menerjang si wanita aneh yang genit luar biasa itu. Suara-suara teriakan dan cekikikan terdengar silih berganti.
Dan diatas bukit Pantai Selatan itu seperti ada dua bayangan saja yang terlihat berkelebatan. Sementara di bawah tebing suara deburan ombak Pantai Selatan yang bergulung-gulung berhempasan menerjang batu karang. Hingga suatu saat tiba-tiba Roro terpekik, karena dia telah kelebihan melompat tanpa mampu menahan tubuhnya lagi. Dan terjerumuslah si gadis tanggung itu ke bawah tebing karang. Lalu sekejap tubuhnya telah lenyap ditetan ombak ganas.
“Hihihi… bagus! akan kulihat apakah kau mampu menyelamatkan diri?” Berkata si wanita aneh. Dan sekejap tubuhnya telah melesat dari situ, lalu lenyap dibalik batu tebing yang bertonjolan.
Tubuh Roro si bocah perempuan tanggung itu timbul tenggelam dihantam ombak yang bergulung-gulung. Apakah Roro akan mudah saja menghadapi maut yang akan merenggut nyawanya? Tidak! Kekerasan hatinya telah mengalahkan segalanya. Dengan patokan, sebelum ajal berpantang mati! Roro berusaha berenang, walau beberapa teguk air telah lewat masuk tenggorokannya.
Segera teringat sepintas disaat menggoda Ginanjar dengan menyelam ke dalam air, kemudian menarik kaki bocah laki-laki itu. Dan Ginanjar berteriak-teriak ketakutan. Roro telah disangka Hantu Air yang biasa mengganggu orang mandi dekat air terjun itu. Ingatan itu membangkitkan semangat Roro untuk bisa hidup. Segera diatahan napas, dan menyelam sedalam mungkin ke dalam air. Sepasang matanya dibentangkan lebar-lebar. Terasa perih, karena air laut memang asin berbeda dengan air sungai.
Namun tekad untuk hidup menggebu-gebu didada Roro. Dipaksakannya untuk tetap dapat membuka matanya, hingga lambat laun rasa perih dimatanya itupun sudah tak terasakan lagi. Dengan berenang cepat dibawah air itu memang Roro berhasil menghindari arus dari ombak ganas diatas permukaan. Karang demi karang dibawah air terus dilewati.
Tiba-tiba tercekat hatinya melihat ada sebuah terowongan didasar air. Bergegas dia berenang kesana dengan tenaga sekuat-kuatnya. Dadanya sudah terasa sesak karena menahan napas, tapi dengan sekuat tenaga dia mencoba bertahan. Bagai seekor ikan Hiu yang meluncur diantara ikan-ikan kecil lainnya didasar laut itu, tubuh Roro sudah meluncur melewati terowongan. Ombak santar yang terasa mengganggunya mendadak jadi hilang.
Kembali dia enjot tubuh untuk berenang sekuat-kuatnya, karena tenaganya sudah teramat lemah. Dadanya terasa semakin sesak, seperti mau pecah. Kekuatannya untuk menahan napas sudah mencapai klimax, dan dia memang sudah tak sanggup untuk bertahan lagi. Terowongan itu sudah terlewati, akan tetapi Roro sudah kehabisan napas. Untuk menyembul kepermukaan pun sudah tak sanggup. Terpaksa dia biarkan tubuhnya mengapung sendiri, dan dua tiga teguk air lewat kembali masuk ketenggorokannya.
Pandangannya sudah menjadi gelap, kepalanya terasa berat. Dan si gadis tanggung ini sudah pejamkan matanya karena tak mampu lagi untuk membuka matanya. Maut seperti akan segera tiba diruang matanya. Akan tetapi takdir agaknya belum menentukan sang dara tanggung itu harus mati didasar air, karena tampak tubuh yang sudah tak berdaya itu pelahan-lahan melambung keatas.
Dan selang sesaat antaranya sudah tersembul kepermukaan air. Roro memang sudah hampir tak sadarkan diri, akan tetapi disaat kepalanya menyembul keatas permukaan air, masih terlintas setitik fikiran jernih dibenaknya. Segera dia gerakkan kepala untuk menghirup udara. Begitu temukan udara segar, semangat bocah perempuan ini timbul lagi. Segera digapaikan kedua lengannya agar tubuhnya dapat terus mengapung, dan sedot udara sebanyak-banyaknya.
Akhirnya diapun membuka sepasang matanya. Ternyata telah berada dalam sebuah ruang didasar tebing karang terjal. Semangat hidupnya kembali muncul. Segera dia berenang ke tepi dengan tubuh lemah lunglai, dan kakinya sudah menyentuh pasir halus ditempat yang dangkal. Terdengar keluhan ketika tubuhnya dijatuhkan ketepi pasir dengan perasaan lega, dan Roro sudah pejamkan matanya untuk menarik napas dalam-dalam.
Entah berapa lama dia berbaring melepaskan kelelahan yang amat luar biasa, hingga sampai-sampai bocah perempuan itu tertidur lelap. Ketika Roro membuka matanya terkejutlah dia, karena melihat sesosok tubuh yang tak lain dari si wanita genit itu telah berdiri tersenyum menyeringai dihadapannya. Dengan gusar Roro sudah gerakkan tubuh untuk bangkit menyerang.
Akan tetapi alangkah terkejutnya dia mengetahui tubuhnya tak dapat digerakkan, bahkan dia sudah dalam keadaan terlentang diatas sebuah pembaringan dari batu persegi dengan keadaan tubuh telanjang bulat.
“Hihihihi… hihi.. bocah hebat! bocah hebat..! Kau benar-benar membuat aku mengiri!” Terdengar si wanita genit itu berkata. Sepasang matanya menjalari sekujur tubuh Roro dengan senyum tersungging dibibirnya. “Hehehe… aku memang sudah pastikan kau tak akan mampus..!” Sambungnya lagi, seperti seorang peramal yang sudah menentukan nasib manusia.
“Mampus atau tidak bukanlah urusanmu! Mengapa kau perlakukan aku begini? Lepaskan aku! Dan mari bertempur lagi! Apakah kau kira aku takut? Kau ternyata bisanya bermain curang, menawanku disaat aku tak sadarkan diri..!” Teriak Roro dengan sepasang mata melotot tajam pada si wanita aneh itu. Sementara hatinya berdebaran, entah akan diapakan tubuhnya yang telah dilucuti seenaknya begitu..?
“Hihihi… dalam bertempur mengapa harus pakai segala macam aturan? Kau sudah dapat kukalahkan, dan jadi tawananku! Mau kuapakan saja siapa mau larang? Hihihi… hihi..!” Kembali si wanita terpingkal-pingkal geli hingga tubuhnya sampai berguncangan. “Pakaianmu basah, dan sedang kujemur biar kering. Dan kau terpaksa kutotok dulu agar tidak menyusahkanku..!” Ujar si wanita aneh itu sambil beranjak meninggalkan Roro dengan melenggang-lenggok genit.
“Heeeiii!? Mau ke mana kau? Bebaskan aku…!” Teriak Roro sekuat-kuatnya.
Akan tetapi wanita itui cuma melirik genit, lalu menyelinap masuk ke sebuah ruangan goa. Roro mengeluh. Ya Tuhan, mengapa nasibku begini jelek…? Tak berapa lama wanita aneh itu sudah kembali dengan membawa sesuatu diatas piring dari kerang laut.
“Apa itu..?” Tanya Roro dengan mata membeliak. Dia sudah merasa yakin kalau si wanita yang telah menawannya itu pasti akan menyiksanya.
“Hihihi… ini makanan untukmu!” Sahutnya, seraya mendekati Roro. “Kau perlu mengganjal perut agar tidak mampus..!” Sambungnya lagi.
“Tidak! aku tak sudi! Siapa sudi diberi makan olehmu? Biarkan saja aku mampus, apa perdulimu..?” Teriak Roro dengan wajah cemberut kesal.
“Tidak! tidaaak! Aku tak sudi! lepaskan aku..!” Teriak Roro, seraya kerahkan tenaga untuk melompat bangun, dan gerakkan kepalanya menepis. Akan tetapi sedikitpun tubuhnya tak dapat digerakkan, cuma kepalanya saja yang bisa bergerak, akan tetapi itupun hampir tak bertenaga.
Namun makanan itu memang sudah masuk ke mulut Roro ketika si wanita itu dengan paksa telah menjejalkannya. Mendelik sepasang mata Roro, dan… Fruuuhh..! Roro sudah semburkan lagi makanan itu dari mulutnya. Rasa anyir dan bau memuakkan itu membuat dia mau muntah.