Rahasia Kitab Ular Bab 1

TIGA orang gadis itu masih berjongkok di sisi sebuah kuburan yang masih baru. Keadaan di tempat itu kembali sunyi hening mencekam. Tukang-tukang gali kubur sudah berangkat pulang dengan membawa cangkulnya masing-masing, dengan girang karena persenannya hari itu cukup besar.

“Gadis yang baju merah itu royal sekali… Upah untuk kita bertiga ini cukup untuk kita makan dua pekan.” Salah seorang berkata.

“Ha ha ha… Benar Kang, agaknya ia membawa banyak uang!” Menyahut kawannya yang berhidung melengkung bagai paruh burung betet.

Sementara yang seorang lagi agaknya sudah tidak sabar untuk menerima pembagian upahnya. “Sudahlah kita bagi di sini saja, aku mau terus pulang menemui anak istriku…!”

Yang memegang uang hasil upah mereka bertiga itu tiba-tiba palingkan kepalanya pada kawannya, sambil tersenyum. “Aha… Rupanya si Jasiman sudah kangen betul pada maknya si Blotong di rumahnya…!” Katanya sambil picingkan mata pada si hidung betet di sebelahnya yang jadi tertawa ngakak.

Keruan saja muka Jasiman yang bertubuh kurus itu jadi merah padam dan terasa panas mendengar dirinya ditertawakan. “Sudahlah cepat Gento, kau berikan jatahnya… kasihankan, nanti kalau memble di sini kan bisa gawat! Ha ha ha… ha ha…”

Baca novel ini di Temanin.site

Si hidung betet kembali menggoda. Tampaknya si pemegang uang yang bernama Gento itu pun tidak mau menggoda lebih jauh. Segera ia berikan jatah buat kawannya itu.

“Nah, ini bagianmu Jasiman, cepatlah pulang, dan… eh tunggu dulu…” Tiba-tiba Gento sudah berteriak lagi ketika Jasiman dengan cepat menyambar uang upahnya itu, dan sudah mau ngeloyor pergi. “Kencangkan dulu tali celanamu jangan sampai kedodoran di jalan, nanti di rumah baru pelan-pelan kau lepaskan! Ha ha ha… ha ha…”

Jasiman tampak mendongkol sekali, segera tanpa perdulikan ejekan itu ia sudah putar tubuh dan bergegas pergi tanpa menoleh lagi, diikuti suara tertawa kedua kawannya itu yang terbahak-bahak.

Seekor kuda berjalan dengan perlahan meniti jalan setapak itu… dengan penunggangnya seorang laki-laki tampan dan gagah, namun wajahnya menampilkan kemurungan. Pakaiannya berwarna putih dan terbuat dari bahan yang kasar. Ketika melihat kedua orang dihadapannya, ia segera percepat jalan kudanya. Sementara kedua tukang gali kubur yang belum beranjak pergi dari situ, jadi arahkan mata untuk melihat kedatangannya.

“Maaf pak. Apakah jalan ini bisa terus tembus ke Makam…?” Ia segera bertanya setelah memberhentikan langkah kudanya.

“Oh, benar Den,…! Berjalanlah terus. Nanti di ujung jalan ini membeloklah ke kanan. Makam itu segera akan terlihat…!” Menyahuti si hidung betet, dan segera minggir untuk memberi jalan.

“Terima kasih, pak…. tapi…” Laki-laki ini tidak terus langkahkan kudanya, karena sambil berkata ia telah melompat turun dari kudanya. “Namaku Sentanu…!” Ternyata ia telah perkenalkan dirinya pada kedua orang itu, yang segera menyambuti uluran tangannya.

“Apakah Raden masih sanak famili yang meninggal?” Bertanya lagi si hidung betet.

“Oh, bukan… aku hanya sahabatnya!” Kata laki-laki itu, yang segera sudah menyambung kata-katanya lagi. “Maaf, pak. Harap tidak memanggilku Raden. Aku orang biasa saja seperti juga bapak-bapak.”

Si hidung betet mengangguk-angguk, diikuti oleh Gento ketika mata Sentanu singgah pada wajahnya.

“Apakah bapak-bapak baru saja selesai menggali kubur…?” Bertanya lagi si penunggang kuda itu. Kedua orang itu dengan berbareng sama-sama anggukkan kepala. “Oh, ya … maaf! Masih adakah orang di sana…?” Bertanya lagi ia, yang segera disahuti oleh Gento cepat.

“Masih ki sanak! Ada tiga orang wanita lagi di sana. Sedang yang dua orang sudah berangkat pergi…!”

“Apakah kedua orang yang pergi itu wanita juga?” Tanyanya lagi.

“Rasanya sih laki-laki dan wanita. Kata orang yang wanita itu adalah si Pendekar Wanita Pantai Selatan, yang bernama Roro Centil…” Menjelaskan Gento.

Laki-laki bernama Sentanu ini tampak kerenyitkan alisnya, sementara bibirnya menggumam perlahan… “Pendekar Wanita Pantai Selatan?” Namun ia sudah cepat-cepat bertanya. “Dari manakah bapak-bapak mengetahuinya?”

Gento agak aneh juga didesak dengan pertanyaan-pertanyaan itu, namun ia tak mau mengecewakan orang muda di hadapannya itu. Segera ia menyahuti. “Aku mendengarnya secara kebetulan saja dari dua orang yang sedang bercakap-cakap ketika lewat di sebelah kami…! Mereka berbisik-bisik membicarakan gadis yang di sebelah pemuda itu, ketika keduanya tengah mengantar jenazah untuk dibawa ke Makam…!”

Kini berbalik Sentanu yang manggut-manggut sambil berkata: “Baiklah…! Terimakasih atas penjelasan bapak-bapak berdua!” Laki-laki itupun meminta diri dan segera melompat ke atas punggung kudanya yang segera mencongklang cepat dari situ. Si kedua tukang gali kubur itu tampak berbisik-bisik dan tak lama kemudian menyelinap pergi.

“Gagal…!” Terdengar samar-samar suara Gento dari kejauhan.

Ketika mendengar suara kaki kuda memasuki makam itu, ketiga gadis yang berada di sisi kuburan yang masih baru tersebut menoleh, dan mengarahkan pandangan matanya pada Sentanu. Laki-laki ini segera tinggalkan kudanya di sisi makam, dan menghampiri mereka. Yang dua orang segera berdiri menyambut. Sedangkan yang seorang lagi masih berjongkok di sisi gundukan tanah itu. Tampak sepasang matanya masih merembeskan air mata.

Si laki-laki ini tampak menjura terlebih dulu sambil berkata; “Maafkan aku datang terlambat sehingga tak sempat menghadiri pemakaman nya!” Dan kata-katanya itu telah disambungnya lagi dengan memperkenalkan diri pada kedua gadis itu, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh si baju merah.

Dan lantas katanya; “Kami memang tengah menanti kedatangan anda sobat Sentanu…”

Terkejut juga laki-laki tampan ini, namun si gadis baju merah itu telah menyambung kata-katanya sambil melirik pada gadis yang masih berjongkok di situ seperti tengah terhanyut dengan kesedihannya.

“Tentu saja kami mendengar pesan almarhum itu… semoga anda dapat menjaganya dengan baik. Kami yakin anda pasti tidak ingin almarhum kecewa di alam baka bukan…?”

Ucapan itu sudah dibarengi dengan deheman yang membuat Marni gadis itu segera menoleh, dan wajah yang baru dilanda kesedihan itu jadi berubah merah. Ia memang sudah mengetahui kedatangan laki-laki itu, namun mana ia tahu pesan kakaknya Mandra almarhum sebelum ajal tiba, kecuali kedua gadis itu yang merahasiakannya. Tentu saja kata-kata itu telah membuatnya mengerti.

Marni memang telah mengenal Sentanu yang pernah berdiam di desa Karang Sembung, selama beberapa bulan. Laki-laki yang pernah difitnah oleh ayah angkatnya bahwa telah menodai dirinya … Padahal ayah angkatnya sendirilah yang telah mengumpankannya pada Bupati Daeng Panuluh dengan imbalan uang.

Kini ia hidup sebatang kara. Kakak kandungnya Mandra telah tewas oleh ketiga paderi cabul yang mengaku dari Gunung Wilis. Dari kata-kata si gadis baju merah ia segera mengetahui bahwa kakaknya telah berpesan untuk menjaga dirinya, entah sebagai adik atau sebagai istri. Apakah kedatangan Sentanu adalah untuk mewujudkan pesan kakaknya Mandra almarhum? Berfikir Marni, sementara kesedihannya belum lagi sirna.

Tiba-tiba terbersit di hatinya perasaan malu pada laki-laki bernama Sentanu. Marni merasakan dirinya bukanlah seorang gadis lagi. Ia takut bila Sentanu mau mengambilnya sebagai seorang istri hanya karena terpaksa. Apakah mungkin Sentanu dapat merasa puas beristrikannya? Rasa malu itu bergelut dalam jiwanya, dan sekonyong-konyong ia merasa rendah diri. Tiba-tiba Marni bangkit berdiri, dan tanpa berpaling lagi ia telah berlari cepat dari tempat itu sambil menutup wajahnya.

Hal demikian yang tiba-tiba itu telah membuat mereka bertiga jadi terpaku. Lebih-lebih Sentanu yang jadi tak mengerti apa sebabnya. Tiba-tiba ia sudah bergerak mau mengejarnya. Namun si gadis baju merah telah berkata: “Rasanya tak perlu anda mengejarnya sobat Sentanu, itu akan menambah luka di hatinya.”

Selanjutnya si gadis baju merah menjelaskan akan sifat seorang wanita yang bila telah bersikap demikian, berarti ia merasa rendah diri untuk berhadapan dengan seorang laki-laki yang telah berniat untuk menjaganya. Kata-kata menjaga itu tentu saja mempunyai arti yang amat dalam.

Sejurus Sentanu jadi termenung dan serba salah. Tiba-tiba pada saat itu adik seperguruan si gadis baju merah yang bernama Surti ini berkata; “Kak Roro Dampit, biarlah aku menyusulnya, kasihan ia. Aku akan menemaninya atau mungkin juga menjaganya sebagai adikku sendiri. Karena nasibnya adalah tidak berbeda dengan nasibku sendiri.”

Si gadis baju merah yang ternyata bernama Roro Dampit ini tercenung sejenak, tapi kemudian; “Pergilah Surti! Agaknya kita pun harus berpisah. Aku tak dapat menemanimu karena aku punya urusan sendiri seperti kau juga. Guru kita telah tiada, dan kaupun cuma saudara seperguruan denganku. Mulai hari ini kita ambil jalan sendiri-sendiri… Setujukah kau?”

Tentu saja ucapan itu membuat Surti jadi terhenyak. Namun ia segera dapat membaca fikiran orang. “Hm, baiklah kalau kau menginginkan demikian, kak Roro Dampit. Asal saja kau tak melupakanku kalau berjumpa di jalan…” Jawab Surti sambil sudut matanya bergerak sekilas melirik pada Sentanu yang masih tercenung di situ mendengarkan pembicaraan orang.

Si gadis baju merah ini tiba-tiba tertawa hambar dan katanya; “Aih adik Surti, siapa yang mau melupakan orang…? Walau bagaimanapun kita masih satu saudara seperguruan…!” Dan sambungnya lagi; “Pergilah susul dia, nanti kau kehilangan jejak.”

Surti anggukkan kepalanya, dan tatap wajah kakak seperguruannya, kemudian mengalihkannya pada Sentanu yang cuma anggukkan kepala. Dan selanjutnya ia sudah balikkan tubuh, lalu tubuhnya berkelebat cepat menyusul ke arah mana Marni berlari. Kini tinggal mereka berdua di tempat itu.

Hening kembali mencekam… Si gadis baju merah dan Sentanu sama-sama membisu. Sentanu sendiri seperti bingung akan apa yang akan ia lakukan. Tiba-tiba Roro Dampit terdengar berkata memecah keheningan; “Kemanakah tujuan anda sobat Sentanu…?”

Laki-laki ini seperti baru tersadar dari lamunannya, ia cepat-cepat menjawab. “Entahlah… mungkin juga aku akan pergi jauh…!”

“Mengembara…?” Si gadis bertanya lagi sambil kerutkan alisnya.

Sentanu anggukkan kepalanya, dan terdengar ia menghela napas. “Apakah anda telah tak punya sanak famili lagi…?”

“Ada! Seorang paman.” Sahutnya.

“Siapa…? Tinggal di mana? Mengapa anda tak ke sana saja…?” Tanya gadis itu beruntun.

Tiba-tiba Sentanu angkat wajahnya menatap gadis baju merah itu “Kuharap janganlah membicarakannya!” Katanya dengan nada agak ketus.

Tentu saja hal itu membuat Roro Dampit jadi terhenyak, dan tundukkan muka ke tanah. “Maafkan kalau hal itu menyinggung perasaanmu. Aku tak tahu ada ganjalan apa anda dengannya. Dan akupun tak akan menanyakan lagi…”

Tiba-tiba kini Sentanu yang balik bertanya; “Dan anda akan ke mana…?”

“Entahlah, aku sendiri tak tahu!” Si gadis menjawab seenaknya.

Selang sejenak tiba-tiba Sentanu berkata “Baiklah, maaf aku pergi dulu…”

Dan ia sudah melangkahkan kakinya menuju ke tempat kudanya menunggu. “Bolehkah aku ikut dengan anda…? Akupun ingin merantau. Alangkah senangnya kalau ada teman seperjalanan.”

Laki-laki ini tak menjawab, dan ia sudah segera melompat ke atas punggung kudanya. Tampak ia seperti sedang mempertimbangkan. Tapi belum lagi ia mengambil keputusan, si gadis tiba-tiba telah melompat ke atas punggung kuda dan enak saja telah duduk di belakangnya.

Terkesiap juga ia akan keberanian gadis baju merah itu yang belum mendapat jawaban sudah berani taruh pantat seenaknya di belakang punggungnya. Belum lagi ia tarik kendali kudanya untuk memutar, si gadis telah hentakkan kakinya pada perut kuda sambil berteriak;

“Heaaa! Ayoh cepat kak Sentanu, aku sudah ingin segera meninggalkan tempat seram ini…!”

Keruan saja sang kuda jadi terkejut dan angkat kedua kakinya tinggi-tinggi sambil perdengarkan suara ringkikan panjang. Kalau Roro Dampit tak cepat memeluk tubuh laki-laki itu tentu ia sudah terlempar dari punggung kuda. Segera Sentanu dapat menguasai binatang tunggangannya itu, yang segera diputar arah. Dan sang kuda sudah mencongklang cepat meninggalkan makam itu melalui jalan setapak.

Sentanu geleng-gelengkan kepalanya. Agak mendongkol juga ia atas kenakalan gadis baju merah itu. Namun hatinya jadi berdebar karena merasakan dua benda lembut menempel pada punggungnya. Ternyata gadis itu telah memeluknya erat sekali.