Tiga Paderi Pemetik Bunga Bab 3

TIDAK semua yang berkerumun itu pergi untuk melihat. Terutama wanita, mereka cuma silih perbincangkan dengan sesama tetangga. Tapi seorang wanita ternyata telah bergegas menyusul rombongan yang berlarian itu. Dia bukan penduduk tempat itu. Tapi secara kebetulan ketika sedang menghirup udara pagi, telah mendengar suara ribut-ribut. Ternyata di seberang jalan adalah sebuah penginapan. Agaknya ia seorang pendatang yang telah menginap di penginapan yang cukup besar itu.

Memang desa ramai itu pada bagian belakangnya adalah terbentang kebun dan sawah penduduk yang luas. Wanita itu berbaju merah, dengan rambutnya dikepang dua. Ternyata ia punya gerakan lincah. Dalam beberapa saat saja ia telah dapat menyusul rombongan yang telah jauh itu. Bahkan tak lama rombongan di hadapannya telah berhenti. Dan tampak mereka jadi sibuk, silih berdesakan untuk melihat mayat yang terbujur di pematang sawah.

Ternyata mayat itu benar seorang wanita. Keadaannya amat mengenaskan sekali, karena tubuhnya matang biru. Dan tak mengenakan selembarpun pakaian, hanya sehelai kain yang membungkus tubuhnya. Beberapa orang yang melihat tidak mengenali siapa adanya wanita muda itu. Akan tetapi tiba-tiba si gadis berbaju merah yang tadi menyusul belakangan itu, telah terpekik kaget, seraya menubruk mayat wanita malang itu.

“Surti..! Surtiiiii..!” teriaknya histeris, dan ia sudah memeluki mayat yang sudah kaku di pematang sawah itu, dengan air mata bercucuran.

Semua yang memandang cuma terpaku melihatnya. Pak Carik menghela napas. Sementara tiga laki-laki tadi cuma bisa tundukkan kepala dengan hati trenyuh mendengar suara tangis si wanita yang menyayat hati. Di antara ketiga laki-laki itu ternyata terdapat Mandra, anak pak Carik. Pemuda itu memandang pada ayahnya. Sementara laki-laki berusia 50 tahun itu sunggingkan senyum sinis padanya seraya berkata;

“Heh…! Apakah pendapatmu dengan korban kali ini…? Apa kau tak juga yakin kalau semua ini perbuatan si Sentanu itu…?”

Baca novel ini di Temanin.site

Mandra menatap tajam pada ayahnya. Alisnya bergerak menyatu. Dan dengan nada tegas ia telah menjawab pertanyaan sang ayah.”Aku telah memberinya waktu selama tiga bulan. Dan hal itu adalah suatu kebijaksanaan yang mutlak bagi kita untuk memberinya kesempatan si pelaku sebenarnya. Kita tak dapat menuduh orang dengan semena-mena, ayah…! Kalau seandainya ia benar-benar tak bersalah, akan kita taruh di mana muka kita…? Apa lagi ayah adalah seorang Carik. Yang tentunya akan disorot tajam oleh mata semua penduduk…!”

Laki-laki tua yang masih bertubuh kekar ini cuma mendengus, dan berkata; “Terserah dengan keputusanmu, Mandra. Segeralah kau bantu mengurus jenazah itu! Aku akan menemui Bupati…!”

“Baik, ayah…!” Menjawab Mandra seraya palingkan kepala pada si gadis baju merah yang masih terbenam dalam tangis.

Pak Carik Desa bernama Sengkuti ini, segera putar tubuhnya, dan berlalu meninggalkan kerumunan orang, yang kian bertambah saja. Ternyata di antara kerumunan orang itu ada terdapat seorang pemuda berwajah pucat yang menyandang buntalan di punggungnya.

Ketika laki-laki Carik Desa itu bergegas tinggalkan tempat itu si pemuda diam-diam telah mengikutinya. Hingga tak lama sudah berada di luar desa. Terkejut juga pemuda berwajah pucat itu, ketika melihat laki-laki yang sudah diketahuinya Carik Desa itu ternyata mempergunakan ilmu lari cepat. Kiranya ia punya gerakan gesit. Entah apa maksudnya si pemuda itu membuntuti laki-laki itu. Tapi ketika di tebuah tikungan, si pemuda itu telah kehilangan jejak.

“He…? Kemana gerangan ia perginya…?” Desis suara si pemuda. Sementara ia sudah putar tubuh, dan palingkan kepala ke sana-kemari, namun tak juga dilihatnya orang yang sedang dibuntutinya. Tahu-tahu telah berdesir angin di belakang tubuhnya. Terkejut pemuda ini, namun dengan sebat ia sudah melompat ke samping dengan gerakan kilat. Ternyata adalah serangkum jarum senjata rahasia, yang nyaris saja mengenai punggungnya. Pemuda ini sudah keluarkan bentakan keras… ketika dilihatnya sebuah bayangan berkelebat melarikan diri.

“Heii…! Berhenti pengecut…!” Teriaknya santar. Dan ia sudah kelebatkan tubuhnya menyusul bayangan itu. Akan tetapi bayangan itu pun lenyap. Namun si pemuda sudah dapat menduga si penyerangnya.

“Potongan tubuhnya mirip si Carik Desa itu cuma kepalanya terbungkus kain hitam. Tentu ia menggunakan topeng agar tak dapat dikenali…!” Desis suara si pemuda. Diam-diam si pemuda itu semakin mencurigai orang yang dibuntuti. Tiba-tiba tiga sosok tubuh telah bersembulan dari tiga penjuru.

Terkejut pemuda ini, karena ia telah mengenali siapa adanya ketiga orang yang telah mengurungnya itu. Namun tanpa bisa berfikir panjang lagi ia harus mengelakkan terjangan salah seorang yang menyerang dengan kipas baja berujung runcing. Si penyerang ini memakai tasbih hitam yang tergantung di lehernya. Rambutnya gondrong berwarna coklat.

Dua serangan beruntun menerjang mengarah leher, dan dada. Membersit angin keras, ketika senjata itu lewat beberapa senti dari kulit lehernya. Sedang serangan pukulan selanjutnya yang mengarah ke dada, telah ia sambuti dengan hantaman telapak tangannya.

Terdengar si penyerang yang bertubuh pendek itu berteriak tertahan, dan tubuhnya terlempar ke belakang tiga tombak. Namun dengan sebat ia telah bangkit berdiri lagi. Tampak ketiganya saling pandang. Tibatiba si laki-laki berjubah hitam yang bertubuh jangkung dan berkumis tebal itu telah melompat ke hadapannya.

“Ha ha ha…boleh juga ilmu tenaga dalammu anak muda…! Gerakan tubuhmu amat gemulai. Membuat aku ingin mencicipi kehebatan anda…!” Berkata ia dengan wajah tertawa menyeringai. Ternyata orang ini adalah Kuti, si paderi Ketua dari Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis.

Seraya berkata, ia telah tarik keluar secarik kain sutra berwarna hijau dari balik jubahnya. Dan dengan sebat ia telah menerjang dengan senjata yang tiba-tiba berubah menjadi kaku. Terkejut pemuda itu, karena ia baru melihat senjata aneh itu. Terjangan ke arah dada dapat ia hindarkan dengan lengkungan tubuhnya ke belakang, akan tetapi benda itu mendadak telah berubah kembali menjadi lemas, dan tahu-tahu telah menyambar ke arah kepala.

Terkejut si pemuda. Namun sudah terlambat. Walaupun ia berhasil melindungi kepalanya, namun ikat kepalanya telah menjadi terlepas. Segera saja rambutnya terjuntai, karena tanpa ikat kepala lagi. Hal mana membuat si ketiga manusia di hadapannya jadi tertawa terbahak-bahak.

“Ayo, telanjangi lagi pakaiannya, biar tinggal kulit dan bulu…baru kita bikin sate…!” Teriak si laki-laki berjubah kuning yang bertubuh pendek. Tapi ketiganya jadi ternganga, karena tahu-tahu tubuh si pemuda berambut panjang itu telah berkelebat cepat sekali, dan sekejap saja telah lenyap.

“Kurang ajar…! Dia bisa meloloskan diri…!” Teriak si laki-laki jubah ungu.

“Ayo, cepat kejar…!” Teriak Kuti. Akan tetapi harus mengejar ke mana, karena yang mau dikejar sudah tak kelihatan lagi. Kedua kawannya cuma bisa terpaku di tempat dengan kesima. Tampak Kuti seperti agak mendongkol karena tak dapat menangkap pemuda itu. Terdengar ia berkata; “Aku menduga dia seorang wanita…! Suara dan gerak-geraknya tak dapat aku dikelabuhi. Sayang aku tak dapat menangkapnya…!”

“Eh…!? Jangan-jangan dia si Pendekar Wanita Pantai Selatan yang menyaru…” desis si laki-laki pendek.

Tampak Kuti mengerutkan alisnya. “Heh! Entahlah…! Tapi kalau benar dia, akan bisa membahayakan diri kita. Namun jangan khawatir adik Lembu Alas, dan Kebo Ireng…! Justru aku menginginkan sekali untuk bisa menawannya. Ha ha ha… ” Ujar Kuti, dengan tertawa.

Tak berapa lama ketiga paderi yang menyamar itu sudah berkelebatan pergi.

Beberapa hari kemudian… Sebuah gedung kuno yang tampaknya bekas peninggalan dari Kerajaan itu terlihat sunyi. Tapi dua orang bujang tua tampak tengah menyapu halaman, Salah seorang melihat ke pintu gedung yang tertutup. Lalu mendekati kawannya.

“Apakah ketiga pendeta ada di dalam…?” Tanya laki-laki jongos itu.

Sang kawan hentikan menyapu seraya berpaling pada kawannya, dan melirik ke arah pintu gedung. Lalu menjawab pelahan. “Tampaknya mereka pergi…! Ada apakah kau tanyakan mereka…?” Tanya sang kawan.

“Eh! Anu… Tadi sebelum kau bangun, aku telah lebih dulu membersihkan lantai, tiba-tiba datang seseorang yang memanggilku dari halaman. Aku segera menghampiri…!”

“Laki-laki atau wanita orang itu…?” Menyela si jongos kawannya. “Seorang wanita tua. Tapi tampaknya bukan wanita sembarangan. Karena ia membawa tongkat berkepala naga. Ia menanyakan siapa penghuni gedung ini…! Aku mengatakan penghuninya tiga orang paderi atau pendeta. Orang tua itu manggutmanggut, lalu berangkat pergi setelah mengucapkan terima kasih…!”

“Kau tidak tanyakan ia mencari siapa…?” Tanya sang kawan. Laki-laki jongos itu cuma menggelengkan kepala.

“Cuma anehnya sepasang matanya tampak berkilatan tajam. Seperti ia tengah menyelidiki si penghuni gedung ini…!” Sambungnya lagi.

“Jangan-jangan ia bakal kembali lagi…!” Berkata sang kawan.

“Entahlah…” Menyahuti ia seraya beranjak untuk meneruskan lagi pekerjaannya. Tapi tiba-tiba sepasang mata kacung ini jadi terbelalak lebar, karena dilihatnya wanita bertongkat yang tadi pagi datang itu ternyata sedang berdiri di bawah pohon tak jauh di luar halaman. Dengan sepasang matanya menatap ke arah gedung.

Tampak si kacung ini cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Lalu buru-buru masuk ke samping emperan gedung kuno itu. Sang kawanpun telah selesai dengan pekerjaannya. Dan tak lama beranjak masuk berselang tiga orang paderi itu telah kembali.

Hati si kacung ini jadi kebat-kebit. Tampaknya bakal terjadi sesuatu. Pikirnya. Benarlah! Baru saja ketiga paderi itu memasuki halaman. Si wanita bertongkat naga itu telah berkelebat dari tempat ia berdiri seraya perdengarkan bentakan keras.

“Tunggu pencuri-pencuri busuk..! Kiranya kalian berada di sini…!”

Dan sekelebat si wanita itu telah melompat di hadapan si tiga paderi. Ternyata Kuti, Kebo Ireng dan Lembu Alas. Mereka tidak lagi mengenakan rambut palsu. Akan tetapi dengan kepala yang licin, alias gundul plontos.

“Siapakah kau, perempuan tua…? Kami tak mengenalmu. Mengapa tiba-tiba kau tuduh kami sebagai pencuri…?” Bertanya Kuti. Akan tetapi diam-diam ia terkejut karena ia segera mengetahui siapa adanya wanita tua itu.

“Heh…! Paderi-paderi palsu…! Kau kira dengan penyamaranmu itu, bisa kau sembunyi dari mata tuaku…? Kembalikan Kitab Ular yang kau curi itu…!”

“Kitab Ular yang manakah…? Jangan-jangan kau orang sinting! Kami adalah orang-orang yang berjalan di atas kesucian. Mengapa kau tuduh kami sebagai pencuri?”

Akan tetapi si wanita itu telah gerakkan tongkatnya, seraya membentak. “Setan Keparat…! Manusia manusia tengik semacam kalian memang seharusnya mampus siang-siang…!”

Wut! Wut! Wut…!

Si wanita telah menerjang dengan tongkat berkepala Naganya. Hebat sambaran tongkat itu, karena di samping serangannya amat ganas, dari ujung tongkat itu membersit keluar asap tipis yang mengandung racun. Kiranya memanglah wanita itu yang berjulukan si Tongkat Seribu Racun. Dengan menghindari serangan ganas itu, Kuti membentak. Kali ini ia sudah tak lagi menutupi rahasia dirinya.

“Bagus…! Tongkat Seribu Racun! Agaknya kau jauh-jauh dari lereng Merapi cuma untuk mengejar kitab itu? Akan kuberikan kalau kau sudah tinggalkan nyawamu, dan berangkat ke Akhirat…!” Seraya berkata, Kuti telah mengirim pukulan telapak tangannya.

Wut…!

Si wanita cepat menghindar, seraya mendengus. “Setan Keparat…! Akhirnya kau mengakui juga! Paderi-paderi semacammu bisa mencemarkan nama baik paderi yang lainnya…! Apa lagi Kitab Ular itu berada padamu…!” Berkata si Tongkat Seribu Racun, seraya mengibaskan lengan jubahnya. Dan dibarengi bentakan, ia telah menerjang lagi dengan tongkatnya.

Kuti yang dicecar terus, memberikan perlawanannya. Dengan gerakan jungkir-balik di udara, ia telah mampu mengelakkan seranganserangan dahsyat itu. Akan tetapi ia harus menahan napas, karena asap tipis yang mengandung racun itu bila tersedot bisa membahayakan dirinya. Sementara Lembu Alas dan Kebo Ireng telah segera mempersiapkan diri untuk menerjang. Akan tetapi pada saat itu berkelebat sebuah bayangan merah disertai bentakan…!

“Paderi-paderi keparat…! Jangan main kerubutan! Sungguh tak tahu malu…!” Suara bentakan itu disusul dengan serangan mendadak pada si pendek Lembu Alas, yang sudah akan menerjang dengan tasbih dan kipas bajanya.

Ternyata yang datang dan menyerang adalah seorang gadis berbaju merah. Yaitu gadis yang beberapa hari yang lalu menangisi kematian seorang wanita muda di pematang sawah. Yang tewas itu adalah adik seperguruannya.

Melihat kedatangan gadis berbaju merah itu, si wanita bertongkat berseru girang. “Bagus, muridku…! Ternyata kau kiranya! Bantulah aku menghajar paderi-paderi palsu ini…! Mereka adalah si pencuri Kitab Ular dari biara Welas Asih, di lereng Gunung Wilis.”

“Mereka juga biang keladi penculikan gadis-gadis, Guru. Kita harus membalas dendam. Surti adikku telah tewas beberapa hari yang lalu…! Perbuatan siapa lagi kalau bukan perbuatan tiga manusia licik ini…!” Teriak si wanita baju merah.

“Hah…!?” Seketika si wanita ini jadi tersentak kaget. Akan tetapi sudah terdengar bentakan.

“Kurang ajar…!” Dari mana kau bisa menuduh kami penculik gadis-gadis,…! dan membunuh adikmu…!?” Bentak Kuti geram. Sementara ia sudah melompat mundur tiga tombak, diikuti kedua paderi lainnya.

“Aku yang memberitahukan…!” Tiba-tiba terdengar suara di belakang.

Ketika mereka menoleh, ternyata telah berdiri entah sejak kapan, seorang gadis cantik rupawan berbaju hijau. Piaslah wajah si tiga paderi itu. Karena ia segera dapat mengetahui kalau orang itu adalah si Pendekar Wanita Pantai Selatan, Roro Centil. Tiba-tiba Kuti telah memberi isyarat, dan sekejap kemudian mereka telah melesat kabur dengan memasuki Gedung kuno itu lewat jendela.

Terkejut si wanita bertongkat Naga, dan muridnya. Mereka sudah segera akan bergerak mengejar, namun Roro Centil sudah berkata menghalangi. “Biarkanlah ketiga tikus-tikus busuk itu, bibi…! Mereka tak akan lari jauh. Karena kitab Ularnya telah berada di tanganku…!”

Tentu saja kata-kata Roro itu membuat si Tongkat Naga Seribu Racun jadi melengak. “Benarkah, bocah manis…! Dan siapakah kau…? Kau mengenal dengan muridku?” Tanya si wanita itu.

“Guru…! Dia bernama Roro Centil, yang dikenal di kalangan Rimba Hijau, dijuluki si Pendekar Wanita Pantai Selatan…!” Tiba-tiba si gadis baju merah telah mendahului menyahuti.

Terkejut juga si Tongkat Naga Seribu Racun. Tapi ia telah segera tertawa gelak-gelak. “Bagus…! bagus…! Sungguh pertemuan yang tidak terduga. Tapi aku masih penasaran dengan kata-katamu yang mengatakan bahwa Kitab Ular ada ditanganmu! Dapatkah kau menunjukkannya padaku?” Tanya si wanita.

Roro Centil tersenyum manis, seraya ujarnya; “Sabarlah, bibi…! Marilah kau singgah ke tempatku. Banyak yang akan kuceritakan. Sekalian mengenai kematian muridmu…!”

Agaknya wanita ini baru sadar akan hal itu. Ia sudah menyahuti dengan tergopoh-gopoh. “Baik…! baik…! Tentu aku bersedia…! Heh! Manusia-manusia binatang itu tak akan lepas dari tanganku kelak. Tunggulah…!” Seraya berkata ia sudah palingkan kepala pada gedung kuno itu dengan tatapan tajam. Sinar matanya seperti membersit bagai sepasang mata serigala liar.

Tak berapa lama tampak ketiga wanita itu telah berkelebat pergi dari halaman gedung kuno itu. Yang kembali jadi sunyi.

Sementara itu si paderi bernama Kuti di dalam gedung, jadi kelabakan, ketika mengetahui kitab yang tak pernah ketinggalan, dan selalu berada di saku jubahnya, ternyata telah lenyap. Tentu saja semua pembicaraan di luar, telah di dengarnya. Hingga ketika ketiga wanita itu berlalu, dengan diam-diam Kuti telah berkelebat membuntuti.

Kira-kira sepeminuman teh, segera ia dapat melihat ketiga wanita itu memasuki sebuah penginapan yang telah dikenalnya. Tampak ia tersenyum sinis. Lalu berkelebat lagi menjauhi tempat itu, kembali ke gedung kuno. Lembu Alas dan Kebo Ireng masih duduk bersila di lantai ruangan tengah. Ketika didengarnya suara orang masuk. Yang tak lama kemudian segera muncul sang kakak tertuanya.

“Hm! Mereka menginap di penginapan Sugih Waras…!. Gila! Kita harus cari akal untuk merebut kembali kitab itu…!” Berkata Kuti. Tampak wajahnya menampilkan kemendongkolan luar biasa.

“Mengapa kitab curian itu bisa berada di tangan si wanita Pendekar itu…?” Bertanya Lembu Alas, si paderi pendek.

“Benar, kakang Kuti…! Mengapa bisa demikian? Bukankah kau telah menotoknya? Aneh…! Mengapa bisa dia membebaskan diri…?” Tanya Kebo Ireng dengan penasaran.

“Ah, dasar aku yang lagi sial…! Wanita Pendekar itu telah menipuku…! Tapi dia memang gadis yang punya keberanian luar biasa…!” Mengutuk Kuti, tapi juga ia memuji akan kecerdikan lawan. Segera Kuti menceritakan pengalamannya, yang ternyata hanya Kuti saja yang tahu.

Kiranya peristiwanya adalah demikian… Seperti diketahui, ketika beberapa hari yang lalu, seorang pemuda berhasil meloloskan diri dari tangan ketiga paderi itu. Mereka segera pergi ke tempat yang memang telah menjadi periuk nasinya. Yaitu tempat kediaman sang Bupati Daeng Panuluh. Bupati Daeng Panuluh ternyata telah bersahabat baik dengan mereka ketiga paderi.

Sebenarnya boleh dikatakan sang bupati yang bergelar Ki Ageng Panuluh itu bukanlah seorang bupati. Dia baru beberapa bulan di tempat itu, sejak Bupati yang lama meninggal secara mendadak. Dia kesempatan menjadi pengganti Bupati itu diperoleh dari seorang Senapati Wira Pati.

Senapati Wira Pati telah dikenal Ki Ageng Panuluh, yang sebenarnya bernama panggilan Daeng itu, sejak sang Senapati masih menjabat Tumenggung. Daeng adalah bekas seorang perompak laut, yang meminta perlindungan pada Wira Pati. Tentu saja Wira Pati yang masih menjabat Tumenggung itu, tak menolaknya. Karena di samping Daeng punya banyak harta benda hasil rampokan, juga seorang yang royal.

Bagi Wira Pati, menyembunyikan seorang penjahat, yang banyak menguntungkan adalah kesempatan baik yang tak boleh disia-siakan. Demikianlah… hingga beberapa tahun kemudian, ketika Wira Pati naik pangkat menjadi Senapati, Daeng telah diangkat menjadi Bupati dengan izinnya, yaitu untuk mengisi kekosongan Gedung Bupati lama di daerah wilayah Kadipaten Karang Sembung. Karena dengan kematian mendadak sang bupati lama itu.

Hubungan baik sang Bupati yang bergelar Ki Ageng Panuluh itu dengan si Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis, ternyata berkisar antara perampokan dan pemerkosaan. Yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Karena si Tiga Paderi itu adalah sebenarnya paderi samaran yang dalam pelarian. Ternyata Kuti telah berhasil merebut sebuah kitab Pusaka dari Biara Welas Asih di lereng Gunung Wilis.

Kitab pusaka itu adalah kitab titipan seseorang bernama Gurnamh Singh, seorang dari Nepal. Kuti sendiri adalah seorang keturunan Nepal. Setelah merampas kitab itu dari tangan paderi-paderi Biara Welas Asih, mereka melarikan diri, hingga tiba di kawasan Kadipaten Karang Sembung. Di sini ia menyamar sebagai tiga orang paderi.

Demikianlah… kedatangan mereka menemui Daeng Panuluh beberapa hari yang lalu, adalah untuk merundingkan sesuatu dengan pekerjaan jahat yang mereka lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Sekalian melaporkan tentang munculnya tokoh persilatan Pendekar Wanita Roro Centil pada sang Bupati Daeng Panuluh. Ternyata di sana mereka, telah mendengar kericuhan dengan munculnya seorang pemuda berbaju putih, yang diam-diam telah menyelidiki ulah tingkah sang Bupati. Pemuda itu cuma memberikan ancaman saja, lalu menghilang.

Oleh sebab itu kedua paderi Kebo Ireng dan Lembu Alas sengaja diperintahkan sang bupati Daeng untuk menjaga Gedungnya. Dikhawatirkan ada sesuatu yang bakal terjadi di luar dugaan. Sementara Kuti kembali beroperasi.

Ternyata Kuti mengambil keuntungan lain dari pekarjaan jahat, atas kerja sama dengan Daeng. Yaitu memperkosa wanita untuk kepentingan kepuasan nafsu bejatnya. Juga karena ia mempelajari suatu ilmu aneh dari Kitab Pusaka yang dicurinya. Rambut aslinya memang telah dicukur gundul, dalam rangka penyamarannya. Tapi ia mempergunakan rambut palsu, dan menggunakan topeng, ketika melakukan kejahatan.

Demikianlah… dua hari yang lalu ketika ia beroperasi sendiri, ia berhasil menculik seorang gadis dari satu keluarga yang cukup berada. Terpaksa ia membunuh ayah gadis itu, serta beberapa orang pengawal gedung. Dan melarikan diri di tengah malam buta. Tentu saja tak lupa menguras harta benda si pemilik gedung.

Namun ia telah dikejar oleh seseorang, hingga terjadi pertarungan. Dengan menggunakan kelicikannya menyandra gadis itu, ia berhasil melarikan diri. Lalu sembunyi di sebuah makam kuno. Di sana ia bebas berbuat semuanya. Karena makam kuno itu adalah peninggalan dari Kerajaan, yang banyak terdapat lubang rahasia.

Di bawah makam ternyata ada sebuah lubang yang menuju ke ruangan rahasia di bawah tanah. Di sanalah ia melampiaskan nafsu bejatnya. Di samping mempelajari ilmu sesat dari Kitab Ular yang dirampasnya.

Sementara si laki-laki berbaju putih yang mengejarnya, telah kehilangan jejak. Ternyata laki-laki berbaju putih itu Ginanjar adanya. Yaitu murid si Pendekar Bayangan Ki Bayu Seta. Tanpa sengaja Ginanjar dapat berjumpa dengan Roro Centil, yang menyamar sebagai seorang pemuda berwajah pucat. Tentu saja hal itu membuat mereka jadi amat bergirang hati.

Terlebih-lebih pemuda itu. Karena memang Ginanjar telah memenuhi undangan Roro Centil untuk datang pada tahun ini, sejak pertemuannya setahun belakangan. Tujuannya ke Pantai Selatan, jadi tertunda, karena ia terlibat dalam penyelidikan kejadian-kejadian di wilayah Kadipaten Karang Sembung.

Lenyapnya si paderi palsu di makam kuno, membuat Roro Centil berhasrat untuk menyelidiki. Hingga ia berhasil menjebak Kuti keluar dari tempat persebunyiannya. Roro memang berotak cerdas, walaupun terkadang suka kumat penyakit ugal-ugalannya, yang disebabkan ia pernah cidera pada bagian kepalanya terkena terjangan kaki-kaki kuda pada usia kanakkanaknya. Dan ditambah gemblengan keras dari Gurunya si Manusia Aneh Pantai Selatan alias si manusia Banci. Sehingga Roro berwatak aneh. Yang terkadang orang sulit menerkanya.

Suara-suara rintihan di malam gelap, di dalam makam yang banyak berjajar kuburan-kuburan lama itu, bukannya membuat Roro jadi takut. Bahkan semakin penasaran untuk mengetahui setan apakah yang berada di situ, untuk menakut-nakuti orang. Terpaksa ia mendekam di sisi makam, dengan memandang tajam ke arah setiap tempat.

Kembali terdengar suara rintihan yang terkadang samar-samar, namun terkadang agak keras. Walaupun bulu kuduk Roro Centil agak bergidik seram, tetap penasaran. Dan mendekari suara yang samar-samar itu, dengan beringsut perlahan. Akhirnya ia mengetahui suara itu berasal dari dalam gundukan kuburan yang cungkupnya terbuat dari batu.

“Tak mungkin orang yang sudah mati masih bisa menangis, atau merintih…! Pasti ada orang di dalam. Atau mungkin juga di sinilah sarang tempat sembunyi si paderi gila itu…!” Desis Roro dengan suara perlahan. Entah mengapa Roro amat yakin akan adanya lubang rahasia di makam itu. Segera ia meraba-raba. Seperti mencari sesuatu yang dapat memungkinkan adanya lubang pintu masuk ke dalam kuburan.

Namun tak dijumpainya. Akhirnya Roro dapat akal. Segera saja ia tempelkan telapak tangannya pada batu sungkup kuburan itu. Dan alirkan tenaga dalamnya yang berhawa panas. Hingga batu sungkup kuburan itu tampak kepulkan asap tipis.

Sementara itu di dalam ruangan bawah tanah, Kuti mengumbar nafsu buasnya. Ternyata di samping mempraktekkan ilmu sesatnya, Kuti juga seorang yang amat sadis. Wanita korbannya telah disiksanya terlebih dulu. Yaitu dengan mengigiti sekujur tubuh sang korban hingga luka-luka. Tentu saja bagaikan seekor kambing yang mau disembelih, sang korban merintih kesakitan.

Tubuh yang telah ditotoknya itu cuma bisa menggeliatgeliat menahan sakit yang amat sangat. Hal mana ternyata ia turuti dari dalam Kitab Ular itu. Wanita itu ternyata bukan wanita biasa, karena ia juga memiliki kepandaian ilmu silat, dan bertenaga dalam cukup baik. Hal itulah yang membuat Kuti gembira. Karena menurut Kitab Ular yang akan menambah tenaga dalam orang yang mempraktekkannya, adalah diutamakan wanita itu gadis yang memiliki tenaga dalam.

Selesai menyiksanya dengan gigitan-gigitan di sekujur tubuh gadis itu, Kuti segera mencekoknya dengan pel ramuan yang dibawanya dari Nepal. Pel perangsang, yang punya pengaruh luar biasa. Hingga tak lama berselang, terjadilah perubahan-perubahan pada sikap sang korban.

Di malam yang lengang dan menyeramkan itu, seperti ada hawa aneh yang membuat seekor serigala buas, harus tunduk pada seekor kambing… Di mana sang kambing seperti kerasukan setan menerkam sang serigala dan melumatnya dengan lahap. Napasnya tampak tinggal satu-satu. Sepasang matanya kian meredup. Akhirnya tubuh yang telah tak bertenaga itu, diam tak bergeming lagi.

Sementara cuaca malam semakin mencekam. Beberapa ekor kelelawar yang lewat membuat Roro cukup terkejut. Batu sungkup kuburan itu telah berubah menjadi panas. Dan rumput-rumput serta lumut yang tumbuh di batu itu seketika menjadi kering.

Sekonyong-konyong Kuti rasakan udara di dalam ruangan bawah tanah itu menjadi panas. Ia sudah balikkan tubuhnya yang rebah tertelungkup. Sementara ia menyeka peluhnya, laki-laki bertubuh jangkung ini merasa perlu membuka lubang hawa di atas langit-langit ruangan. Segera ia sudah sambar jubahnya, dan beranjak dari pembaringan. Gerakannya telah berubah menjadi ringan.

Dan hal itu memang selalu bertambah setiap ia mempraktekkan ajaran pada Kitab Ular itu. Ia sudah segera gerakkan kaki menuju tangga batu ke atas. Hawa panas itu membuat ia berkeringat, dan ia perlukan hawa segar yang masuk. Sesaat kemudian lengannya telah bergerak, memutar sebuah batu persegi. Dan segera saja sungkup batu di atasnya terbuka. Ia melongok sejenak keluar untuk menghirup udara segar. Akan tetapi Kuti jadi terkejut, karena di samping batu kuburan telah tergolek sesosok tubuh.

“Aih…!? Seorang wanita…!” Desisnya dengan suara tertahan. Dari keremangan cahaya bulan yang sudah tersembul di balik dedaunan, jelas tidak salah apa yang telah dilihatnya. Kuti berfikir cepat. Sebelah lengannya telah bergerak cepat untuk menotoknya. Hingga amanlah ia dari kekhawatiran.

Selanjutnya tanpa ayal lagi, ia sudah pondong tubuh wanita itu memasuki ruangan di bawah tanah, dengan menuruni anak tangga dari batu. Dan sekejap ia sudah baringkan tubuh itu dipembaringan. Sepasang matanya menatap tajam pada sosok tubuh yang baru di bawanya itu, dan dengan liar pandangannya merayapi sekujur tubuh itu. Wajahnya pun segera tampilkan senyuman menyeringai. Terdengar desis suaranya seperti berbisik…

“Bagus…! Pucuk dicinta, ulam pun tiba…! He he he… tak susah-susah aku mencarinya. Ternyata si Pendekar Wanita itu telah antarkan dirinya padaku…!” Akan tetapi memandang pada sosok tubuh wanita korbannya di pembaringan itu, Kuti jadi mendengus. “Heh…! Gadis ini sudah tak berguna. Biarlah ia berkubur di sini! Aku perlu ganti suasana…!” Gumam Kuti.

Pada saat itu terdengar suara teriakan dari atas ruangan. “Heiii…! Paderi Palsu…! Keluarlah kau …!” Kiranya yang berteriak adalah Ginanjar. Yang telah mencari Roro, dan menduganya pergi ke makam kuno ini.

Ginanjar memang belum mengetahui adanya ruangan di bawah tanah itu. Ia berteriak dari sisi makam. Apa lagi pemuda ini memang seorang yang paling takut dengan hantu. Hingga ia berteriak dari sisi makam saja. Karena ia tak melihat adanya Roro Centil, sengaja ia mencoba berteriak. Dengan harapan siapa tahu, si penculik gadis itu dapat dijumpai, dan keluar dari tempat persembunyiannya.

Tentu saja hal itu membuat Kuti jadi terkesiap. Segera ia telah pondong tubuh Roro. Dan dengan kebingungan, ia mencari jalan lain untuk keluar dari ruangan bawah tanah itu. Beruntung ia menjumpainya. Dan segera saja bergerak memasuki lorong gelap, yang tersembunyi itu. Obor kecil penerang kamar itu telah dimatikannya terlebih dulu.

Demikianlah, Kuti berhasil keluar dari makam kuno itu dengan melalui jalan rahasia. Dan menyembul di luar makam. Dari sana ia segera berkelebat cepat untuk segera pergi menuju ke arah Gedung kuno, tempat tinggalnya selama ini.

Di kamar tertutup gedung kuno itu, Kuti sudah segera akan lakukan penyiksaan terhadap Roro. Akan tetapi ia batalkan, karena ia amat menyayangi kemontokan tubuh si Pendekar Wanita Pantai Selatan. Sayang ia tak berhasil mencapai maksudnya, karena Roro memakai benda dari lapisan baja yang sukar dibukanya. Sepasang kaki Roro seperti sepasang kaki area batu, yang sukar disingkirkan.

Hingga terpaksa Kuti kembali menotoknya. Dan ditinggalkannya tubuh gadis pendekar Wanita itu. Ia bermaksud menghubungi kedua adiknya. Pada saat Kuti pergi, ia berpesan pada seorang kacung tua bernama Tonga, agar menjaga kamarnya. Kacung tua itu adalah seorang laki-laki berperawakan kecil. Dengan muka lancip, dan tulang pelipis menonjol keluar. Berbicara dengan kacung itu, Kuti hanya memakai bahasa isyarat, karena si kacung itu seorang yang tuna wicara alias gagu.

Selesai berpesan, Kuti beranjak pergi dengan cepat. Namun pada saat itu Roro Centil telah gerakkan tubuhnya melepaskan totokan. Dan sesuatu yang amat berharga, ternyata telah tertinggal di bawah kasur pembaringan Kuti. Yaitu Kitab Ular. Roro Centil segera membenahi pakaiannya, dan benahi pula kitab yang ditemukannya itu. Lalu dimasukkan dalam buntalannya. Selanjutnya ia telah keluar dari kamar itu dengan melalui jendela, dan berkelebat cepat tinggalkan gedung itu.

Tapi di belakang gedung yang dilewatinya, ia bertabrakan dengan si Kacung tua Tonga yang gagu itu, hingga buntalannya terlepas. Terkejut Roro Centil ketika tahu-tahu dengan gerakan cepat, si kacung gagu itu telah menyambar buntalan pakaiannya. Dan selanjutnya dibawa kabur.

Serentak Roro sudah mengejarnya dengan keluarkan bentakan; “He!? Kunyuk tua…! Kembalikan buntalanku…!” Teriak Roro seraya mengejar.

Ternyata si kacung gagu itu punya gerakan cepat dan lincah. Larinya tidak menuju ke satu arah, akan tetapi berkelebatan dengan berputar-putar, seperti mengajak Roro main kucing-kucingan. Pada sebuah tikungan si laki-laki bertubuh kecil kurus itu menghilang.