DAENG telah kembali melompat ke dalam ruang tengah, dan menyambar sebuah pedang yang tergantung di dinding. Lalu berkelebat cepat menuju kembali ke luar gedung. Para penjaga cuma saling pandang, ketika Daeng melompat keluar, dan dengan cepat melompat ke atas punggung kudanya.
Kejap selanjutnya, ia telah berteriak keras menghardik sang kuda yang segera meringkik keras. Beberapa kali sang kuda berputaran seperti tak mau menurut perintah sang majikan. Namun akhirnya lari mencongklang dengan cepat keluar halaman. Dan selanjutnya telah terdengar derapnya semakin menjauh dari halaman gedung.
Lagi-lagi Mandra terkejut, melihat sang Bupati Daeng Panuluh telah keluar lagi dari dalam gedung. Dan kini memacu kudanya bagai dikejar setan. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Mandra segera tancap kakinya untuk mengejar melalui jalan semak. Ingin ia mengetahui apa yang terjadi. Lapat-lapat terdengar suara teriakan Daeng.
“Senapati Keparaaat…! Tunggu aku…!” Dan dengan derap langkah kuda yang menggebu, Daeng Panuluh memacu sang kuda sekencang-kencangnya.
Beruntung Wira Pati telah jalankan kudanya dengan tidak terlalu cepat, karena ia berfikir tak perlu terburu-buru. Tugas adalah tugas. Tapi rasa lelah di sekujur tubuhnya belum lagi hilang. Tentu saja tak lama Daeng dapat menyusulnya. Terkejut Wira Pati mendengar suara derap kuda di belakangnya, yang seperti berlari dengan cepat. Segera ia telah putar kudanya untuk melihat. Akan tetapi terlambat, tahu-tahu…
Des…! perut kudanya telah kena seruduk kuda Daeng Panuluh. Sebenarnya hal itu tak akan terjadi seandainya Wira Pati mengetahui Daeng datang dengan kemarahan meluap. Sehingga tak ampun lagi kedua kuda sudah terjungkal jatuh. Termasuk kedua penunggangnya. Namun Wira Pati dengan tangkas telah dapat jatuh dengan berdiri. Karena sebagai seorang senapati yang sudah terlatih, Wira Pati bukanlah Wira Pati kalau ia harus jatuh ngusruk terguling-guling.
Baca novel ini di Temanin.site
Lain halnya dengan Daeng, ia telah jatuh bergulingan. Namun segera sudah kembali bangun berdiri. Beruntung pedangnya tidak terlepas dari genggamannya. Segera saja ia telah membentak seraya menerjang langsung menebas batang tubuh si Senapati. “Manusia keparat…! Kau telah nodai anakku…! Dia anakku, manusia iblis! Kubunuh kau…!”
Trang! Trang! Trang…!
Tiga serangan beruntun telah segera dapat ditangkis oleh Wira Pati. Laki-laki ini terkesiap bukan main, karena tahu-tahu Daeng menerjangnya bagaikan gila. Namun ia sudah mencabut tombak pendeknya, dan menangkis seranganserangan ganas itu.
“Daeng…! Aku mana mengetahui dia anak gadismu…? Salahmu sendiri, mengapa tak menitahkan orang untuk menjaganya…?” Bentak Senapati ini dengan melotot gusar.
Akan tetapi Daeng sudah tak perduli lagi. Ia tak akan puas kalau belum melihat manusia di hadapannya itu direncah lumat dengan pedangnya. Kembali ia menerjang. Pedangnya berkelebatan dengan serabutan. Agaknya ia sudah terlalu emosi. Kemarahannya sudah melebihi takaran. Karena siapa yang takkan sakit hati jika mengalami nasib seperti si Bupati ini. Walaupun yang dihadapannya itu mertuanya sendiri pun, tentu akan dicincangnya sampai lumat.
Wut! Wut! Wut…!
Kembali pedang di tangan Daeng berkelebatan, Namun Wira Pati telah berhasil menghindar. Tiba-tiba wajahnya tampak menyeringai sinis. Dan ia telah keluarkan bentakan keras.
“Baiklah Daeng, kalau kau menghendaki kematian…! Aku tak akan segan-segan untuk mencabut nyawamu…!” Selesai berkata, tiba-tiba tubuh Senapati Wira Pati telah berkelebat di antara sinar pedang Daeng Panuluh yang bagaikan tiada berhenti menerjangnya. Tombak pendek di lengan laki-laki itu tampak membersitkan sinar, tatkala diputarkan dengan cepat menghalau kilatan pedang Daeng.
Traaang…! Terdengar suara benturan senjata. Daeng tersentak, karena tiba-tiba pedangnya terlepas dari genggamannya. Belum lagi ia sadar akan kelanjutannya, tahu-tahu…
Jroos…! Laki-laki bertubuh agak gemuk ini telah perdengarkan teriakannya ketika tombak pendek yang terbelit kain sutera merah itu membenam ke jantungnya. Bagai terpaku Daeng berdiri terhuyung. Sepasang matanya seperti menyala menatap sang Senapati yang berdiri di hadapannya. Dan tampakkan senyum dingin pada lakilaki di hadapannya.
“Manusia keparatt…! Kau… kau kejam! Kau… ib… iblisss…” Suara Daeng seperti mendesis parau.
Akan tetapi Wira Pati telah sentakkan ujung tombaknya yang membenam di jantung Daeng. Terdengar keluhan Bupati yang bernasib sial itu. Darah segera memuncrat dan memercik menyirami tubuhnya, disertai robohnya tubuh laki-laki itu. Yang selanjutnya telah berkelojotan bagai ayam disembelih. Namun sekejap telah terdiam, setelah menyentakkan tubuhnya sekali lagi seperti gerakan terakhir melepas nyawanya, untuk berpindah ke alam Akhirat.
Sang Senapati perdengarkan suara dengusan di hidung, lalu dekati tubuh Daeng, dan bersihkan ujung tombaknya di baju laki-laki yang telah tak bernyawa itu. Selanjutnya telah selipkan kembali senjatanya ke belakang punggungnya. Saat berikutnya ia telah putarkan tubuh dan palingkan kepala untuk mencari kudanya. Ternyata sang kuda tunggangannya tidak pergi jauh. Tampak dengan sekali lompat, Wira Pati telah berada di dekat kudanya.
Kejap berikutnya ia telah melompat cepat ke atas pelana, dan selanjutnya sudah terdengar teriakannya menghardik binatang itu. Seraya hentakkan kaki ke perut kuda. Maka sekejap kemudian binatang itu telah mencongklang dengan cepat, tinggalkan tempat itu.
Begitu tubuh Senapati itu lenyap di balik tikungan jalan, sesosok tubuh sudah melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Ternyata Mandra adanya. Tercenung pemuda itu menatap tubuh sang Bupati yang dibencinya. Tuntutan hatinya telah terlaksana. Akan tetapi Mandra jadi berfikir dalam benaknya.
Ternyata orang-orang besar yang punya kedudukanpun punya masalah. Bahkan berbagai masalah! Dari masalah yang bersih dan murni, sampai masalah yang paling kotor. Yang kesemuanya juga meminta korban darah dan nyawa! Terdengar pemuda pandai besi ini menghela napas. Namun tak lama ia segera berlalu untuk tinggalkan tempat itu.
Tubuh Daeng cuma diam membisu. Dia sudah tak lagi dapat fikirkan jabatannya. Tak dapat lagi mengetahui mana jalan lurus, dan mana jalan sesat. Karena semasa hidupnya pun dia telah tak mau tahu ke mana arah langkah perbuatannya. Yang dipentingkan hanyalah melulu kepuasan duniawi. Kepuasan yang tak pernah ada habisnya…!
Juga Daeng tak akan pernah tahu, kalau dua butir pel yang ia berikan untuk anak gadisnya itu, justru telah membawa kematian sang anak yang dicintainya itu secara cepat. Karena dua butir pel pemberian paderi Kuti itu, bukanlah pel obat penawar dari ramuan yang telah ia berikan pada anak gadisnya. Melainkan dua butir pel racun. Karena tak ada obat penawar bagi ramuan yang telah ia berikan atas pesanan Bupati Daeng Panuluh itu.
Kiranya waktu itu Daeng yang telah bagaikan seekor serigala yang keranjingan daging mentah, telah menerima datangnya seekor kelinci mulus. Pesanan itu adalah khusus untuk dirinya. Mana mungkin Daeng sia-siakan kesempatan baik itu dengan percuma. Tiada nikmat menyantap seekor kelinci tanpa bumbu masakan penyedap. Sayang… di saat ia akan menyantap, laki-laki keranjingan ini telah terhenyak bagaikan disambar petir, karena sang kelinci terlalu mustahil untuk dijadikan santapannya. Seekor harimau ganas pun tak akan menerkam anaknya sendiri.
Pepatah itu memang benar. Satu tanda tahi lalat di bawah pusar sang kelinci itu membuat ia tak jadi laksanakan maksudnya. Terpaksa ia memanggil sang pembantunya untuk menyediakan santapan nasi hangat dan sayur, serta ikan rawa yang disukainya. Dalam kepanikan itu ia segera mengisi perut sekenyang-kenyangnya.
Sementara ingatannya telah terbayang pada seorang bocah berusia 10 tahun yang telah lenyap ditelan gelombang, di saat perahunya diserang badai. Ia terdampar dan selamat dari maut. Namun sang bocah perempuannya telah lenyap tanpa diketahui mati hidupnya. Delapan tahun cukup lama untuk ia melupakannya. Akan tetapi pertemuan itu telah di luar dugaan. Sang bocah perernpuan itu telah menjelma jadi seorang dara rupawan. Yang nyaris jadi korban perbuatan aibnya.
Tergesa Daeng menjumpai ketiga sahabatnya si Tiga Paderi. Namun kedatangannya sudah terlambat. Karena Senapati yang gagah perkasa itu telah menghancur leburkan segala-galanya. Bahkan nyawanya sendiri pun telah melayang pergi. Sungguh suatu kehancuran total yang amat mengenaskan.
Mandra melangkah pergi dengan langkah gontai. Tapi kini ia sudah merasa sedikit lega karena tak lagi mengurusi kemelut yang menggebu-gebu dalam jiwanya. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras yang membuatnya terkejut.
“Hantikan langkahmu, pembunuh!” Dan sekejap telah berkelebatan muncul tiga sosok tubuh. Belum lagi ia sempat menatap ketiga wajah sosok tubuh itu, salah seorang telah menyerangnya.
Buk! Satu hantaman pukulan dengan telak telah mengenai dadanya. Tak ampun lagi Mandra terjungkal bergulingan dengan perdengarkan keluhannya. Ternyata ketiga sosok tubuh itu tak lain dari si ketiga Paderi Lereng Gunung Wilis. Hantaman keras itu dilakukan oleh Kuti. Hingga si pemuda itu tampak muntahkan darah segar yang menggelogok keluar dari mulutnya.
“He he he… Biar aku yang menambahi dengan belaian Kipas Maut ku…!” Berkata Lembu Alas si paderi pendek. Yang segera saja sudah melesat untuk menghunjamkan ujung kipasnya. Akan tetapi pada saat itu berkelebat sebuah bayangan menyambar ujung kipas.
Trang…! Lembu Sura berteriak tertahan karena rasakan lengannya kesemutan. Dan tanpa ia sadari Kipas bajanya telah terlepas dari genggamannya. Dengan gerak cepat ia telah melompat mundur empat tindak. Dan dengan sebat telah gerakkan lengan untuk kembali menangkap senjatanya.
Terkejut ketiga paderi itu melihat sosok tubuh di hadapannya. Yang tak lain dari Roro Centil, si Pendekar Wanita Pantai Selatan. Sebelah lengannya tampak memegang senjata yang mirip mainan itu. Yang diayun-ayunkan di atas ujung kakinya. Dengan senjata anehnya itulah Roro Centil menggagalkan serangan maut si paderi pendek Lembu Alas.
Ketiga paderi menatap dengan terpaku seperti terkesima. Namun Kuti tiba-tiba telah perdengarkan suara tertawanya. Walaupun diam-diam hatinya agak gentar. Namun gengsi juga kalau harus jeri pada seorang gadis semuda itu. Apa lagi Kuti masih berharap dapat merebut kembali Kitab Ularnya.
Ternyata suara tertawa Kuti telah mengandung tenaga dalam yang hebat, yang ditujukan pada gadis Pendekar. Terasa juga getaran tenaga suara tertawa itu yang seperti membawa pengaruh hebat. Karena tampak tubuh Roro seperti terhuyung mau jatuh. Melihat demikian si paderi berkulit hitam alias Kebo Ireng, segera meniup Seruling Hitamnya. Hingga membersit keluar suara yang bagaikan menusuknusuk lubang telinga. Semakin terhuyunglah tubuh Roro Centil.
Dan pada saat itu dengan diam-diam, Kuti telah keluarkan sabuk suteranya. Sementara suara tertawanya seperti terus menggema tiada henti. Roro Centil tampak lagi-lagi terhuyung lemah, dengan sepasang mata setengah terkatup. Tertawa menyeringai si paderi pendek. Segera ia telah siapkan tasbih hitam dan kipasnya untuk menyerang. Ternyata Kuti telah memberi isyarat. Maka dengan berbareng kedua tubuh itu segera menerjang Roro. Tasbih hitam bergerak ke arah lengan untuk menggubat. Dan kipas baja meluncur deras untuk menotok.
Sementara Kuti luncurkan sabuk suteranya merapas senjata, disertai gerakan sebelah lengannya manghantam ke arah paha. Kuti memang sengaja mau melumpuhkannya. Karena walau bagaimanapun tak tega ia membunuh gadis secantik itu. Kegagalannya yang dulu seperti membuat ia merawa kecewa. Kini ia berharap dapat mengulangi niatnya untuk yang kedua kalinya.
Tampaknya Roro akan segera terkena beberapa serangan kilat itu. Akan tetapi kedua paderi ini jadi melengak, karena tubuh sang pendekar itu tahu-tahu seperti roboh ke belakang. Aneh! Dalam keadaan terhuyung demikian, ternyata serangan berbareng mereka telah mengalami kegagalan total.
Segera saja Kuti merobah serangan. Sabuk Suteranya telah meluncur lagi ke beberapa bagian tubuh Roro. Namun lagi-lagi tubuh Roro Centil terhuyung mau jatuh ke kiri dan ke kanan. Justru gerakan demikian itu telah pula membuat gagalnya serangan paderi jangkung itu. Gila…! Teriak Kuti dalam hati. Dan ia telah sarangkan beberapa pukulan keras bertenaga dalam secara beruntun. Kali ini Kuti sadar kalau ia sudah kembali terkecoh. Gadis Pendekar ini banyak akal bulusnya! Berfikir Kuti.
Duk! Duk! Des…!
Tiga hantaman itu ternyata telah disambuti Roro, seperti gerakan yang tak disengaja. Akan tetapi hebat akibatnya. Paderi Kuti ini telah perdengarkan teriakan kaget. Tubuhnya terjengkang ke belakang lima-enam tombak. Sedang tubuh Roro Centil justru melambung ke atas. Ketika turun lagi telah menukik seperti burung alap-alap menyambar mangsanya. Senjata anehnya telah berputar mendesing menyambar kepala.
Sementara itu si paderi bernama Kebo Ireng telah hentikan tiupan serulingnya. Kini melihat kakaknya dalam bahaya, ia segera hantamkan Seruling Hitamnya untuk menangkis senjata aneh itu.
Tring…! Terdengar beradunya dua senjata. Kepala Kuti lolos dari serangan si Rantai Genitnya Roro Centil. Akan tetapi sebuah tendangan kilat telah membuat Kuti kembali terlempar beberapa tombak bergulingan.
Menggeram laki-laki berkumis tebal ini. Ia sudah segera bangkit berdiri, walau terasa dadanya sesak. Tiba-tiba Kuti telah berikan isyarat untuk menerjang berbareng pada kedua adiknya. Segera saja ketiga paderi palsu itu saling berlompatan menerjang Roro. Berkelebatanlah beberapa senjata ke arah tubuh si Pendekar Wanita Pantai Selatan.
Namun Roro telah segera pergunakan jurus Tarikan Bidadari Mabuk Kepayang. Segera saja terlihat tubuh gadis itu bagaikan tengah menari-nari di antara kelebatannya senjata. Namun hebatnya, setiap serangan telah berhasil dihindarkan. Bahkan Roro tidak cuma membisu saja, melainkan sambil perdengarkan tertawa mengikik, yang kedengarannya membuat orang jadi meremang bulu tengkuknya.
Sementara itu Mandra dalam keadaan yang amat parah. Karena Kuti telah menyerangnya dengan serangan pukulan bertenaga dalam penuh. Hingga lagi-lagi Mandra harus muntahkan darah segar. Pada saat itu telah berkelebatan ke arahnya dua sosok tubuh seraya diiringi teriakan terkejut.
“Mandra…!? Oh! Kau kenapakah…?”
Teriakan itu ternyata dari suara seorang gadis berbaju merah. Yang tak lain dari Roro Dampit. Sementara yang seorang lagi adalah Sentanu. Segera mereka lakukan pertolongan pada pemuda itu. Dengan menggotongnya ke tempat yang aman. Sesaat kemudian Roro Dampit telah balikkan tubuh dan berdiri memandang pada tempat pertarungan. Sepasang matanya tampak seperti menyala melihat ketiga paderi yang tengah mengerubuti Roro Centil. Segera saja ia telah gerakkan lengan mencabut senjatanya, sepasang ruyung dari kedua belah pinggangnya. Seraya berkata;
“Aku harus bantu menggempur tiga manusia durjana itu. Kau bantulah menolongnya sobat Sentanu…!” Sekejap ia telah melompat ke arah pertempuran. Dan selanjutnya sudah perdengarkan bentakan nyaring. Sepasang ruyungnya yang terdiri dari tiga ruas besi yang terikat rantai segera berkelebatan menerjang deras ke arah dua orang paderi.
Kuti mendelik gusar. Nyaris saja dadanya kena terhantam. Sementara si paderi bernama Kebo Ireng telah menangkis dengan Seruling besinya. Lengan Kuti bergerak menghantam. Tak…! Paderi ini menjerit parau ketika sebuah kerikil terlebih dulu menghantam telak lengannya. Hingga pukulannya telah ia tarik kembali.
Sementara Roro Dampit melengak heran, telah terdengar suara tertawa di atas pohon. Ternyata seorang pemuda berbaju putih. Siapa lagi pemuda itu kalau bukan Ginanjar, murid mendiang si Pendekar Bayangan Ki Bayu Seta. Mendengar suara tertawa gelakgelak itu membuat Kuti jadi mendongak ke atas. Akan tetapi justru bandulan si Rantai Genit hinggap telak di kepalanya.
Thok…! Lagi-lagi Kuti berteriak kesakitan. Tampak kepalanya kebulkan asap seperti uap putih. Tak ampun lagi si Paderi jangkung ini sudah berjingkrakan memegangi kepalanya, sambil berteriak-teriak.
Ginanjar di atas pohon semakin gelak terbahak-bahak. “Ha ha ha … ha ha… Hebat kau Roro…! Kepala orang kau buat benjol sebesar telur angsa! Ha ha ha…lucu! Lucu…! Ada monyet gundul sedang menari…!”
Ginanjar terpingkal-pingkal melihat Kuti yang berjingkrakan. Akan tetapi suara tertawa si pemuda itu jadi terhenti, karena sekonyong-konyong si paderi jangkung telah bergerak melompat menyerudukkan kepalanya ke batang pohon yang dinaikinya.
Kraaakkk…! Batang pohon berderak patah yang kemudian roboh dengan suara bergemuruh. Namun Ginanjar telah segera melompat turun, dan jejakkan kaki ke tanah. Terlihat tubuh Kuti terhuyung-huyung. Kepalanya telah mengalirkan darah. Akan tetapi aneh…! Ternyata Kuti kembali menyerudukkan kepalanya ke batang pohon lainnya. Bahkan ke sebuah batu besar yang tak jauh berada di tomput itu.
Berulang kali ia menumbukkan kepalanya, hingga darah bercucuran kian banyak. Entah apa yang terjadi sehingga Kuti berlaku demikian. Hingga kemudian yang terlihat adalah batok kepala Kuti yang remuk, ketika ia menghantamkan sekali lagi pada batu. Tampak tubuh laki-laki itu berkelojotan mengerikan. Lalu sesaat kemudian telah diam untuk tak berkutik lagi.
Terkejut Ginanjar, juga si wanita baju merah. Yang segera lompat ke belakang. Sementara itu Roro Centil tetap sibuk bertarung. Tiba-tiba terdengar teriakan Roro yang melengking tinggi. Suara lengkingan yang mengandung tenaga dalam hebat. Membuat Lembu Alas dan Kebo Ireng jadi terpaku terkesima. Pada saat itulah tubuh Roro melesat ke atas tujuh-delapan tombak. Ketika menukik lagi telah meluncur deras dengan senjata si Rantai Genitnya. Segera saja terdengar suara batok kepala yang pecah.
Prok…! Prok…! Tak ampun lagi robohlah tubuh kedua paderi palsu itu dengan berkelojotan, tanpa bisa mengeluarkan teriakan lagi. Sekejap antaranya kedua manusia durjana itu telah tewas.
Kejadian itu berlalu dengan cepat. Hingga ketika semua orang tengah terkesiap, tubuh si Pandekar Wanita Pantai Selatan tahu-tahu telah berkelebat cepat dan sekejap telah lenyap. Tapi di kejauhan sudah terdengar suara tertawanya yang mengikik panjang.
Ginanjar baru tersentak dari terkesimanya. Segera ia sudah berkelebat mengejar seraya berteriak; “Rorooo! Rorooo…!” Dan tubuh pemuda berbaju putih itu pun sekejap kemudian segera lenyap.
Keadaan di tempat itu kembali sunyi. Si gadis baju merah segera tersadar dari terpakunya, ketika mendengar suara keluhan Mandra. Tampak sepasang lengan pemuda itu mencekal erat lengan Sentanu. Keadaan Mandra semakin parah. Roro Dampit segera memburunya. Terlihat Sentanu mendekatkan sebelah telinganya pada bibir Mandra yang tampak semakin hilang suaranya. Entah apa yang dibisikkan pemuda itu pada Sentanu. Cuma yang terlihat laki-laki tampan berkumis kecil itu manggut-manggut dengan terharu.
Selang sesaat setelah pemuda itu tampakkan senyumannya, segera kepalanya terkulai. Sentanu terkejut, dan mengguncang-guncangkan tubuh sahabatnya itu. Akan tetapi Mandra telah wafat. Nyawanya telah melayang, kembali menghadap Tuhan. Tinggalkan jasadnya yang telah remuk isi dadanya akibat pukulan keji si paderi palsu bernama Kuti.
Roro Dampit mengusap air matanya yang telah mengalir di kedua pipinya. Betapa ia merasa kehilangan. Seolah sahabatnya itu sudah bukan orang lain lagi. Karena mereka sudah sangat akrab. Tampak Sentanu pun menatap sedih. Lengannya sudah lantas bergerak mengusap wajah pemuda itu. Yang segera sepasang matanya terpejam.
Tak lama kemudian laki-laki bekas perwira Kerajaan Medang itu sudah bangkit berdiri dengan memondong tubuh sahabatnya yang sudah menjadi mayat. Dan langkahkan kaki untuk segera tinggalkan tempat itu. Di belakangnya mengikuti si gadis baju merah yang menundukkan kepala dengan melangkah gontai.
Senja semakin temaram. Cahaya merah yang membersit di ujung iangit, sebentar lagi akan sirna. Timbulkan bayang-bayang yang memanjang, dari dahan-dahan pohon dan dua sosok tubuh itu yang terus melangkah menuju arah pedesaan.
Pada sebuah persimpangan jalan, terdengar ringkik seekor kuda yang segera berlari menghampiri ke arah laki-laki itu. Si gadis baju merah meraih tali kendalinya yang terjuntai di leher binatang itu. Lalu menuntunnya di belakang tubuhnya. Cahaya mentari sebentar lagi akan lenyap.
Akan tetapi mereka yakin akan adanya cahaya yang membersit lagi esok pagi. Seperti juga harapan semua makhiuk di atas bumi. Makhluk-makhluk yang rindukan kedamaian. Rindukan kesejahteraan. Walau Dunia terus berubah dengan tingkah polah dari makhluk-makhluk isinya. Namun kedamaian akan tetap didambakan, sebagai perlambang cinta kasih yang hakiki.