Kisah si Bangau Putih Chapter 141

“Jenazah sute ditemukan di luar tembok kota Lu-jiang, tubuhnya hancur dan di dekat jenazahnya kami menemukan ini!”

Kata anggauta Kim-liong-pang sambil menyerahkan sebuah bungkusan kain kuning panjang.

Bhe Kauwsu menerima bungkusan itu terisi sebuah pedang panjang yang patah menjadi dua. Dan di gagang pedang patah itu, jelas dapat dilihatnya ukiran dua huruf berbunyi Ngo Heng, ukiran yang terdapat pada semua senjata di perguruannya, senjata-senjata yang disediakan di lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) untuk latihan! Jelas bahwa pedang itu adalah pedang milik Ngo-heng Bu-koan, dan siapa lagi yang mempergunakannya kalau bukan seorang di antara para muridnya. Pedang itu agaknya patah ketika dipakai berkelahi, maka dibuang begitu saja dan ditemukan sebagai tanda bukti bahwa pembunuh anggauta Kim-liong-pang adalah orang Ngo-heng Bu-koan! Bhe Kauwsu menoleh kepada para muridnya. Wajahnya berubah merah dan dia bertanya dengan suara yang mengandung wibawa,

“Siapa di antara kalian yang mempergunakan pedang kita ini? Hayo mengaku sebagai seorang gagah yang selalu siap mempertanggungjawabkan perbuatannya!”

Akan tetapi tak seorang pun di antara murid-muridnya yang menjawab atau mengaku. Semua berdiam diri, kemudian Siang Cun berkata dengan suara mencela.

“Ayah, apakah Ayah perlu mendengarkan fitnah yang mereka lontarkan kepada kita?”

Baca novel ini di Temanin.site

Pimpinan anggauta Kim-liong-pang berkata, nada suaranya mengejek,

“Hemm, Bhe Kauwsu, tidak ada muridmu yang berani mengaku. Mereka itu pengecut, sudah berani berbuat tidak berani bertanggung jawab.”

“Tutup mulutmu yang busuk!”

Tiba-tiba Siang Cun meloncat ke depan, menghadapi anggauta pimpinan Kim-liong-pang itu dengan marah.

“Tuan mudamu sudah jelas memperkosa dan membunuh saudara kami, dan ada bukti topinya ketinggalan akan tetapi dia menyangkal. Dialah yang pengecut besar! Dan kini kalian membalikkan kenyataan? Andaikata ada di antara kami yang membunuh sutemu, hal itu sudah tepat, karena orang-orang macam kalian ini memang patut dibasmi!”

“Siang Cun….!”

Ayahnya mencegah, akan tetapi percuma karena kedua pihak sudah saling terjang dan saling serang.

Terjadilah pertempuran antara belasan orang anggauta Kim-liong-pang melawan para murid Ngo-heng Bu-koan yang jumlahnya jauh lebih banyak! Bhe Kauwsu tidak dapat mencegah lagi, maklum bahwa orang-orang muda kedua pihak itu sudah dibakar oleh kemarahan dan sakit hati. Dia merasa sedih sekali, akan tetapi mengambil keputusan untuk tidak campur tangan sendiri, maka dia lalu mengundurkan diri dan masuk ke dalam kamarnya. Perkelahian keroyokan yang berat sebelah itu tentu saja berakhir dengan kekalahan pihak Kim-liong-pang yang jauh lebih sedikit jumlahnya. Apalagi di pihak Ngo-heng Bu-koan terdapat Siang Cun yang amat lihai. Akhirnya, belasan orang anggauta Kim-liong-pang itu terpaksa melarikan diri sambil membawa lari teman-teman yang terluka parah. Siang Cun melarang teman-temannya yang hendak melakukan pengejaran.

“Biarkan mereka pergi?”

Teriaknya.

“Ketika sebagian dari kalian datang ke sana, kalian dikalahkan akan tetapi tidak ada seorang pun di antara kalian yang terbunuh. Biarlah sekali ini kita membalas kekalahan itu dan biarkan mereka pulang melapor kepada ketua mereka!”

Sin Hong dan Yo Han mendengarkan cerita dari Bhe Gun Ek dengan hati tertarik sekali. Bhe Gun Ek menarik napas panjang berulang kali, wajahnya nampak berduka dan dia pun melanjutkan.

“Demikianlah, Tan-taihiap. Semenjak penyerbuan itu, terjadi permusuhan di antara Bu-koan kami dan Kim-liong-pang. Beberapa kali aku ingin menghubungi Ciok Pangcu, akan tetapi selalu para murid kedua pihak yang mencegah, mereka sudah dibakar emosi, bahkan semenjak itu, sudah berulang kali terjadi perkelahian, bahkan sudah belasan orang dari masing-masing pihak jatuh tewas sebagai korban perkelahian terbuka maupun pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan secara diam-diam karena dendam.”

“Hemmm, jadi itulah kiranya yang menyebabkan kesalahpahaman antara aku dan nona Bhe Siang Cun? Aku disangka seorang dari Kim-liong-pang dan karenanya harus dibunuh?”

Wajah gadis itu menjadi merah.

“Ada berita bahwa pihak Kim-liong-pang akan mengundang jagoan lihai untuk menghadapi kami, karena itu aku mudah menaruh curiga kepada seorang asing.”

“Akan tetapi, Bhe Kauwsu, apakah semenjak peristiwa pertama, yaitu kematian murid perempuan dari perguruanmu itu, engkau tidak pernah mengadakan hubungan langsung dengan Ciok Pangcu?”

Guru silat itu menarik napas panjang.

“Itulah salahnya. Bagaimanapun harus kuakui bahwa ada rasa sakit di dasar hatiku karena perkosaan dan pembunuhan terhadap seorang muridku, dan karena pelaku kejahatan itu adalah putera Ciok Pangcu, juga sudah menjadi calon mantuku, tentu saja aku merasa amat tidak enak untuk menemuinya dan membicarakannya. Ditambah lagi dengan sikap bermusuhan yang berlarut-larut dari anggauta dan murid kedua pihak, maka kini sudah tidak mungkin lagi bagiku untuk mengadakan pertemuan secara damai dengan Ciok pangcu. Bahkan akhir-akhir ini ada berita bahwa pihak Kim-liong-pang hendak mengundang jagoan yang lihai untuk menantang kami untuk mengadakan pertempuran secara terbuka.”

Guru silat itu kelihatan penasaran dan berduka. Sin Hong menggeleng-geleng kepalanya.

“Ah, kalau keadaan sudah demikian parah, sukar untuk dicari jalan damai.”

Tiba-tiba Yo Han bangkit berdiri.

“Suhu, ada kemungkinan ke tiga dalam urusan ini yang agaknya dilupakan orang….”

“Hushhh! Yo Han engkau anak kecil tahu apa? Jangan ikut campur!”

Bentak Sin Hong terkejut dan rikuh sekali melihat betapa muridnya demikian lancang untuk mencampuri urusan yang demikian besarnya. Mendengar bentakan gurunya, Yo Han diam dan duduk kembali. Akan tetapi Bhe Kiauwsu merasa tertarik mendengar ucapan Yo Han tadi. Pemuda yang menjadi tamunya itu seorang yang berilmu tinggi, tentu muridnya juga bukan anak sembarangan. Sikap bocah itu saja sudah menunjukkan bahwa dia cerdas sekali.

“Aih, Tan-taihiap, agaknya muridmu mempunyai pandangan yang amat penting sekali. Biarkanlah dia bicara. Anak baik, apakah kemungkinan ke tiga yang agaknya kami lupakan itu? Katakanlah.”

Yo Han melirik ke arah suhunya.

“Suhu, bolehkah teecu bicara?”

Sin Hong menahan senyumnya. Dia tahu bahwa muridnya itu, biarpun usianya baru sembilan tahun, namun memiliki kecerdikan luar biasa, bahkan dapat mengikuti jalan pikiran orang dewasa. Dia tahu bahwa pandangan anak itu kadang-kadang tajam dan tidak ngawur. Kalau tadi dia terkejut dan rikuh adalah karena muridnya itu dianggap lancang mencampuri urusan orang lain, apalagi urusan permusuhan yang demikian pentingnya, yang sudah mengorbankan banyak nyawa dan yang membuat tuan rumah berduka sekali.

“Yo Han, benarkah apa yang akan kau katakan itu penting sekali? Kalau tidak penting jangan bicara!”

“Suhu, teecu tidak berani main-main. Teecu tahu ada waktu untuk main-main dan ada waktu untuk bersungguh-sungguh, dan apa yang akan teecu katakan ini menurut teecu penting sekali.”

Kata Yo Han sambil bangkit berdiri lagi.

“Kalau begitu, bicaralah.”

Kata Sin Hong, percaya sepenuhnya kepada murid yang baru berusia sembilan tahun lebih itu. Semua mata ditujukan kepada Yo Han dengan penuh perhatian, namun anak itu sama sekali tidak nampak gugup walaupun yang memandangnya adalah orang-orang dewasa.

“Begini, Suhu dan para Paman yang terhormat, juga engkau, enci Siang Cun. Aku telah mendengarkan semua percakapan tadi dan aku membayangkan adanya hal-hal aneh dalam peristiwa ini. Menurut nalar, kalau Ngo-heng Bu-koan tadinya bersahabat erat dengan Kim-liong-pang, bahkan ada pengikatan perjodohan, hal itu dapat dianggap bahwa tentu Kim-liong-pang merupakan perkumpulan orang gagah pula, bukan perkumpulan penjahat. Maka, andaikata benar bahwa putera ketua Kim-liong-pang yang melakukan perkosaan dan pembunuhan itu, tidak mungkin orang tuanya dan juga perkumpulannya yang menjunjung tinggi kegagahan akan membelanya! Kalau mereka membela mati-matian sampai mengorbankan nyawa, tentu mereka merasa yakin bahwa mereka itu benar! Seperti halnya Ngo-heng Bu-koan sendiri yang menyangkal keras ketika dituduh telah membunuh seorang anggauta Kim-liong-pang dan ada pedang Ngo-heng Bu-koan ditemukan di dekat mayat anggauta Kim-liong-pang itu.”

“Tapi itu fitnah!”

Siang Cun berseru.

“Akan tetapi ada bukti pedang….”

Yo Han berkata dengan maksud memancing.

“Ah, pedang itu bukan bukti mutlak. Bisa saja pedang kami dicuri orang dan dijadikan bukti palsu!”

Gadis itu membantah lagi.

“Nah, justeru ini yang menjadi maksudku, enci Siang Cun. Fitnah dan bukti palsu! Kalau pedang Ngo-heng Bu-koan dapat dicuri orang dan dijadikan bukti palsu, bukankah topi dari putera Kim-liong Pangcu itu pun dapat dicuri orang dan dijadikan bukti palsu pula? Nah, kemungkinan ke tiga yang kumaksudkan adalah fitnah dan bukti palsu itu! Siapa tahu, ada orang ke tiga yang bermain curang di sini, yaitu menjatuhkan fitnah kepada putera Ciok Pangcu, kemudian menjatuhkan fitnah sana dan fihak sini untuk mengadu domba….”

“Tidak mungkin!”

Seorang murid Ngo-heng Bu-koan bangkit berdiri dan membantah dengan suara keras.

“Siapa orang yang mau melakukan perbuatan gila itu dan apa maksudnya?”

“Itulah yang harus diselidiki,”

Kata Yo Han dengan sikap serius.

“Aku tadi hanya mengatakan kemungkinan ke tiga, mungkin terjadi demikian mungkin juga tidak.”

“Luar biasa….!”