PEPERANGAN paling besar yang dihadapi manusia adalah, peperangan bagaimana mengalahkan Hawa Nafsunya sendiri! Karena di sanalah manusia bisa memilih untuk dirinya menjadi malaikat, ataukah menjadi setan…!
“Kalau kau mau menjadi seorang Pendekar, jadilah yang baik! Kalau kau sudah mengetahui tujuan kehidupan ini adalah untuk mati, maka isilah jalan hidupmu dengan amal kebaikan…! Mengumbar nafsu tak lebih dari menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam api. Dan kalau kau sudah tahu api itu panas. Jangan coba kau menjamahnya…!”
Gadis ini manggut-manggut seorang diri, dan terdengar ia menghela nafas seraya membuka sepasang kelopak matanya. Dia seorang gadis berwajah cantik rupawan. Kecantikan alami yang telah dianugerahkan Tuhan padanya. Wajah ayunya menampilkan kesegaran setiap mata yang memandang. Dialah Roro Centil. Sang Pendekar Wanita Pantai Selatan!
Gadis ini duduk di ujung tebing karang, menghadap ke laut lepas. Di bawahnya mendebur keras ombak-ombak laut Pantai Selatan. Sementara burung-burung camar beterbangan di atas buih-buih air dan ombak, seperti tak mengenal takut akan kena terhantam gelombang dahsyat itu. Gadis ini tengah duduk tafakur mengingat wejangan dari guru-gurunya. Yang kesemuanya menitik beratkan pada sifat-sifat kependekaran.
Setelah si Maling Sakti alias Jarot Suradilaga. Kemudian Ki bayu Seta alias si Pendekar Bayangan. Kemudian yang terakhir adalah seorang guru yang berjulukan si Manusia Aneh Pantai Selatan. Yang belakangan ini adalah memang seorang yang aneh sesuai dengan julukannya. Karena sang Guru tak diketahui jelas jenis kelaminnya. Apakah wanita, apakah laki-laki. Yang jelas Guru Roro Centil adalah seorang banci.
Sejak Roro Centil berhasil menumpas empat tokoh golongan hitam, yang bergelar Empat Iblis Kali Progo, gadis Pendekar yang berwatak aneh ini kembali menghilang bagai ditelan bumi. Tentu saja keadaan di Rimba Persilatan jadi heboh!
Baca novel ini di Temanin.site
Nama Roro Centil si Pendekar Wanita Pantai Selatan telah menjadi pembicaraan di mana-mana. Bahkan pendekar sampai ke beberapa tempat. Kehebatan ilmunya yang amat mengerikan, dan kemunculannya yang bagaikan menjelma di kalangan Rimba Hijau, membuat kaum penjahat mulai menjadi kebat-kebit hatinya.
Tentu saja hal itu membuat kekhawatiran, karena periuk nasinya telah terancam kepunahan. Karena mereka sadar kalau periuk nasi itu mereka dapatkan dengan jalan tidak halal. Yaitu dengan memeras penduduk. Merampok, membegal dan bahkan terkadang membunuh demi keuntungan yang berlipat ganda.
Tapi di samping itu kaum golongan Putih, juga setiap insan yang rindukan ketenteraman, merasa amat gembira dengan munculnya seorang Pendekar Pembela Keadilan. Bahkan ternyata di banyak tempat Roro Centil juga diam-diam mulai mengamalkan tugas kependekarannya menegakkan keadilan di Jagat Raya ini.
Namun sejak setahun ini, tak ada terdengar beritanya mengenai sepak terjang si Pendekar Wanita itu. Membuat para kaum golongan penjahat mulai lagi membentangkan sayap-sayapnya membuat kericuhan. Perbuatan mereka kian brutal. Walaupun tak kurang Kaum Pendekar lainnya yang berusaha memberantas bermacam kejahatan.
Ke manakah gerangan lenyapnya si Pendekar wanita Pantai Selatan itu. Kiranya selama itu Roro Centil kembali dalam gemblengan sang Gurunya si Manusia Aneh Pantai Selatan alias si Banci. Marilah sejenak kita kembali pada kisah setahun belakangan ini, di mana Roro Centil digembleng di dasar tebing pantai karang terjal itu.
Agaknya si Manusia Aneh Pantai Selatan itu kurang setuju dengan ilmu yang telah dipakai Roro menumpas ke Empat Iblis Kali Progo. Karena Roro mempergunakan jurus-jurus si Dewa Tengkorak yang keji. Kiranya diam-diam sang Guru selalu mengikuti sepak terjang muridnya. Hingga ketika Roro kembali, sang Guru sudah menegurnya.
“Roro…! Bukan aku menyalahkanmu untuk mempergunakan jurus-jurus si Dewa Tengkorak. Akan tetapi jurus itu memang terlalu keji. Juga dikhawatirkan orang akan menyangka kau muridnya si Dewa Tengkorak. Karena bukan mustahil manusia yang mempunyai banyak istri itu, juga memberikan ilmu itu pada istri-istrinya. Seandainya mereka yang berbuat untuk kejahatan, salah-salah kau yang dituduh melakukan kejahatan…!”
Demikian ujar si manusia banci pada suatu hari. Roro Centil manggutmanggut mendengarkan petuah gurunya.
“Memang sebenarnya kau belum kuizinkan untuk keluar dari tempat ini. Akan tetapi aku tengah mencoba menguji tindakanmu. Ternyata kau tidak menyelewengkan kepandaianmu untuk berbuat hal-hal yang tidak baik. Seandainya kau pergunakan untuk kejahatan, tentu sudah siang-siang tadi kau kukirim ke Akhirat…!” Kembali sang Guru berkata dengan suara dingin.
Bergidik juga Roro Centil. Karena di luar sepengetahuannya, si nenek yang awet muda ini telah mengikuti sepak terjangnya.
“Ilmu 10 Jurus Pukulan Kematian itu memang hebat. Akan tetapi banyak kelemahannya. Di samping pada jurus itu membahayakan bagi si pemakainya. Kini saatnya bagimu mempelajari jurus-jurus ciptaanku yang memang menjadi simpananku. Tentu saja akan kuwariskan padamu…! Cuma aku ingin kau membunuhku terlebih dulu dengan Ilmu Ciptaan si Dewa Tengkorak itu…!” Ujar wanita banci itu.
Terkejut Roro Centil mendengarnya…. hingga sampai ia berteriak kaget. “Membunuhmu. Guru…?” Sentak Roro Centil hampir tak percaya.
Akan tetapi si Manusia Aneh Pantai Selatan ini sudah membentak dengan keras. “Benar…! Kau harus membunuhku…! Dan kau harus pergunakan jurus-jurus keji si Dewa Tengkorak itu untuk menyerangku!”
Hening sejenak. Wanita Aneh itu tiba-tiba mendongak ke atas menatap langit. Lalu terdengar suara tertawanya yang seperti geli. Akan tetapi seperti juga sebuah tangisan. Roro Centil cuma bisa menatap dengan mulut ternganga. Sejuta pertanyaan memenuhi benaknya. Sanggupkah aku melakukannya…? Berfikir Roro. Serasa permintaan yang tak masuk akal. Aneh, dan menakutkan.
Akan tetapi detik itu juga telah terdengar lagi bentakannya; “Sekarang juga kau harus melakukannya…! Kalau kau berkeberatan, silahkan kau keluar dari tempat ini. Dan jangan kau akui lagi aku Gurumu. Tapi kalau kau seorang murid yang berbakti lekas kau lakukan itu, bocah tolol… !”
Di luar dugaan, tiba-tiba Roro Centil bangkit berdiri. Sepasang matanya menatap tajam pada gurunya. Dan ia sudah berkata dengan tegas. “Baik…! Aku akan turuti perintahmu untuk membunuhmu. Guru…! Cuma kumohon kau maafkan aku atas apa yang aku lakukan ini…!”
Seraya berkata, Roro Centil sudah menerjang dengan ganasnya. Sebelah lengannya bergerak mencengkeram batok kepala si Banci. Dan sebelah lagi meluncur mengarah jantung. Akan tetapi dengan perdengarkan tertawa cekikikan, si Manusia Aneh ini sudah pergunakan Jurus Tarian Bidadari Mabuk Kepayang. Yang tentu saja cuma dengan gerakan seperti orang menari itu, semua terjangan Roro yang ganas itu dapat terhindar. Jurus demi jurus berlalu.
Namun kesemua gerakan terjangan Roro Centil juga tak mampu menembus atau membuat tubuh si manusia Banci ini kena terhantam. Membuat Roro Centil semakin penasaran. Dan segera lakukan terjangan yang lebih dahsyat lagi. Sehingga seandainya sedikit saja si Manusia Aneh Pantai Selatan lengah tak ampun lagi nyawanya akan melayang seketika.
Ternyata hal itu justru membuat Roro semakin kagum. Karena dengan mudah saja sang Guru dapat mengelakkan setiap serangan. Jurus keenam dan ketujuh telah segera dilancarkan. Roro Centil memekik keras disertai terjangan hebat. Agaknya kali ini si manusia Banci itu seperti lengah. Roro sendiri terkesiap. Namun ia tak mungkin untuk merobah serangan.
Buk… ! Terjangan hebat itu tak dapat dielakkan sang Guru. Tubuhnya kena terhantam, telak. Serangan kedua dan ketiga menyusul pula. Roro sudah pejamkan mata tak tega melihat nasib sang Guru, yang jadi terhuyung-huyung mau roboh. Akan tetapi di luar dugaan tenaga pukulannya tiba-tiba telah berbalik menghantam lagi ke arah Roro Centil. Terkesiaplah gadis ini. Untunglah dengan letikkan tubuhnya bersalto beberapa kali, Roro Centil berhasil menghindar.
Namun akibatnya adalah sangat mengerikan. Karena hantaman balik dari tenaganya telah membuat ambruknya karang di belakangnya. Yang segera saja terdengar suara bergemuruh ketika batu karang itu hancur. Masih beruntung Roro Centil keburu mengelak. Seandainya ia tidak waspada, maka tubuhnya sudah dapat dipastikan akan hancur luluh tak berbentuk lagi.
Pada saat itulah terdengar suara tertawa mengikik dari si Manusia Aneh Pantai Selatan itu. Tertawa yang geli sekali. Sehingga terpingkal-pingkal sampai air matanya bercucuran. Roro jadi melengak heran. Ia sudah jejakkan lagi kakinya di atas batu. Dan dengan sepasang mata melotot tak berkedip, saksikan Gurunya yang bertingkah aneh itu. Terdengar lagi suaranya yang bercampur geli.
“Hi hi hi… hi hi hi… Ternyata Ilmu si Dewa Tengkorak tak mampu membunuhku! Dan tak mampu melawan kehebatan ilmu Bidadari Mabuk Kepayangku ini. Hi hi hi… hi hi… Bagus, muridku! Kau telah penuhi permintaanku. Cukuplah sudah. Tahukah kau ilmu apa yang kupergunakan barusan…?” Tanya sang Guru dengan suara dingin. Roro Centil gelengkan kepalanya.
“Hi hi hi… Itulah Ilmu Ikan Hiu Balikkan Ekor…! Hebat bukan…?”
Roro jadi mengangguk-angguk dengan kagum, serta mengakui kehebatannya. Kembali sang Guru tertawa geli cekikikan. Seakan-akan merasa bangga sekali dengan ilmu ciptaannya. Seraya ia sudah berkata lagi;
“Jurus-jurus si Dewa Tengkorak yang terdapat dari dalam potongan gagang Tombak itu memang hebat. Akan tetapi bila dilawan dengan jurus Ikan Hiu Balikkan Ekor, akan sama dengan membunuh dirinya sendiri. Ketahuilah Roro, aku amat puas punya murid seperti kau. Akan tetapi kuminta agar kau tidak mempergunakan ilmu-ilmuku untuk hal yang tidak amat mendesak…!”
Roro manggut-manggut dengan perlihatkan senyumnya. “Tentu saja pesan Guru itu akan hamba junjung tinggi. Percayalah, aku tak akan mempergunakannya untuk hal yang bertentangan dengan kependekaran…!”
“Bagus, Roro…! Kini tunggulah sebentar. Akan kutunjukkan sebuah senjata istimewa yang telah ku ciptakan sebagai pelampiasan rasa keinginanku menjadi wanita…!” Selesai berkata, sang Guru telah kembali berkelebat ke dalam ruangan kamar Goa.
Roro Centil cuma bisa memperhatikan tingkah laku Gurunya, yang seperti amat sibuk sekali. Diam-diam ia menghela napas. Semoga saja sang Gurunya yang aneh ini tidak berubah lagi wataknya. Hingga Roro harus lebih hati-hati lagi untuk menghadapinya. Tak lama si Manusia Banci telah kembali lagi. Ternyata di tangannya membawa sepasang senjata aneh. Senjata itu berbentuk rantai dengan bandulnya. Tapi bentuk kedua bandulannya itu amat lucu, karena amat mirip dengan sepasang payudara wanita, lengkap dengan ujung putiknya. Sang Guru sudah berikan sepasang senjata itu pada si murid. Seraya berkata;
“Roro…! Senjata ini belum pernah kupergunakan di luar. Kaum Rimba Hijau tak seorang pun yang mengetahuinya selain kau! Nah kau boleh teliti sepasang senjata itu sementara aku akan mempersiapkan jurus-jurus pelajaran yang akan kau mulai pada malam nanti… !”
Selesai berkata sang Guru sudah kembali berkelebat masuk ruangan kamar goa karang itu, untuk selanjutnya tidak keluar lagi.
“Senjata aneh…!” Gumam Roro. Seraya memperhatikan, meneliti, dan membolak-balikkan senjata itu. Ternyata bandulan senjata itu terbuat dari baja tipis. Yang aneh adalah warnanya amat mirip dengan kulit manusia. Sedang rantainya terdapat tujuh buah, dengan pada ujungnya terdapat gagang dari baja berkilat berwarna putih. Pada ujung putik itu terdapat lima buah lubang kecil.
Roro yang tak mengetahui kegunaannya coba memutarkan senjata itu. Tiba-tiba terdengarlah suara berdengung tiada putusnya, seperti suara ratusan atau ribuan tawon. Terkejut Roro Centil. Ketika ia coba menyalurkan tenaga dalamnya pada sepasang senjata itu, segera membersit angin panas yang luar biasa. Namun Roro telah lindungi dirinya dengan aliran tenaga dalam berhawa dingin, sehingga pengaruh itu tak terasa.
Akan tetapi bila dipakai untuk menyerang lawan amatlah berbahaya. Selang sesaat, Roro hentikan permainannya. Dan coba pegang sepasang bandulannya. Ternyata bandulan senjata itu tidak lagi keras melainkan lunak, mirip sebuah bola karet saja. Diam-diam Roro Centil menyenangi sepasang senjata itu, yang tentunya tak begitu berbahaya, jika dipergunakan untuk menghajar batok kepala sebangsa keroco. Paling-paling orangnya bisa pusing tujuh keliling.
“Hi hi hi… Senjata yang lucu ini akan kuberi nama Si Rantai Genit…!” Berseru Roro dengan wajah tampak girang sekali.
Demikianlah sampai setahun Roro Centil berdiam di dasar lubang tebing karang Pantai Selatan. Dan selama itu tiada seorang pun mengetahui kalau si Pendekar Wanita Pantai Selatan Roro Centil, kembali digembleng oleh si manusia Banci. Hingga suatu hari.
“Roro…! Sebenarnya aku telah terkena pukulan beracun dari paderi-paderi Biara Welas Asih, di lereng Gunung Wilis. Pukulan itu amat menyesakkan dadaku. Akan tetapi aku inginkan kau tidak membalas dendam. Kuharap kau lupakan saja hal itu. Sebenarnya memang aku amat mencintai si Dewa Tengkorak…! Akan tetapi dia tak pernah menghiraukan diriku. Walau demikian sampai mati aku akan tetap mencintainya. Kini dia telah mati. Dan hanya wariskan tombak Hitam ini. Aku sudah cukup berbahagia bila kelak aku mati ditemani senjatanya…!” Berkata si Manusia Aneh Pantai Selatan, seraya menimang-nimang tombak hitam si Dewa Tengkorak, yang telah disambungkan kembali.
Roro Centil cuma bisa menatap lalu tundukkan kepala sambil tercenung, walau diam-diam ia terkejut mendengar Gurunya terkena pukulan beracunnya paderi-paderi Gunung Wilis. Setelah termenung beberapa saat, si manusia banci itu tiba-tiba tertawa geli sekali… tapi kemudian menangis terisak-isak. Hingga air matanya bercucuran.
Membuat Roro Centil jadi terpaku, tapi sudah segera menghiburnya. Roro menyadari kalau sang Guru ini telah terkena penyakit cinta, yang telah dipendamnya berpuluh tahun. Sehingga terkadang membuat si manusia banci ini bersikap manis terhadapnya namun terkadang membentak kasar. Juga adat dan kelakuannya aneh-aneh. Tentu saja Roro sudah hapal dengan perilaku gurunya.
“Sudahlah Guru…! Bukankah aku berada di sini menemanimu…! Aku akan tetap bersamamu sampai kapanpun… Kalau kau menghendaki…!.” Ujar Roro Centil.
Tapi tiba-tiba sang Guru bahkan membentak. “Bocah tolol! Sejak kapan kau berubah jadi tolol…? Hm, dengan kau berdiam di sini menungguiku, bukankah sama saja artinya dengan kau mengubur diri? Kalau kau mau mati baiknya matilah saja…!” Seraya berkata, lengan si manusia Banci sudah berkelebat menghantam kepala Roro. Akan tetapi sedikitpun Roro Centil tidak mengelak. Tentu saja hal itu membuat si Manusia Aneh jadi melengak. Dan dengan geram, menahan kembali serangannya. Ternyata si manusia aneh itu telah mendelik heran pada Roro.
“Mengapa kau tidak mengelak…?” Tanyanya.
Roro Centil tiba-tiba tertawa geli sekali. Kini si manusia aneh itu yang menatap dengan pandangan aneh pada muridnya.
“Kalau aku mengelak berarti aku tolol…! Makanya aku lebih baik memilih mati daripada hiduppun ternyata jadi manusia tolol…! Hi hi hi. Apakah pendapatku itu betul. Guru…?”
Tentu saja jawaban Roro membuat si manusia banci jadi terpaku bingung. Akan tetapi selang tak lama ia sudah tertawa gelak-gelak. “Hi hi hi … hi hi .. . Bocah to…eh! Ya! ya … kau memang bocah tolol … ! Tapi cerdik…! Kalau aku menghadapimu bicara terus menerus, bisa-bisa aku yang jadi tolol…! Sebaiknya besok pagi kau boleh tinggalkan tempat ini. Dan jangan kembali lagi…!” Ujarnya tiba-tiba dengan tatapan tajam, dan suara dingin. Terkejut Roro mendengar katakata Gurunya. Akan tetapi Roro Centil sudah segera bersujud mencium kaki Gurunya seraya berkata.
“Kalau kau menghendaki aku pergi, tentu saja aku tak dapat menolaknya. Guru…! Akan tetapi berat rasanya hatiku. Selama ini kau telah menumpahkan segala pikiranmu untuk mewariskan segenap ilmu padaku. Aku berjanji akan mempergunakan segenap kepandaian itu untuk membela panji-panji keadilan. Dan menegakkannya di atas jagat raya ini. Walaupun harus aku berkorban jiwa sekalipun. Dan kumohon kau dapat memaafkan segala kebodohanku selama ini, Guru!”
Si Wanita banci ini cuma terdiam menatap langit. Lagi-lagi air matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Wajahnya yang cantik itu menampilkan kesedihan yang luar biasa. Akan tetapi ia sudah berkata lirih…
“Roro…! Kau pergilah besok sebelum matahari terbit. Dan perpisahan ini adalah saat terakhir kau bisa bicara padaku. Karena mulai hari ini aku telah menutup semua pendengaran dan penglihatanku dari dunia persilatan. Aku ingin mati terkubur di tempat ini. Karena aku sudah puas mempunyai murid semacammu. Secantikmu. Juga secerdikmu…! Nah! Kini sudah waktunya aku bersemadi. Kuharap kau takkan menggangguku lagi…!” Selesai berkata si Manusia Aneh Pantai Selatan segera beranjak masuk ke kamar goa tempat ia biasa bersemadi. Lalu menutup pintu batu, untuk selanjutnya telah tak terdengar lagi suaranya.
Roro Centil menatap dengan pandangan mata redup. Tampak setetes air bening mengalir membasahi pipi. Roro tak dapat menahan harunya. Sementara suara deburan ombak terdengar lapat-lapat dari dalam rongga di dasar tebing itu. Pelahanlahan Roro bangkit berdiri, lalu melangkah beberapa tindak mendekati tepi air. Di sana ia berhenti untuk memandang riak gelombang di bawah kakinya. Dan terdengarlah suara helaan napasnya.
“Guru…! Betapa berat penderitaanmu, walau aku tak mengetahui…” Gadis ini menggumam lirih. Seraya menyeka air matanya.
Burung-burung camar di atas langit tampak bersileweran tiada putusnya. Roro Centil tersenyum. Betapa iapun sudah merindukan untuk kembali ke alam bebas. Namun sebelum pergi besok Roro ingin sekali bermain gelombang. Suara debur ombak itu membuat ia ingin menikmati alunan gelombang-gelombang raksasa itu. Segera saja ia telah membuka pakaiannya.
Karena tak ada seorang pun yang melihat, Roro telah bertelanjang bulat. Dilemparkannya pakaiannya di atas seonggok batu. Dan terjunkan kaki ke air. Dengan melangkah perlahan ke depan, semakin lama air semakin dalam, hingga sebatas dada. Yang akhirnya Roro menyelam. Gerakan di bawah air itu amat disukai Roro. Sepasang matanya telah menjadi biasa untuk melihat di bawah permukaan. Segera terlihat terowongan dari kejauhan.
Roro hentakkan kaki dan tangannya. Meluncurlah tubuhnya, sekejap telah tiba di mulut terowongan di bawah air. Di sana ia mempercepat gerakannya. Hingga tak lama kemudian ia telah berada di luar ruangan rongga, di bawah tebing karang. Terlihat di atas Roro riak gelombang yang besar-besar. Agaknya Roro Centil memang sengaja menuju ke permukaan. Hempasan gelombang segera menghantam tubuhnya. Akan tetapi gadis ini telah kerahkan kekuatan tenaga dalamnya, dan meluncur ke permukaan.
Itulah salah satu jurus dari jurus Ikan Hiu mengejar Mangsa. Dan hebat akibatnya. Dalam sekejap tubuh Roro Centil telah mencelat keluar dari permukaan. Ketika turun lagi sepasang kakinya telah hinggap di atas gelombang. Aneh…! Tubuh Roro tidak tenggelam. Bahkan Roro seperti tengah menari-hari di atas gelombang. Seolah tubuhnya timbul tenggelam. Namun gadis ini tampak asyik menikmati alunan ombak yang membuai-buai itu. Sementara suara deburan-deburan keras membahana, ketika gelombang-gelombang raksasa itu menghempas di batu karang.
Roro pejamkan matanya. Dan terbayanglah semua impian indahnya. Suka dukanya yang telah jadi kenyataan. Kini ia telah menguasai ilmu yang amat langka di jagat ini. Semua itu berkat latihan dan bimbingan Gurunya si Manusia Aneh Pantai Selatan. Permainan menari-nari di atas ombak itu amatlah disukai Roro. Dan hal itu tak berlangsung lama. Karena sebentar kemudian hari sudah menjelang senja. Matahari telah semakin menggelincir di tepi cakrawala.
Roro Centil segera melompat tinggi tujuh tombak di atas gelombang. Tampaklah keindahan tubuhnya yang padat berisi. Bentuk tubuh yang jarang dipunyai gadis-gadis lain. Roro memang Roro…! Walau banyak nama seperti dirinya di atas dunia ini, tapi Roro Centil cuma satu! Dialah si Pendekar Wanita Pantai Selatan. Yang berwajah ayu rupawan. Berwatak aneh sukar diterka. Lincah jenaka banyak akalnya. Siapa pun pemuda yang melihat, pasti akan menggandrunginya.
Ketika tubuhnya meluncur lagi ke bawah di mana gelombang raksasa itu segera menyambutnya, tubuh gadis yang bugil itupun lenyap. Seperti telah ditelan ombak. Namun di bawah air, Roro Centil telah berenang menyibak derasnya arus. Tubuhnya meluncur deras bagaikan seekor ikan hiu, dan berseliweran di antara karang-karang yang menonjol. Selang sesaat, ia telah kembali memasuki terowongan di bawah air itu. Dan dengan sekali menggenjot tubuh…Roro Centil kembali tersembul di permukaan.
Kini ia telah berada kembali di dalam ruangan rongga, di bawah tebing karang. Setelah menghirup napas dalam-dalam, Roro beranjak ke darat. Sepasang kakinya melangkah perlahan di dasar air berpasir sebatas betis. Lalu dengan gerakan ringan, Roro melompat ke darat. Selanjutnya ia telah segera mengenakan lagi pakaiannya. Mengeringkan rambutnya, dengan duduk di atas batu.
Kali ini tampaknya Roro telah puas. Besok ia sudah tinggalkan tempat ini. Tempat tersembunyi yang telah menjelmakan dirinya menjadi seorang gadis Pendekar Perkasa. Walau diam-diam Roro Centil menghela napas. Karena segera terpikirkan akan banyaknya perintang kelak di Rimba Persilatan yang bakal ia hadapi.
Tapi disanalah ia dapat mendarma buktikan ilmunya untuk memperjuangkan keadilan. Membela si lemah dari cengkeraman si kuat yang sewenang-wenang. Menegakkan panji keadilan di atas bumi ini. Yang semua itu adalah dengan taruhan nyawa.
Demikianlah… Matahari sudah agak meninggi. Akan tetapi Roro Centil masih tetap duduk di atas tebing karang Pantai Selatan. Sepasang matanya menghadap menatap hamparan lautan luas. Sementara hempasan angin laut, membuat rambut dan pakaian sutera hijaunya melambai-lambai diterpa angin. Juga ujung ikat kepalanya yang berwarna abu-abu itu tak mau diam berkibaran.
Sedang di dekat kakinya, tergeletak sebuah buntalan dari sutera tebal berwarna hitam. Adapun sepasang senjatanya terselip di kiri-kanan pada ikat pinggang, yang terbuat dari kulit ular. Roro Centil ternyata memakai pakaian yang singsat. Celana pangsinya yang berwarna hijau tua, lebih tua dari pakaiannya. Tampak pada ujung celananya terbelit tali sepatu rumput yang dikenakannya.
Selang beberapa saat setelah mengenang tempat yang bakal tak disinggahinya lagi, Roro Centil segera beranjak bangun berdiri. Sementara lengannya sudah bergerak menyambar buntalan pakaiannya. Pada buntalan itu sang Guru banyak membekali bermacam pakaian, juga sekotak kecil perhiasan. Kesemuanya telah disediakan sang guru di muka pintu kamar. Bahkan ketika Roro Centil berpamit tak ada sedikitpun suara gurunya menyahuti.
Roro cuma bisa menghela napas. Karena ia sudah mengenal watak gurunya yang aneh. Dan ia pun tak banyak buang waktu lagi, segera sambar buntalannya yang tadi baru saja dibukanya untuk dilihat isinya. Setelah menutup pintu lubang terowongan di atas tebing karang itu, Roro tidak segera berlalu, tapi beranjak ke tepi tebing.
Di sana ia duduk menghadap laut. Dan mengingat semua wejangan dari Guru gurunya. Yang kesemuanya menitik beratkan pada sifat-sifat kependekaran. Betapa Roro sudah terlalu menghayati akan semua itu. Namun Roro Centil memang berwatak aneh. Dan orang akan sukar menduga isi hati yang terkandung di jiwanya.
Namun dasar-dasar kebenaran, serta jiwa ksatria, kiranya tak mungkin terlupakan oleh si Pendekar Wanita Pantai Selatan ini. Karena menggarungi atau terjun ke Dunia Rimba Hijau akan banyak kemelut dan bermacam rintangan yang bakal dihadapi. Namun dengan jiwa yang kokoh itu, Roro Centil tidaklah menjadi manusia yang mengecewakan di mata kaum golongan Pendekar.
Ketika itu Roro Centil sudah berkelebat meninggalkan tebing karang, dihantarkan oleh tiupan angin laut yang membersit dedaunan. Tubuh gadis pendekar yang cantik itu sebentar saja telah berkelebat semakin jauh, tinggalkan Pantai Selatan.
Akan tetapi tanpa disadari sesosok tubuh yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan, diam-diam terus menguntitnya. Sosok tubuh itu adalah seorang pemuda berbaju putih. Berwajah cukup tampan, dengan kumis kecil di atas bibirnya. Tentu saja gerakannya kalah cepat dengan Roro, sehingga sebentar saja ia telah jauh tertinggal. Akan tetapi di sebuah tempat, ia berhenti, dan bersuit keras.
Tiba-tiba bergerak muncul seekor kuda berwarna hitam legam menghampiri, dengan derap langkahnya yang terdengar memijak tanah, menyibak rerumputan.
“Antasena…! Cepatlah…!” Si laki-laki itu berseru girang melihat kudanya. Dan segera saja telah melompat ke atas punggungnya.
“Ayo! Antasena…! Kau susullah gadis cantik itu…!” Berkata si laki-laki. Dan sekejap kemudian derap kaki-kaki kuda sudah terdengar terbawa angin, ketika si laki-laki itu memacunya dengan cepat.
Agaknya Roro Centil mengetahui adanya seekor kuda dengan penunggang kudanya di belakang. Karena ia telah mendengar suara ringkik kuda serta derapnya di kejauhan.
“Siapakah…?” Gumam Roro seraya berpaling, dan perlambat larinya. Melihat seekor kuda yang dipacu begitu cepat membuat Roro Centil ingin mengetahui ada hal apakah gerangan. Tapi diam-diam ia telah melompat ke balik semak dengan cepat. Sepasang matanya tertuju pada si penunggang kuda, yang sebentar lagi akan tiba melewatinya. Beberapa saat antaranya, segera saja kuda telah tiba. Ternyata sang kuda itu terus melewatinya.
Sekilas Roro sudah dapat memperhatikan wajah si penunggangnya. Kira-kira jarak dua puluh tombak, kuda itu dihentikan. Terdengar suara binatang itu meringkik panjang. Dan terlihat si penunggangnya memutarkan kudanya ke beberapa arah. Tampak wajahnya menampilkan kekecewaan. Sepasang matanya seperti mencari jejak orang yang diburunya. Tentu saja hal itu membuat Roro Centil diam-diam menduga dalam hati.
“Apakah ia mencariku…?”. Desisnya perlahan. Memandang wajah orang, agaknya Roro tidak curiga kalau si penunggang kuda itu ada berniat jahat. Namun sengaja Roro tak mau menampakkan diri.
Setelah berputar-putar beberapa kali, laki-laki itupun kembali memacu kudanya ke arah depan, melewati hutan bambu. Diam-diam kini Rorolah yang membuntuti. Kira-kira sepemakanan nasi si penunggang kuda itu telah berhenti di sebuah biara rusak yang sudah tak digunakan lagi. Akan tetapi pada saat itu telah berkelebat sesosok tubuh ke hadapan si penunggang kuda. Tentu saja membuat laki-laki itu terkejut. Namun si penghadang itu telah membentak keras.
“Sentanu…! Kau tak dapat melarikan diri dariku…!” Ternyata si pendatang itu seorang pemuda tegap, berwajah gagah, tanpa kumis dan jenggot. Raut mukanya agak kasar. Berkulit kecoklatan. Laki-laki ini mengenakan baju abu-abu berlengan pendek, dengan bagian dadanya terbuka. Menampakkan dadanya yang bidang. Celananya berwarna hitam. Tanpa memakai alas kaki. Sepasang mata pemuda ini membersit tajam menatap orang di hadapannya.
“Turunlah Sentanu…! Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu..!” Bentaknya sekali lagi.
Adapun si laki-laki berkumis kecil yang menunggang kuda itu, jadi kerutkan sepasang alisnya, dengan menatap heran. Ia sudah mengenal siapa si penghadang itu.
“Hm! Mandra…! Apakah kesalahanku…?” Bertanya laki-laki itu.
“Keparat…! Kau masih juga berpura-pura? Perbuatanmu sudah tercium jelas. Apakah dengan telah kau nodainya adikku Marni, kau mau kabur begitu saja…? Kiranya peristiwa akhir-akhir ini yang melanda beberapa desa di sekitar wilayah Kadipaten Karang Sembung, adalah akibat ulah perbuatanmu…!” Bentak Mandra.
Keruan saja wajah Sentanu jadi merah padam mendengar tuduhan itu. “Gila…! Apa-apaan kau Mandra…! Kuakui kau anak Carik Desa. Tapi tuduhanmu itu tidak beralasan, dan di luar batas! Aku manusia yang masih punya martabat dan harga diri. Mengapa datang-datang kau melakukan tuduhan sekeji itu?” Teriak Sentanu, seraya melompat dari kudanya.
Akan tetapi Mandra hanya tersenyum sinis. Sepasang matanya tetap menatap Sentanu dengan berapi-api. “Martabat…? Harga diri…? Ha ha ha… Semuanya hanya pepesan kosong belaka. Apakah dengan dalih bahwa kau bekas seorang perwira Kerajaan Medang, lalu membuat orang lain harus menghormatimu? Ha ha ha… di mata penduduk, kau tak lebih dari seorang manusia yang kehilangan martabatnya. Mengapa kau masih menyebut-nyebut tentang martabat dan harga diri? Penduduk semua tahu kalau ayahmu mati di tiang gantungan, karena dianggap memberontak. Dan kau… ha ha ha kau karena diketahui anak seorang Senapati yang sudah tak berharga lagi, telah dipecat dari keprajuritanmu. Makanya kau bergentayangan. Kasihan ibumu yang sudah tua itu. Dia cuma bisa mengusap dada memikirkan semua nasib yang menimpa. Dan bisa-bisa mati meleras, kalau mengetahui anaknya adalah seorang tukang pemerkosa kelas wahid…!”
“Cukup…! Mulutmu perlu dihajar, Mandra…! Jangan kau bawa-bawa ayahku! Jangan kau bawa-bawa kedua orang tuaku! Kau telah memfitnah orang. Demi Tuhan aku tidak melakukan apa-apa…!” Teriak Sentanu dengan wajah pucat. Giginya gemeletuk menahan geram. Tiba-tiba ia telah berteriak lagi dengan mengeluarkan kata-kata keras.
“Sebutkanlah Mandra…! Siapa biang keladi yang telah memfitnahku, dan menjatuhkan martabat almarhum ayahku…? Pasti akan kurobek mulutnya. Ketahuilah olehmu. Ayahku bukanlah mati di tiang gantungan karena berkhianat, melainkan tewas dalam peperangan menumpas sisa-sisa pemberontak di utara. Dan aku memang telah sengaja keluar dari keprajuritanku, bukan karena aku dipecat…! Seandainya kau tidak percaya, silahkan datang menghadap Baginda Raja Medang. Beliau pasti akan membenarkan perihal ayahku itu. Sedang mengenai tuduhanmu itu, apakah kau punya bukti bahwa aku yang telah menodai adikmu Marni? Juga mengenai pemerkosaan yang melanda di beberapa desa, apakah kau punya bukti bahwa aku yang telah melakukannya…? Hm! Mandra…! Berfikir lah yang jernih. Agaknya kau terkena tenung orang. Mengapa tak hujan, tak angin tahu-tahu kau menuduh orang sembarangan…?”
Suara lantang Sentanu agaknya membuat pemuda bernama Mandra itu terhenyak seketika. Akan tetapi ia sudah berkata; “Bukti memang belum kudapatkan yang jelas. Akan tetapi orang desa Tambak Segoro telah menduga kau yang telah melakukannya. Karena adikku Marni berada di kamarmu. Telah dua hari ini aku mencarimu ke mana-mana. Apa lagi melihat sejak kedatanganmu, kau jarang berada di rumah. Kecurigaan penduduk tertuju padamu. Mereka punya dugaan kuat kejadian-kejadian di luar tentang pemerkosaan yang semakin santar itu dilakukan olehmu. Sebabnya… entahlah, mungkin mereka beranggapan kau anak seorang Senapati yang tak bermoral. Dan mati dalam keadaan hina, sebagai pemberontak Kerajaan. Tentu anaknya pun bukan orang baik-baik. Atas dasar itulah aku turut menuduhmu, Sentanu…! Walau pun kau adalah sahabatku, tapi itu dulu di waktu kecil. Keadaan sekarang mana aku tahu…? Aku cuma sekali sekali saja datang ke rumah. Karena sibuk dengan pekerjaanku sebagai pandai besi. Mengetahui keadaan adik kandungnya bernasib demikian, siapa yang sanggup menahan diri…?” Ujar Mandra.
Sementara Sentanu jadi tercenung. Memang ia jarang berada di rumah. Karena disebabkan para penduduk bersikap sinis padanya. Entah mengapa. Kini jelaslah sudah persoalannya. Ternyata Sentanu telah difitnah orang. Memang ia ada mendengar berita tentang adanya banyak kejadian pemerkosaan di beberapa desa. Sebenarnya ia memang berniat menyelidiki.