Empat Iblis Kali Progo Bab 10

SEJAK ditangkapnya Adipati Haryo Gawuk dan dijatuhi hukuman gantung oleh Baginda Raja Kerajaan Medang. Wilayah sekitar kekuasaan Kadipaten itu menjadi aman. Tiada lagi pemerasan-pemerasan yang dilakukan oleh para petugas pajak dan para petani dan pedagang. Rakyat amat berterima kasih pada pihak Kerajaan yang telah menindak tegas abdi-abdi Kerajaan yang menyeleweng.

Bahkan mereka juga dapat bernapas lega, karena tidak didengarnya lagi bencana-bencana seperti perampokan, pemerkosaan para gadis atau pemerasanpemerasan lainnya. Rakyat kembali bekerja dengan tekun menggarap sawah ladang pertaniannya.

Para saudagar tak lagi mengkhawatiri akan adanya perampasan harta bendanya, serta bermacam kesulitan yang sering dihadapi. Dan pada beberapa bulan kemudian, segera diadakan pengangkatan Adipati baru pengganti Adipati Haryo Gawuk. Tentu saja rakyat menyambut dengan gembira, karena mereka berharap Adipati pengganti ini benar-benar memperhatikan akan kesejahteraan rakyat wilayahnya.

Dalam upacara pengangkatan Adipati baru ini ternyata telah diadakan hiburan yang sengaja diadakan untuk menghibur rakyat. Berita adanya hiburan diwilayah Kadipaten Banjar Mangu segera tersiar ke beberapa daerah. Dan sudah tersiar beritanya bahwa yang akan menjabat sebagai Adipati di wilayah itu adalah seorang laki-laki yang masih berusia cukup muda, yaitu sekitar 30 tahun. Bernama SURA NINGRAT.

Pesta berlangsung meriah saat itu, dan sukurlah tak terjadi suatu keributan, karena para lasykar keamanan Kadipaten menjaga dengan ketat. Agaknya sejak ditangkapnya Adipati Haryo Gawuk, para begundal yang biasa mengganggu rakyat segera menyingkir jauh-jauh.

Demikianlah dengan resmi Adipati Sura Ningrat berhak menguasai beberapa wilayah, yang kemudian sejak dalam masa pemerintahannya, rakyat hidup sejahtera aman sentausa. Bahkan telah ditingkatkannya taraf hidup kaum petani yang ternyata banyak membantu Kerajaan dalam urusan pangan.

Baca novel ini di Temanin.site

* * * * * * *

Pemerintahan Sura Ningrat sebagai Adipati ternyata mengalami masa kejayaan sampai lebih dari lima belas tahun. Sayang Adipati yang gagah dan bertanggung jawab serta disenangi rakyatnya itu tak berumur panjang. Adipati Sura Ningrat wafat dalam usia cukup muda. Kesedihan melanda rakyat disekitar wilayahnya, yang mengalami masa berkabung sampai berlarut-larut.

Ternyata kemudian pengganti Adipati Sura Ningrat adalah seorang yang berbeda wataknya dengan Sura Ningrat. Yaitu Adipati Laksono. Peraturan-peraturan yang telah dibina Adipati Sura Ningrat telah banyak yang dirobah, dan ternyata cukup memberatkan rakyat dengan pajak yang cukup tinggi. Akan tetapi karena sang Adipati ini masih ada hubungannya dengan Baginda Raja Kerajaan Medang rakyat tak dapat berbuat apa-apa.

Walaupun keadaan rakyat jadi cukup menderita namun tak urung sudah pula berjalan masa pemerintahan sang Adipati itu sampai lebih dari tujuh tahun. Dan pada masa pemerintahan Adipati Laksono inilah kisah ini terjadi.

Kemunculan empat orang yang menamakan dirinya Empat Iblis Kali Progo telah menambah penderitaan rakyat disekitar wilayah Kadipaten Banjar Mangu. Ternyata keempat manusia berkepandaian tinggi itu mendiami gedung Kadipaten yang menghadap kearah barat. Sukar untuk ditolak kedatangan keempat orang itu yang telah menghadap pada sang Adipati sebagai tamu terhormat.

Karena disamping ilmunya yang tinggi, kedatangannya adalah atas utusan seorang pembesar Kerajaan, yang katanya untuk membantu menjaga keamanan diwilayah itu Karena disinyalir adanya desas-desus tentang pembangkangan rakyat atas tindakan sang Adipati Laksono.

Memang Adipati itu pernah mengirim utusan ke Kota Raja berkenaan dengan keadaan situasi di wilayahnya. Ternyata ada segolongan penduduk yang diam-diam menaruh kebencian pada sang Adipati. Yaitu berdasarkan sakit hati, karena seorang anak gadis dari penduduk telah dipaksanya menjadi istrinya. Tentu saja dengan janji-janji yang muluk.

Akan tetapi baru belakangan diketahui kalau gadis itu cuma jadi permainannya saja. Dan setelah bosan, segera dikembalikan pada orang tuanya dengan alasan yang tak masuk akal. Karena si wanita itu dituduh mencuri perhiasan istri tuanya. Dilain pihak ternyata mulai bermunculan para pemuda yang menentang secara sembunyi-sembunyi, karena ketidak adilan sang Adipati dalam menjalankan pemerintahannya. Bahkan mulai terasa keadaan yang tidak aman.

Usia sang Adipati Laksono itu sudah mencapai hampir lima puluh tahun. Seharusnya sudah diadakan penggantian sesuai undang-undang. Kalau bukan keturunannya sendiri yang menggantikannya, tentu masih kerabatnya. Atau kalau tak ada kerabatnya tentu orang lain atas pilihan dari rakyat yang dipandang berwibawa untuk menduduki jabatan tersebut.

Bercokolnya empat orang yang mempunyai gelaran menyeramkan itu ternyata menambah keresahan rakyat diwilayah itu. Mulailah banyak terjadi kekerasan dan pertumpahan darah. Dan kesemuanya itu bila terjadi, tak ada keputusan yang adil terhadap rakyat dari Adipati Laksono. Setelah bermacam persoalan itu langsung saja terkubur ke laut.

* * * * * * *

Hari masih siang… akan tetapi wilayah Kota Raja telah ramai dikunjungi orang dari berbagai tempat. Ternyata hari itu adalah hari bersuka ria, karena malam nanti akan diadakan pesta keramaian dengan meriah diberbagai tempat untuk menyambut hari ulang tahun Kerajaan Medang.

Seorang pemuda gagah berpakaian serba putih berjalan agak kaku memasuki tempat keramaian. Di pinggangnya tersarang sebuah pedang yang gagang sarungnya sengaja dibungkus oleh secarik kain agar tak begitu menyolok. Sebentar-sebentar langkahnya terhenti untuk memandang atau memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Kebanyakan yang diperhatikannya adalah seorang wanita atau gadis. Siapakah gerangan pemuda gagah ini…?

Ternyata tak lain dari Ginanjar adanya. Murid si Pendekar Bayangan Ki Bayu Sheta ini telah berdiam di Kota Raja selama hampir dua tahun dirumah sahabat gurunya Ronggo Alit. Ternyata untuk menemukan rumah sang “paman” itu tak begitu sulit.

Agaknya Ginanjar cukup betah berdiam dirumah Ronggo Alit, yang ternyata telah menerima kedatangannya dengan ramah tamah. Tenaga anak muda ini cukup dibutuhkan, sehingga dapat membantu-bantu pekerjaannya, disamping menambah pengertiannya akan ilmu obat-obatan. Agaknya Ronggo Alit telah mengetahui akan perihal perjanjian Ki Bayu Sheta sahabatnya itu dengan si Dewa Tengkorak. Akan tetapi tak menceritakannya pada Ginanjar. Cuma terlihat Ronggo Alit menghela napas dengan menampilkan wajah sedih.

Pertanyaan Ginanjar tentang sang paman gurunya yang bernama si Maling Sakti itupun dijawabnya dengan menggeleng kepala, walau dia telah mengetahui keadaan sebenarnya. Ternyata Ronggo Alit telah dipesan sebelumnya oleh Si Maling Sakti alias Jarot Suradilaga harus mencampuri urusan si Pendekar Bayangan. Namun tak mau melibatkan orang lain. Dengan tidak munculnya kedua tokoh bekas Ketua Partai Kaum Pengemis itu, sudah dipastikan tewas.

Demikianlah untuk menutupi kesedihan hatinya, Ronggo Alit sengaja menyibukkan dengan urusannya. Dan Ginanjar giat membantu usahanya selama ini. Namun dalam setiap kesempatan selalu Ronggo Alit menyuruh Ginanjar mencari dan menyelidiki kemana perginya saudara seperguruannya yang bernama Roro itu, sambil mencari bahan obat-obatan.

Akan tetapi sampai hampir dua tahun tetap saja tak ada beritanya. Dalam usia Ronggo Alit yang semakin menua dan tiadalah orang tua itu mempunyai anak laki-laki, Ginanjar merasa berat untuk meninggalkannya. Walau hatinya sudah menggebu untuk pergi mengembara mencari saudara seperguruannya.

Hari itu Ginanjar telah minta izin untuk melihat keramaian, serta menyelidiki siapa tahu bisa menemukan Roro. Karena dengan adanya keramaian diberbagai tempat diwilayah Kota Raja itu, akan banyak pengunjung berdatangan. Demikianlah, Ginanjar yang telah menjadi seorang pemuda remaja itu, pasang mata meneliti setiap wanita atau gadis yang berlalu lalang ditengah keramaian pasar.

“Ah, seandainya Roro masih hidup dan aku menjumpainya, tentu aku akan pangling. Pasti dia sudah menjadi seorang gadis yang cantik jelita..!” Desis suara Ginanjar pelahan sambil termangu-mangu. Namun sesaat dia sudah beranjak ke tengah pasar untuk menyelidiki lebih banyak, serta melihat persiapan keramaian malam nanti.

Menjelang agak senja suasana dikota itu semakin ramai. Ginanjar yang merasa perutnya lapar, segera memasuki sebuah restoran yang paling ramai. Sementara memesan makanan sepasang matanya selalu jelalatan memperhatikan setiap pengunjung wanita. Namun tetap saja orang yang dicarinya tak kelihatan.

Selesai bersantap Ginanjar segera ayunkan langkah lagi. Kali ini yang ditujunya adalah ke tempat yang agak sepi dibelakang pasar. Karena ditempat sepi ini dia berpendapat dapat menemukan ilham untuk mencari ke arah mana disekitar wilayah Kota Raja itu.

Tiba-tiba diujung sebuah gang terdengar suara teriakan, namun sesaat kembali melenyap. Seperti suara teriakan seorang wanita…? Berkata Ginanjar dalam hati. Karena yang tengah dicarinya adalah seorang wanita, tentu saja dia sudah bergegas untuk melihat. Lorong dibelakang pasar itu tampak sunyi. Akan tetapi sepasang mata si pemuda ini telah melihat sesuatu yang bergerak-gerak, yang ternyata adalah sepasang kaki. Seperti sosok tubuh seseorang yang baru saja diseret masuk ke sebuah pintu rumah petak.

Ginanjar jadi curiga, dan segera berkelebat melompat dengan tak menimbulkan suara. Dari sebuah jendela kecil dia telah melihat apa yang tengah terjadi sebenarnya. Sepasang mata pemuda ini jadi melotot dengan wajah gusar, karena terlihat tiga orang laki-laki berwajah penuh cambang bauk tengah berusaha membukai pakaian seorang gadis yang telah dibekap mulutnya.

“Hai! lepaskan dia..!” Ginanjar telah keluarkan bentakan keras seraya melompat ke depan pintu.

Tentu saja membuat ketiga laki-laki itu jadi terkejut, dan serentak sudah mencabut senjata dari balik pakaiannya. Tanpa keluar suara dua orang telah menerjang keluar setelah yang seorang memberi isyarat. Pemuda ini memang baru pertama kalinya mengalami pertarungan, sepasang matanya dipergunakan baikbaik. Dan dengan gesit dia sudah berhasil mengegos serta tepiskan tangannya membuat kedua serangan itu luput. Dan bahkan dengan cepat sekali sepasang lengannya kembali bergerak menghantam.

Buk! Buk…!

Terdengar keduanya mengeluh dibarengi dengan robohnya tubuh si penyerang. Melihat kedua kawannya jatuh nyusruk dengan cuma beberapa jurus, si laki-laki yang satunya ini melompat menerjang dengan belati panjangnya. Namun Ginanjar memang telah mempersiapkan diri dari segala kemungkinan. Tubuhnya melompat ke samping. Sebelah kakinya bergerak menghantam perut orang itu.

Bekk…!

Terdengar suara laki-laki itu mengeluh, dan tubuhnya sudah terhuyung. Sebelah lengannya memegangi perutnya yang jadi mulas dengan wajah menyeringai kesakitan.

“Keparrat..!” Berdesis suara orang itu, seraya tiba-tiba putarkan tubuh untuk mengirim serangan beruntun menabas kaki dan menusuk ke arah tenggorokan.

Ginanjar gerakkan kakinya untuk melompat, sambil doyongkan tubuh ke belakang. Loloskan serangan itu. Tiba-tiba dia telah keluarkan bentakan keras, dan kirimkan pukulan jarak jauh.

Buk…!

Laki-laki itu terhuyung ke belakang mau jatuh, dan saat itu sebelah kaki pemuda itu telah menghantam telak mengenai dadanya.

Dhess…!

Tak ampun laki-laki brewok itu roboh terjungkal. Sementara dua kawannya telah bangkit lagi. Melihat si pemuda berdiri tegak dengan bertolak pinggang, nyalinya sudah luntur. Serentak mereka segera melarikan diri. Sedangkan si lelaki barusan sudah bangkit lagi dengan belati panjangnya, segera ngeloyor pergi dengan terhuyung-huyung menyusul kedua kawannya.

Ginanjar perlihatkan senyumnya, lalu balikkan tubuh untuk melihat wanita tadi. Tampak seorang gadis yang berwajah cukup cantik tengah menatapnya disudut ruangan. Wajahnya pucat, rambutnya kusut masai. Sementara kedua lengannya disilangkan diatas dada menutupi payudaranya yang sedikit tersembul, karena pakaiannya telah robek sebagian.

“Ah, te… terima kasih atas pertolonganmu tuan..!” Berkata si gadis dengan mengangguk, seraya perlihatkan senyumannya. Sekilas pandangan mata Ginanjar mampir juga ke arah bagian yang sedikit terbuka itu, tapi segera palingkan pandangannya ke lain arah.

“Sudahlah! Siapa namamu? dan dimanakah rumahmu..?” Bertanya Ginanjar.

“Namaku… Kasmini! Rumahku… ng… cukup jauh dari belakang pasar ini!” Menyahut si gadis. Lalu ceritakan kejadiannya secara singkat pada Ginanjar hingga dia disekap ditempat kosong itu.

Karena khawatir kalau para bajingan itu mengganggu lagi, terpaksa Ginanjar mengantarkannya untuk kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan Kasmini segera ceritakan tentang keadaan hidupnya. Terperangah pemuda itu mendengarnya, karena ternyata Kasmini seorang gadis piatu yang cuma hidup berdua dengan seorang kakeknya, yang sudah teramat tua dan sakit-sakitan.

Kasmini terpaksa mencari nafkah dengan membantu-bantu orang, seperti mencuci pakaian dan lain-lain. Akan tetapi dia hanya menerima upah saja. Boleh diumpamakan sebagai pembantu yang tidak tetap. Kepergiannya adalah untuk membeli obat sepulang dari bekerja, karena penyakit sang kakek kambuh lagi. Akan tetapi telah terjadi kejadian seperti yang dialaminya tadi, yang dilakukan oleh para begundal pasar yang sudah lama mengincarnya.