KINI mendengar bahwa dua hari yang lalu ada bukti bahwa Marni berada di kamarnya, membuat Sentanu jadi termangu-mangu. Apakah sebenarnya yang telah terjadi? Siapakah manusia jail yang memfitnah dirinya? Tiba-tiba Sentanu sudah menatap Mandra dengan tajam, lalu berkata;
“Mandra…! Kita pernah bersahabat, walaupun itu di waktu kita kecil. Aku sudah bentangkan yang sejujurnya tentang diriku. Juga sekaligus menceritakan yang sebenarnya tentang ayahku. Terserah kau…! Apakah kau akan mempercayaiku, ataukah mempercayai dugaan penduduk yang telah menuduh keluargaku sekeji itu. Jelasnya ada yang sengaja mengail di air keruh. Orang yang makan nangka, aku yang terkena getahnya. Baiklah! Berilah aku waktu tiga bulan untuk menyelidiki kasus ini. Seandainya aku tak berhasil membongkar siapa yang telah melibatkan diriku dalam kejahatan ini, aku rela menerima hukuman darimu. Walau aku tak bersalah…!”
Selesai berkata Sentanu telah melompat kembali ke atas kudanya. Sementara Mandra cuma bisa terpaku di tempatnya. Tapi kemudian terdengar ia berkata; “Baik…! Aku pun akan coba menyelidiki. Kalau ternyata kau bersalah, jangan harap kau bisa meloloskan diri dariku. Tapi kalau ternyata kau tak bersalah, aku cabut lagi tuduhanku…!”
Selesai berkata Mandra segera tinggalkan tempat itu. Ternyata ia juga membawa kuda yang disembunyikan tak jauh di belakang biara rusak. Segera tak lama kemudian terdengar derap kaki-kaki kuda yang mencongklang cepat menuju ke arah utara. Sekejap antaranya telah menghilang di balik tikungan. Sentanu cuma menatap dengan pandangan kosong. Baru saja ia mau memutar kuda untuk lanjutkan perjalanan, telah berkelebat tiga sosok tubuh dari samping biara rusak.
Belum lagi Sentanu sempat melihat tegas, salah seorang telah melesat ke arahnya. Dan sekaligus menghantam laki-laki ini dengan pukulan lengannya. Kejadian tak terduga itu membuat Sentanu tak sempat berkelit. Segera saja dengan perdengarkan teriakan tertahan, tubuhnya jatuh terlempar dari atas kuda. Kuda tunggangannya meringkik panjang beberapa kali, lalu mencongklang kabur. Sentanu cepat berusaha bangkit. Dan pada saat itu tiga sosok tubuh tampak mendekatinya dengan langkah-langkah bagai malaikat maut yang siap mencabut nyawa.
“He he he…Kakang Kuti! Untuk mencabut nyawa si pemerkosa ini sebaiknya serahkan saja padaku…!” Berkata salah seorang yang berjubah kuning, berkulit hitam. Wajahnya kaku dan seram, tanpa kumis dan jenggot. Rambutnya panjang sebatas bahu, dan terlihat kaku. Memakai ikat kepala dari kain hitam.
Baca novel ini di Temanin.site
“Silahkan saja…! Tapi jangan dibunuh cepat-cepat. Kalau bisa jangan sampai mengalirkan darah…! Ha ha ha…!” Menyahuti yang bertubuh jangkung. Memakai jubah warna hitam.
Orang ini berwajah kasar, dengan hidung yang melengkung. Sedang di bawah hidungnya terdapat kumis tebal yang melintang. Dagunya bekas brewok yang sudah klimis dikerok. Orang ini pun berambut gondrong, yang tampak awut-awutan. Ikat kapalanya dari kulit buaya. Sedang yang seorang lagi ternyata bertubuh pendek, bulat. Berkepala besar. Dengan rambut gondrongnya berwarna coklat. Mukanya lebar, dengan sepasang mata yang sipit. Wajahnya menampilkan senyum yang tak sedap dipandang. Di lehernya tergantung seuntai tasbih berwarna hitam. Jubah yang dipakainya berwarna ungu. Sewarna dengan ikat kepalanya yang lebar.
Sentanu dengan menyeringai kesakitan meraba punggungnya, memandang pada ketiga manusia yang berdiri di hadapannya. “Siapakah kalian…? Apa kesalahanku? Mengapa kalian mau membunuhku?” Bertanya Sentanu, yang segera sudah dapat berbangkit untuk berdiri. Akan tetapi jawabannya adalah suara tertawa berbareng, yang terbahak-bahak.
“Ha ha ha… ha ha… Lucu sekali pertanyaannya. Masakan perbuatanmu yang telah kau lakukan sampai tidak ingat lagi? Kemana pun kau pergi pasti akan diancam kematian. Karena semua orang sudah mengetahui siapa adanya kau? Untuk manusia tukang memperkosa wanita semacam kau sebaiknya diberi hukuman setimpal.!” Berkata si pendek berjubah ungu, yang berambut coklat.
“Akulah yang pertama akan menghukummu manusia tengik…!” Seraya berkata lengan si laki-laki berjubah kuning berkulit hitam itu sudah gerakkan lengannya meluncur untuk menotok Sentanu.
Akan tetapi tiba-tiba ia telah menjerit kaget, karena sebutir batu kecil telah menghantam pergelangan tangannya. Hingga tak ampun lagi lengannya jadi kesemutan tak dapat digunakan lagi. Ia sudah melompat mundur dengan wajah pias. Sementara kedua kawannya juga jadi terkejut.
Pada saat itulah terdengar suara tertawa wanita, yang disusul dengan berkelebatnya sesosok tubuh berbaju hijau. Dan di hadapan mereka telah berdiri seorang gadis cantik ayu rupawan. Siapa lagi kalau bukan Roro Centil. Kiranya melihat keadaan Senanu yang walau belum dikenalnya, Roro berniat melindungi laki-laki itu, yang belum dapat dipastikan kesalahannya.
Sejak bertarung mulut dengan Mandra, hingga sampai kedatangan ketiga manusia ini, Roro Centil terus mengikutinya dari tempat persembunyiannya. Dengan membuka mata dan memasang telinga mendengarkan setiap pembicaraan orang. Melihat yang muncul adalah seorang gadis cantik, laki-laki bertubuh tinggi jangkung berjubah hitam itu segera menjura.
“Oh, selamat berjumpa nona…! Gerangan siapakah anda? Kami Tiga Paderi dari Lereng Gunung Wilis merasa terkejut, karena nona menghalangi kami membunuh manusia durjana ini…!” Berkata si jangkung berkumis tebal, seraya perkenalkan diri.
Akan tetapi hal itu membuat Roro Centil jadi melengak, dan naikkan alisnya. “Kalian Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis?” Tanya Roro heran. “Setahuku paderi berkepala gundul plontos. Mengapa kalian berambut gondrong menakutkan? Aneh…! Apa aku tak salah dengar…?!”. Ujar Roro selanjutnya.
Tampaknya wajah Kuti si jangkung itu jadi agak berubah. Seperti ada kesalahan yang perlu diralat. Sementara kedua orang kawannya saling berpandangan. Namun Kuti tiba-tiba telah tertawa terbahakbahak, seraya ujarnya;
“Ha ha ha…Kami memang tengah menyaru dengan menggunakan rambut palsu…! Maaf, nona. Anda boleh lihat sendiri kepala kami…!” Seraya berkata Kuti telah menjambak rambut kepalanya, hingga terlepas. Benarlah! Ternyata kepala Kuti memang tak berambut sama sekali, alias gundul plontos. Hal tersebut diikuti kedua kawannya, yang segera menjambak rambutnya masing-masing. Hingga terlihatlah ketiganya adalah benar-benar tiga orang paderi.
“Nah…! Apakah anda kini percaya kalau kami tiga orang paderi…?” Tanya Kuti.
Roro jadi tersenyum, dan berkata; “Baik…! baik…! Aku percaya kalau kalian adalah paderi. Akan tetapi menghukum seseorang yang belum jelas kesalahannya adalah tidak dibenarkan…”
Melengak ketiga paderi itu. Akan tetapi Kuti si paderi tertua di antara kedua kawannya telah kembali buka suara; “Dia telah memperkosa, lalu pergi menghilang. Bagaimana kami bisa jelas-jelas menangkapnya? Kalau saksinya adalah semua penduduk sedesa, apakah anda mau mengatakan bahwa manusia ini belum juga jelas kesalahannya?”
Termenung sejenak Roro Centil. Akan tetapi ia sudah berkata; “Aku memang belum mengetahui jelas duduk perkaranya. Tapi yang berhak memberi hukuman adalah yang berwenang. Kalau di desa, tempat ia dituduh ada seorang Carik, dialah yang wajib menghukumnya. Mengapa harus anda yang memberi hukuman…? Setahuku, tadi anak Carik desa yang bernama Mandra, telah membuat keputusan. Yaitu memberi kesempatan pada orang ini selama tiga bulan, untuk dia mencari orang yang memfitnah nya. Jadi hal itu adalah suatu keputusan yang sudah disetujui. Karena korban pemerkosaan adalah adiknya sendiri yang bernama Marni. Nah…! Berdasarkan hal itu aku mohon anda tidak lagi mengganggu pemuda ini. Dan biarkan ia berurusan dengan anak Carik Desa itu sendiri…!” Kata-kata Roro terdengar lantang dan tandas.
Sehingga ketiga paderi ini cuma bisa tercenung. “Baiklah! Kalau begitu, nona. Sebenarnya kami Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis merasa harus melenyapkan setiap kekotoran di dunia. Karena melenyapkan kekotoran itu merupakan amal kebaikan!” Berkata Kuti.
“Benar…! Tapi apakah harus selalu dengan membunuh…? Bagaimana kalau ternyata yang berbuat itu bukanlah si orang yang tertuduh ini? Bukankah akan menambah dosa?” Ujar Roro Centil dengan tandas.
Agaknya untuk bertarung bicara, Kuti harus mengalah. Segera ia membungkuk menjura lagi. “Terima kasih atas penjelasan nona. Kami sungguh amat bergirang hati dapat berkenalan dengan nona yang ternyata berpandangan luas. Sayang kami tiada mendengar akan keputusan laki-laki anak carik desa itu. Yang memberikan kesempatan padanya untuk membela diri dengan mencari orang yang memfitnahnya. Walau hal itu belum tentu benar, tapi anak carik desa itu telah berlalu bijaksana…! Bolehkah kiranya kami mengetahui siapa gerang-an nona…?” Bertanya Kuti.
“Ah, aku orang biasa yang tak ternama. Namaku Roro Centil…!” Sahut Roro. Akan tetapi penjelasan itu membuat si ketiga paderi jadi terkejut. Tanpa terasa mereka telah segera berseru hampir berbareng.
“Ha…? Jadi andakah si Pendekar Wanita Pantai Selatan?
“Oh, beruntung sekali kami dapat berjumpa dengan nona pendekar. Mengenai masalah ini kami yakin, nona Pendekar dapat membantu menyelesaikannya…!” Ujar Kuti.
Roro Centil cuma tersenyum, dan manggut-manggut. Adapun Kuti segera memberi isyarat pada kedua paderi kawannya, dan ia mendahului berkata;
“Baiklah, nona Pendekar Roro Centil. Kami mohon diri. Dan tentu saja mengenai urusan laki-laki ini kami tak berniat mencampurinya lagi…!” Selesai berkata, kembali ketiga paderi itu menjura. Dan selanjutnya telah berkelebat pergi dengan cepat.
Roro segera palingkan kepala pada Sentanu, yang tengah menatapnya, dengan pandangan kagum juga terpesona. Segera ia sudah menjura pada Roro, seraya berkata;
“Terima kasih atas pertolongan anda; nona Pendekar…! Sungguh tak mengira kalau aku dapat berjumpa dan berkenalan dengan seorang Pendekar Wanita, yang namanya telah dikenal di kalangan Rimba Hijau!”
“Hi hi hi… Sudahlah, jangan terlalu berbasa-basi, sobat… eh, kau bernama Sentanu, bukan?” Tanya Roro dengan menatap tajam wajah orang.
Yang ditatap jadi kikuk, tapi segera menjawab; “Benar…! Sebenarnya aku memang tengah mencari nona Pendekar yang khabarnya berada di pantai Selatan. Entah sudah beberapa tempat itu aku kunjungi di Pantai Selatan ini, Akan tetapi ketika aku melihat anda duduk di ujung tebing karang itu, entah mengapa aku jadi ragu…!” Roro jadi kerutkan alisnya.
“Jadi kau telah sejak lama mengetahui aku duduk di atas tebing…? Dan mengapa kau jadi ragu…?” Tanya Roro dengan lagi-lagi menatap tajam pada Sentanu. Laki-laki berkumis kecil ini, jadi tersipu-sipu dan tampak gugup.
“Apakah kau ragu kalau aku bukan orang yang kau cari?” Ulang Roro.
“Be…benar, nona Pendekar…! Karena hampir lebih dari setahun ini tak ada khabar berita di mana adanya nona Pendekar…” Tampaknya Sentanu seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi tak berani mengatakannya.
Padahal, Sentanu telah melihat tanpa sengaja dengan mata kepala sendiri, di mana ketika senja itu Roro Centil tengah bermain gelombang di bawah tebing karang, dengan menari-nari bagaikan seorang dewi lautan. Sentanu telah menyangka Roro adalah Nyai Roro Kidul, yang ada dalam dongeng rakyat. Karena mustahil bila hal semacam itu dilakukan oleh seorang manusia.
Dengan nekat, Sentanu segera menuruni tebing karang untuk melihat lebih dekat. Gerakan tubuh semampai tanpa busana itu membuat Sentanu bagaikan melihat seorang bidadari yang sedang mandi. Hingga ia benar-benar terpesona dibuatnya. Sayang waktu itu tak berlangsung lama. Dan sang bidadari telah kembali lenyap seperti ditelan gelombang. Laki-laki ini jadi penasaran. Semalam-malaman ia tak bisa tidur. Ternyata ia belum pergi jauh dari tebing karang itu.
Esoknya, pagi-pagi sekali ia telah kembali naik ke atas tebing karang. Dan di sanalah ia melihat Roro Centil sedang termangu-mangu. Jelas dan tak mungkin salah dengan apa yang telah dilihatnya senja kemarin. Wajah dan potongan tubuh gadis itu amat serupa dengan sang bidadari yang bermain di atas gelombang.
Sehingga diam-diam ia terus mengintai. Dan tatkala Roro beranjak untuk meninggalkan Pantai Selatan. Sentanu segera bergegas mengikuti. Beruntung Roro melewati tempat kudanya dilepas mencari rumput. Sehingga Sentanu dapat cepat memanggil sang kuda tunggangan. Dan memacunya cepat untuk menyusul Roro. Hingga akhirnya ia berjumpa dengan Mandra. Dan hampir saja ia jadi korban dibunuh si tiga orang paderi, kalau tak datang Roro yang membelanya.
“Ada hal apakah kau mencari diriku…?” Tanya Roro tiba-tiba. Membuat Sentanu yang sedang termenung jadi terkejut. Segera ia menyahuti dengan suara tergagap;
“Anu… nona Pendekar… Eh, marilah kita bicara sambil duduk di sana, agar dapat leluasa kita bercakap-cakap…!” Berkata Sentanu seraya menunjuk ke lantai biara.
Roro Centil mengangguk. Dan segera keduanya beranjak ke sisi biara rusak itu. Selanjutnya sudah duduk berhadapan. Ternyata Sentanu telah mengeluarkan sebuah benda, yang telah lama disimpannya. Benda itu adalah sebuah kalung, dengan rantai terbuat dari baja putih. Sedang bandulannya terbuat dari gading berbentuk hati. Pada bagian tengah gading itu, terukir sebuah huruf “R”. Benda itu diperlihatkan pada Roro.
Tampaknya Roro Centil jadi terkejut. Segera ia raih benda itu dari tangan Sentanu. Sepasang matanya menatap tajam dan meneliti benda dan bandulannya itu. Segera saja ia telah berkata setengah berteriak; “Benda ini milikku. Dari mana kau menemukannya?” Tanya Roro.
“Ceritanya panjang sekali…! Kalau nona Pendekar mau mendengarkannya, aku pasti akan menceritakannya…!” Ujar Sentanu. Seraya menghela nafas lega. Kini keyakinannya semakin jelas, bahwa benarlah kalung yang ditemukannya kurang lebih dua belas tahun yang lalu itu pasti pemiliknya seorang anak perempuan.
Diam-diam wajah Sentanu menampilkan kegembiraan. Akhirnya ia dapat mengetahui siapa pemilik kalung bertuliskan huruf “R” itu. Segera Sentanu menceritakan asal penemuan kalung itu. Yaitu yang ditemukannya ketika ia masih menjadi Perwira Kerajaan. Dalam pengejaran mencari jejak si Maling Sakti yang menjadi buronan Kerajaan.
Rombongannya melewati sebuah jalan desa, yang telah bergabung dengan rombongan Tumenggung Wira Pati. Tumenggung Wira Pati adalah pamannya. Dari jauh ia sudah melihat adanya beberapa ekor kambing tergeletak di jalan sunyi itu. Ia bersama empat orang Prajurit berkuda berada di bagian belakang Rombongan berkuda pamannya. Karena Sentanu memang tadi tidak melalui jalan itu, jadi tak hapal akan jalannya.
Sedangkan rombongan berkuda Tumenggung Wira Pati ternyata tidak berhenti, bahkan terus menerjang beberapa ekor kambing yang bergelimpangan itu. Sekaligus Sentanu dapat melihat adanya seorang bocah tertelungkup memeluk seekor kambing yang telah tak berkutik. Namun mana ia bisa menahan rombongan di hadapannya. Sedang yang paling depan adalah pamannya, alias Tumenggung Wira Pati.
Sentanu berada di tengah pasukan berkuda. Terpaksa iapun melewati di mana kambing-kambing itu terkapar. Hingga sekejap saja rombongan mereka pun telah jauh dari jalan desa yang sunyi itu. Akan tetapi Sentanu tak lama kembali lagi bersama keempat prajurit bawahannya. Memang ia agak penasaran, apakah penglihatannya sekilas tadi itu hanya fatamorghana saja, ataukah sesungguhnya.
Sehingga ia dengan keempat orang bawahannya sengaja memisahkan diri, dari pasukan Tumenggung Wira Pati. Dan kembali lagi untuk melihat keadaan di jalan desa itu. Seandainya benar di sana tergeletak seorang bocah, pastilah tak akan membuat Sentanu penasaran. Akan tetapi Sentanu dan keempat prajurit bawahannya tidak mendapatkan ada seorang anak manusia di tempat kambing-kambing yang telah tergeletak tak bernyawa itu. Bahkan keempat prajurit diperintahkan memeriksa keadaan sekitarnya. Namun tak dijumpai siapa-siapa.
Demikianlah, akhirnya Sentanu beranggapan kambing-kambing yang mati itu adalah beberapa ekor kambing yang kebetulan lewat di jalan desa yang sempit itu. Akan tetapi, terkejut Sentanu ketika melihat sebuah benda berkilat tak jauh dari kaki-kaki kambing yang mati. Ia segera turun dari kudanya. Dan meraih benda itu. Ternyata benda itu adalah kalung berbentuk hati dan dengan bertuliskan huruf “R” di tengah bandulannya. Sentanu telah menyimpan benda itu.
Akan tetapi ia telah berkeyakinan bahwa benarlah apa yang telah dilihatnya bahwa adanya seorang bocah yang tertelungkup memeluk seekor kambing, yang telah diterjang terus oleh Tumenggung Wira Pati. Bertambah gusar dan mendongkolnya Sentanu, ketika setelah berfikir keras dengan masalah itu, punya dugaan kuat bahwa rombongan berkuda sang paman telah menerjang dua kali di tempat kambingkambing itu berserakan. Mustahil bila baru pertama kali, karena ketika Sentanu dan rombongannya yang memang baru sekali melewati tempat itu, telah melihat bahwa kambing-kambing itu telah tergeletak berserakan.
Berarti ketika rombongan Tumenggung lewat yang pertama, telah menerjang sekumpulan kambing dengan seorang bocah penggembalanya. Dan yang kedua kalinya, ketika kembali, telah menerjangnya lagi tanpa menghiraukan nyawa orang, apa lagi binatang. Mengingat demikian Sentanu jadi membenci sang paman, alias Tumenggung Wira Pati.
Namun anehnya, kalungnya diketemukan, tapi bocah si penggembalanya tak ada. Sentanu punya dugaan kuat kalau si bocah penggembala kambing itu seorang bocah perempuan. Dan Sentanu berpendapat, bahwa bocah penggembala itu pasti telah ada yang menolong. Namun itu cuma dugaan. Dan entah mengenai hidup dan matinya si bocah pengembala itu. Sentanu tak mengetahui. Namun sampai lebih dari dua belas tahun ternyata Sentanu masih menyimpan benda itu. Dengan harapan dapat menemukan si pemiliknya kelak. Demikianlah Sentanu mengakhiri penuturannya.
Adapun Roro Centil mendengarkannya dengan termangu-mangu. Tiba-tiba ia telah membuka ikat kapalanya. Dan meraba sebuah bekas luka di sudut dahi dekat rambutnya. Luka itu adalah bekas terkena terjangan kaki-kaki kuda, menurut Gurunya atau paman angkatnya, yaitu si Maling Sakti. Dengan sepasang mata masih menatap kosong, Roro berkata; “Aku punya luka kecil di dahiku ini, menurut mendiang guruku dahulu, adalah bekas kena terjangan kaki-kaki kuda…!”
“Kalau benar benda itu adalah milikmu, berarti kaulah si bocah penggembala kambing pada dua belas tahun lebih yang silam…!” Ujar Sentanu dengan wajah girang.
Tampaknya Roro sulit mengingat-ingat kisah lalu itu. Namun setelah beberapa saat terdiam, terdengarlah Roro menghela napas, dan ujarnya. “Benar, sobat Sentanu…! Aku mulai ingat. Kala itu aku menggembalakan kambing-kambing pamanku. Dan saat itu ada sepasukan berkuda yang datang, dan tahu-tahu sudah berada di hadapanku. Aku sempat melompat ke parit. Namun kambing-kambingku telah berserakan dengan keadaan menyedihkan. Cuma dua ekor saja yang tinggal hidup. Itupun dalam keadaan patah kaki. Aku memang tak mampu mengingat berapa jumlah semua kambing-kambingku. Namun yang kuingat adalah kematian si Putih, kambing kesayanganku yang belum lama dibelikan ayah. Yaitu sebelum ada berita gugurnya ayahku di medan perang. Bahkan mayatnya saja aku tak mengetahui…!”
Sampai di sini Roro Centil menyeka air matanya yang telah meleleh turun membasahi kedua pipinya. “Ketika pasukan berkuda itu lewat, aku bangkit dari dalam parit, dan menangis memeluki si Putih. Kulihat kedua anaknya yang masih kecil dan lucu, telah mati dengan menyedihkan…! Si Putih kudekap erat. Binatang tak berdosa itu megap-megap. Lidahnya terjulur penuh darah. Tulangtulang tubuhnya telah remuk di dalam. Aku tak kuasa menahan kesedihanku. Hingga aku tak sadarkan diri lagi, ketika si putih melepaskan nyawanya. Selanjutnya aku tak ingat apa-apa lagi. Cuma yang kuingat ada suara gemuruh yang datang. Dan aku terguling-guling di antara derap kaki-kaki kuda. Kurasakan mataku jadi gelap, karena kepalaku terantuk benda keras. Dan selanjutnya aku sudah tak tahu apa-apa lagi.”
Tutur Roro. Dan melanjutkan lagi… “Belakangan baru aku mengetahui, yaitu setelah aku dewasa. Guruku si Maling Sakti alias Jarot Suradilaga itulah yang telah menolongku. Dan mengangkatku sebagai murid. Aku pun telah menganggap beliau pamanku sendiri. Sayang… kurang lebih tiga tahun berselang, guruku tewas oleh si Dewa Tengkorak, juga mertua guruku, kakek Bayu Seta alias si Pendekar bayangan. Selanjutnya aku berguru dengan seorang tokoh aneh di Pantai Selatan. Setahun yang lalu memang aku telah terjunkan diri ke Rimba Persilatan, membantu kaum pendekar melenyapkan kejahatan. Akan tetapi aku kembali harus menjalani gemblengan selama lebih dari setahun. Dan baru hari ini aku keluar dari tempat perguruanku…!” Demikian tutur Roro Centil panjang lebar.
Sementara Sentanu cuma manggut-manggut mendengarkan dengan penuh perhatian. Kini jelaslah bahwa kalung yang ditemukan itu milik Roro. Dan diam-diam Sentanu bersyukur juga kagum, yang ternyata si pemilik kalung yang ditemukan itu, adalah seorang Pendekar Wanita yang dikaguminya.
“Aku pun baru mengetahui kalau si Maling Sakti itu ternyata adalah seorang Pendekar Pejuang tanpa pamrih. Dan juga Ketua dari Partai Kaum Pengemis, yang banyak berjasa pada Kerajaan. Bahkan ternyata orang-orang atau Pembesar Kerajaan diam-diam hanya mencari pangkat atau kedudukan terhormat. Yang biasanya asal main tuduh saja. Bahkan tipu daya dan fitnah keji pun tega ia lontarkan, demi untuk kelanggengannya duduk di kursi terhormat…!”. Ujar Sentanu.
Karena seketika ia pun teringat pada Tumenggung Wira Pati, yang sekarang telah menjabat sebagai Senapati Kerajaan Medang. Sentanu memang ada menduga yang menggembar-gemborkan desas-desus kematian ayahnya ada hubungannya dengan Senapati (pamannya) itu. Karena sebagai perwira Kerajaan, Sentanu sedikit banyak mengetahui akan sepak terjang dan perbuatan Wira Pati.
Namun untuk menjaga agar tidak menjadi kekacauan yang dapat mencemarkan nama Kerajaan, sengaja Sentanu tutup mulut. Dan ia mengundurkan diri dari keprajuritan.Cuma yang aneh, adalah ia dituduh oleh banyak penduduk desa sebagai seorang yang membuat kericuhan. Dengan mengkambing hitamkan dirinya sebagai seorang pemerkosa, dan penculik gadis.
Hal ini membuat Sentanu jadi bertekad menyelidiki biang keladi kericuhan yang telah mengadu dombakan ia dengan Mandra, sahabatnya. Juga menjadikan penduduk di desanya sendiri bersikap sinis terhadapnya. Apa lagi kini dengan munculnya Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis, yang telah turut campur. Sentanu merasa harus berhati-hati. Karena bukan mustahil akan banyak musuh yang tanpa sebab akan memusuhinya.
Oleh sebab itulah Roro Centil bersedia membantu Sentanu menjernihkan keadaan di beberapa desa yang tengah dilanda kemelut itu. Juga melindungi Sentanu dari kejahatannya manusia yang sengaja berniat memfitnahnya. Bahkan juga berniat melenyapkan laki-laki tak bersalah itu. Akhirnya sedikit banyak, Roro Centil dapat mengetahui kisah riwayat hidup Sentanu. Yang ternyata banyak liku-liku kehidupan yang dialaminya.
Selang tak berapa lama, tampak Sentanu bangkit berdiri, dan keluarkan suara suitan panjang. Suara suitan itu adalah untuk memanggil sang kuda tunggangannya. Tak berapa lama, terdengar suara derap kaki kuda menghampiri, disusul suara ringkikannya. Dan segera saja muncul seekor kuda hitam, yang tadi melarikan diri. Sentanu segera menghampirinya, dan menepuk-nepuk lehernya, seraya berkata;
“Antasena! Marilah kita tinggalkan tempat ini, aku harus kembali pulang dulu. Perasaanku tak enak. Aku akan menemui ibuku. Tentu beliau mengharapkan kedatanganku…!” Sang kuda meringkik panjang seperti mengerti akan kata-kata sang majikan.
Sementara Roro Centil cuma tersenyum saja memperhatikan Sentanu. “Aku tak dapat menemanimu, kembali ke desa. Tapi tak usah khawatir. Si tiga paderi itu telah berjanji tak akan mencampuri urusan ini. Silahkan kau berangkat. Aku masih ada sedikit urusan yang akan kuselesaikan. Mungkin besok, atau malam nanti aku akan menyelidiki situasi di sekitar tiga desa terdekat. Kuharap kau jangan tinggalkan rumahmu. Kelak aku pasti mencarimu di desa tempat kau berada. Atau kau dapat tanyakan pada Carik Desa di wilayah Kadipaten Karang Sembung…!”
Sentanu anggukkan kepalanya, seraya melompat ke atas punggung kudanya. “Aku harus segera kembali, nona Pendekar, Roro Centil. Dan sekali lagi terima kasih atas bantuan anda…!” Dan setelah berpamit, Sentanu sudah hentakkan kakinya ke perut kuda. Selanjutnya sang kuda telah mencongklang lari dengan cepat.
Roro menatapnya hingga sampai punggung Sentanu tak kelihatan lagi. Terdengar si gadis ini menghela napas, seraya lengannya meraba bandulan kalungnya yang berbentuk hati dan bertulisan huruf “R” pada bagian tengahnya. Bibir gadis ini sunggingkan senyum senang. Tak lama kemudian, ia telah berkelebat pergi tinggalkan biara rusak itu.
* * * * * * *
Matahari semakin tinggi dengan panasnya yang amat terik. Rumah gedung besar milik Bupati Daeng Panuluh itu tampak sunyi. Di luar cuma ada dua orang penjaga, yang tampaknya amat mengantuk. Sementara di ruang dalam, tampak Ki Ageng Daeng Panuluh tengah asyik duduk di kursi goyang dengan mata meram melek. Tubuhnya yang agak gemuk dan tanpa mengenakan pakaian pada bagian atasnya itu, terlihat mengeluarkan keringat. Sebentar-sebentar ia mengipasi tubuhnya dengan kipas dari bulu burung yang selalu tergenggam di tangannya.
Sementara di ruang kamarnya terdengar suara isak tersendat. Suara isak dari seorang gadis yang telah mengalami kenyataan hidup yang amat getir. Lolos dari lubang buaya, terperangkap di sarang macan. Dia seorang gadis yang masih muda. Dengan paras cantik. Berkulit kuning langsat. Tubuhnya dalam keadaan tertotok. Sehingga ia tak dapat berbuat apa-apa selain terlentang di pembaringan.
Malam tadi sesosok tubuh telah membawanya melalui jalan rahasia di belakang gedung bupati Daeng Panuluh ini. Dan malam tadi seperti juga malam kemarin, ia telah menghadapi hadirnya sang harimau jantan. Yang dengan mendenguskan napasnya telah merencah tubuhnya hingga seperti lumat. Kini ia tengah menunggu nasib apa selanjutnya yang akan menimpa.
Tengah ia termenung dengan terisak-isak, pintu kamar kembali terbuka lebar. Lalu kembali menutup perlahan. Sepasang mata teduh wanita muda ini kembali membersitkan sinar gemerlapan di antara derai air matanya. Dilihatnya sang harimau jantan yang tampaknya belum puas melahap tubuhnya itu telah mendekatinya kembali.
Kain selimut penutup tubuhnya itu telah kembali disingkapkan. Dan sepasang mata jalang laki-laki bertubuh agak gemuk itu menatap wajahnya serta merayapi sekujur tubuhnya. Terdengar ia tertawa menyeringai senang, seraya lengannya menelusuri setiap lekuk liku tubuh wanita. Sementara sang wanita telah menggigit bibirnya menahan geram. Tiba-tiba ia telah semburkan ludahnya hingga membasahi wajah laki-laki itu.
“Fuah…! Kau meludahiku, manis…? He he…ha ha ha… ” Daeng Panuluh tertawa terbahak-bahak.
Sementara si wanita itu sudah membuang mukanya ke samping. “Belum puaskah kau, binatang…? Mengapa tidak segera kau bunuh aku?” Desis wanita itu disela isaknya.
Daeng Panuluh menyeka air ludah yang melekat di wajahnya. “Kau katakan aku binatang…? Ha ha he he he he…mungkin juga benar, tapi mungkin juga tidak. Aku berikan kelembutan padamu, mengapa kau tolak? Kau diantar kemari sudah bukan gadis lagi…! Kalau kau marah padaku itu salah besar, sayang…! Tapi tak apalah…! Sebentar kau akan menjadi jinak…!”
Berkata laki-laki itu. Tiba-tiba ia telah beranjak mendekati meja di sudut kamar itu. Lengannya bergerak mengambil cawan berisi air yang telah disediakan. Tiba-tiba dengan sebelah lengannya laki-laki itu telah menjambak rambut sang wanita, seraya berkata;
“Bukalah mulutmu sayang…! Kau minumlah air pelepas dahaga ini…!”
Tentu saja sang wanita itu berteriak tertahan menahan sakit. Akan tetapi ketika mulutnya terbuka, cawan berisi air ramuan itu telah dicekokkan padanya. Walaupun ia berusaha meronta, namun tak urung air ramuan itu telah masuk juga ke dalam tenggorokannya. Terdengar si laki-laki tertawa terbahak-bahak. Dan lepaskan jambakan pada rambutnya. Wanita muda itu terengah-engah kembali tergolek di pembaringan. Ia berusaha mengangkat lengannya tapi totokan pada tubuhnya tak mampu ia membukanya.
“Keparat…! Bunuhlah aku, mengapa kau siksa aku terus menerus…?”
“Aku tidak menyiksamu, manis…! Sebentar tenagamu akan kembali pulih. Dan kau akan bertenaga seperti seekor harimau betina…! Ha ha he he he…”
Namun wanita itu sudah tak mendengarkan ocehan laki-laki itu. Sepasang matanya telah dipejamkan. Karena ia rasakan kepalanya menjadi pusing. Sepasang matanya berkunangkunang, dan menjadi gelap. Dan ada hawa panas bergolak dalam perutnya. Tubuh wanita itu menggelinjang menahan hawa panas itu. Entah berapa saat ia tak tahu.
Ketika samar-samar ia melihat laki-laki itu tengah meneguk arak di hadapannya, ketika ia membuka sedikit kelopak matanya. Aneh…! Hawa kemarahannya seperti lenyap. Totokan pada tubuhnya seperti telah punah. Akan tetapi tak ada niat ia untuk melepaskan diri dari tempat itu.
Ia seperti mengharapkan sesuatu yang menggebu dalam jiwanya. Sepasang matanya yang redup itu seperti telah menjadi tatapan mata liar dan jalang. Lengannya menggapai seperti mencari pegangan. Disertai rintihan aneh, yang mendesis dari mulutnya.
Kini ia merasa seolah benar-benar menjadi seekor harimau betina yang sedang berahi. Terdengar samar-samar suara tertawa yang membuat ia seperti seorang buta yang mencari-cari tongkat. Dan ia sudah segera dapatkan tongkat itu, untuk segera selanjutnya berjalan menyusuri relung-relung kenikmatan, yang penuh misteri.
Bagaikan seekor binatang buas, yang membaui daging mentah, harimau betina itu melumat apa yang ada di hadapannya. Desah napasnya memburu. Seperti berpacu dengan desah-desah angin yang tak diketahui dari mana datangnya.
Daeng Panuluh perlahan bangkit untuk duduk. Napasnya terengah. Ia terlalu banyak menenggak arak. Selang tak lama ia telah keluar dari kamarnya. Dan kembali lemparkan tubuhnya ke kursi goyang. Di sana ia duduk dengan kaki terjuntai, dengan pejamkan mata. Segera tubuh laki-laki agak gemuk itu terayun-ayun membawanya ke alam mimpi di balik awan. Sesaat antaranya telah terdengar suara dengkurnya menggeros.
Saat malam menjelang datang, rumah gedung Bupati Daeng Panuluh seperti semakin sunyi. Namun sesosok tubuh bagaikan bayangan hantu tampak berkelebat keluar dari belakang gedung. Sosok tubuh itu seperti memondong sesuatu yang dibawa berkelebat dengan cepat. Dan sesaat antaranya kembali kesunyian mencekam malam yang gelap gulita.
Esok paginya, seorang penduduk desa yang akan pergi ke sawah di ujung desa, jadi terkejut, karena menjumpai sesosok tubuh telah menjadi mayat, terperosok di pematang sawah. Terkesiap seketika orang itu. Segera saja ia telah berlari sipat kuping. Paculnya telah dilemparkan dan ditinggalkannya begitu saja. Ternyata ia berlari ke arah desa. Seraya terdengar suaranya berteriak-teriak;
“Toloooong…! Ada pembunuhan..! Ada mayat! Ada mayat di pematang sawah…!”
Serentak saja orang-orang desa segera keluar. Tiga orang laki-laki telah melompat mendekatinya seraya bertanya; “Mayat siapa…! Laki-laki atau perempuan…?” Tanya salah seorang.
“Pe…perempuan…!” Sahut si petani itu dengan gagap. Ketiga laki-laki itu tersentak. Sementara beberapa orang segera berkerumun.
“Di mana…! Di pematang sawah sebelah mana…!” Tanya lagi laki-laki itu.
“Mari aku tunjukkan…!” Ujar si petani.
Pada saat itu muncul pak Carik Desa. “Ada apa lagi pagi-pagi sudah ribut…?” Tanya laki-laki berusia 50 tahun itu. Segera si petani menceritakan apa yang telah dilihatnya.
Pak Carik tampak kerutkan alisnya. “Hm…! Lagi-lagi korban pemerkosaan…! Mari kita lihat…!” Ujarnya. Dan serentak mereka sudah bergegas mengikuti si petani yang berjalan terlebih dulu.