MENUNGGU kedatangan seorang cucu perempuannya bagi seorang kakek tua renta tanpa daksa dan penyakitan selama hampir satu hari, adalah sungguh membuat rasa bosan dan serba salah. Dibagian belakang reruntuhan gedung tua yang sudah tak terawat lagi terdengar suara keluhan dan rintihan yang mengenaskan.
Seorang kakek tua renta duduk setengah terbaring diatas lantai, bertilam kain yang penuh tambalan. Sungguh mengenaskan hati melihatnya, karena sang kakek itu bertubuh cacad. Yaitu kedua belah kakinya buntung sebatas dengkul.
Laki-laki tua kurus kering itu perdengarkan keluhannya yang menghiba. “Kasminiiii..! Ah, kemanakah engkau cucuku.” Keluhnya dengan suara lirih hampir tak terdengar. Rambut dikepalanya sudah tinggal beberapa lembar, wajahnya cekung pucat. Karena disamping lapar, si kakek itu memang dalam keadaan sakit. Selang tak berapa lama terdengar suara-suara diluar berbisik-bisik.
“Inilah tempat tinggalku..! Marilah masuk! Aku harus memberikan nasi ini dulu pada kakek, dan meminumkan obat!” Terdengar suara wanita. Laki-laki tua ini gerakkan pelupuk matanya, lalu membuka sepasang matanya yang cekung ke dalam.
Tak lama sudah tersembul dipintu sesosok tubuh, yang tak lain dari Kasmini adanya. Dilengannya tercekal sebuah bungkusan berisi nasi dan laukpauknya. Serta sebungkus obat.
“Kasmini… kau sudah pulang cucuku…? Siapakah tetamu diluar? Ah, mengapa tak kau suruh masuk..?” Bertanya sang kakek dengan suara lemah. Pendengaran tuanya ternyata masih cukup tajam, karena disamping suara Kasmini ada pula didengarnya suara seorang laki-laki.
Baca novel ini di Temanin.site
Sementara Ginanjar yang berada diluar merasa tak enak hati bila tak menjenguk kakek sang gadis yang telah ditolongnya itu. Bahkan ditengah perjalanan telah pula membelikan obat dan dua bungkus nasi. Sesaat dia sudah beranjak kedalam ruangan yang sempit dan kotor penuh sarang laba-laba itu.
“Kakek..! Tuan inilah yang telah menolongku, dan membelikan obat serta dua bungkus nasi ini untuk kita!” Berkata Kasmini dengan berbisik pada telinga kakeknya.
“Ah, selamat… datang ke pondok burukku, tuan muda..! Terima… kasih atas budi baikmu menolong cucuku..!” Berkata si kakek dengan suara lirih, dan perlihatkan senyumannya. Ternyata Kasmini telah berbisik-bisik menceritakan secara singkat kejadian yang menimpanya.
Ginanjar yang telah berjongkok dihadapan laki-laki tua itu cuma bisa manggut-manggut seraya berkata. “Ah, kakek..! Sudahlah, pertolonganku itu tak berarti apa-apa..! Segeralah kau bersantap, dan meminum obat agar lekas sembuh!”
Ginanjar berikan segenggam uang di lengan sang kakek, yang tak putus-putus ucapkan terima kasih. Selanjutnya sudah berdiri lagi seraya menjura pada si kakek, dan menatap pada Kasmini. “Maaf, aku tak dapat berlama-lama lagi, karena ada hal lain yang harus aku kerjakan..! Aku mohon diri! Kelak, kapan-kapan aku pasti akan singgah lagi kemari!” Berkata Ginanjar.
Wajah si gadis tampak perlihatkan kemuraman, dan sepasang matanya sudah berkacakaca. Akan tetapi dia segera mengangguk. Setelah menjura lagi pada si kakek, Ginanjar segera balikkan tubuh untuk beranjak keluar ruangan. Baru saja sembulkan tubuh dipintu, telah terdengar bentakan keras diluar halaman.
“Bagus! Eh pemuda ingusan! kau sudah jual lagak dihadapan ketiga kawanku! Apakah kau tahu akibatnya?” Ginanjar segera telah dikepung oleh empat orang yang bertampang seram.
“Hen!? siapakah kalian ini..?” Tanya Ginanjar dengan naikkan alisnya.
Keempat orang itu saling pandang sesama kawannya, lalu terdengar suara tertawanya gelak-gelak. “Hahaha… hahaha… Rupanya kau seorang pemuda ingusan yang baru turun gunung! Semua orang sudah mengenal siapa kami!” Berkata salah seorang.
“Baik, pasanglah telingamu lebar-lebar! Kami adalah si Empat Iblis Kali Progo! Kami bertugas menjaga keamanan di wilayah Kota Raja ini! Tentu saja berhak menangkap atau membunuh mampus pengacau seperti kau!”
“Heh!” Mendengus Ginanjar, dengan turunkan alisnya. “Apakah kesalahanku, hingga kalian menyebutku pengacau? Justru kawanmu itulah yang telah mengacau! Mereka telah berusaha menyekap gadis ini untuk diperkosa! Mengapa justru aku yang dianggap pengacau ?” Tanya Ginanjar dengan hati mendongkol. Keempat sosok tubuh dihadapannya itu pelototkan matanya dengan gusar.
“Justru kaulah yang mau memperkosanya, lalu dihalangi oleh ketiga kawanku itu! Huh! ternyata kau mau membela diri dengan menimpakan kesalahan pada orang lain? Hayo kawan-kawan ringkus dia..!” Bentak salah seorang dari keempat Iblis Kali Progo yang bertubuh kekar berkulit hitam legam.
Terperangahlah seketika Ginanjar, karena mengapa justru dia yang dianggap mau memperkosa si gadis yang telah ditolongnya? Aneh! Pikirnya. Saat itu tiga orang dari mereka telah mencabut senjatanya dipinggang, yaitu golok-golok yang melengkung lebar berkilat-kilat. Kasmini tiba-tiba telah melompat kepintu seraya berteriak.
“Dusta! Kalian telah membalikkan kesalahan pada orang lain! Ketiga begundal pasar itu aku sudah mengenalnya, dan telah beberapa kali membujukku untuk menuruti napsu binatangnya! Kalau tak datang tuan muda ini tentu aku… aku…” Kasmini tak dapat teruskan kata-katanya. Karena seketika dia sudah gemetaran dan menangis terisak-isak.
“Tutup mulutmu…!” Tiba-tiba membentak si tubuh kekar berkulit hitam. Dan dia sudah beri isyarat ketiga kawannya menerjang Ginanjar. Tiga buah golok berkelebat menabasnya, si gadis Kasmini perdegarkan jeritan ketakutan.
Akan tetapi dengan sebat si pemuda itu sudah melompat menghindar dengan tubuh berjumpalitan diudara. Dan sudah menjauh sekitar lima tombak. Tentu saja keempat orang itu segera memburu dengan wajah bringas. Sekejap saja mereka telah mengurung si pemuda itu lagi. Kini keempat orang yang berjulukan si Empat Iblis Kali Progo itu sudah siap dengan senjata terhunus. Mengetahui dirinya dalam bahaya, terpaksa Ginanjar pun mencabut pedangnya dari pinggang.
“Bagus! Sebutkan siapa kau dan siapa gurumu bocah? Agar kami tak penasaran membunuhmu..” Teriak salah seorang yang bernama Tambi. Yaitu laki-laki berkulit hitam tadi.
“Benar! Kami si Empat Iblis Kali Progo tentu akan dapat penghargaan dari pihak Kerajaan kalau berhasil membunuh seorang pengacau yang cukup punya nama!” Teriak yang bertubuh pendek berhidung besar seperti bengkak, dengan tertawa menyeringai. Dia ini bernama Begu Lowo. Sedang yang dua lagi bernama Reksa dan Bangik.
“Hm, tak perlu macam-macam! Kalian majulah..!” Bentak Ginanjar dengan gusar. Dia rupanya sudah geregetan sekali untuk menabas kepala orang yang telah memfitnahnya itu. Walaupun baru untuk kedua kalinya ini Ginanjar bertarung, tapi murid si Pendekar Bayangan ini memang tak mengenal takut. Tentu saja kata-kata Ginanjar membuat mereka jadi gusar, dan segera menerjang dengan berbareng.
Trang! Trang! Trang…!
Sebentar saja ditempat sunyi itu telah terjadi pertarungan seru. Ginanjar pergunakan pedangnya untuk menangkis setiap serangan. Bahkan balas menyerang dengan dahsyat. Akan tetapi keempat orang itu memang berilmu tinggi, dan mereka maju berempat. Dengan berkelebatan saling berganti mereka berlompatan menghindar, sedangkan yang lainnya sudah menerjang lagi disaat si pemuda mencecar kawannya. Sekejap saja sudah terdengar suara bentakan-bentakan dan beradunya senjata tajam.
Sementara itu Kasmini cuma bisa memandangi dengan mata terbeliak bersimbah air mata. Sang kakek ternyata telah beringsut ke pintu untuk melihat kejadian. Terbelalak sepasang mata tua itu sambil geleng-gelengkan kepala. Kasmini segera memeluknya untuk segera mengajaknya kembali ke dalam.
Pada saat pertarungan itu terjadi, ternyata sesosok tubuh berindap-indap mendekati belakang reruntuhan gedung tua itu. Ternyata tak lain dari salah seorang laki-laki yang tadi dihajar oleh Ginanjar, dan melarikan diri. Wajahnya menyeringai tertawa melihat kedua orang ini tengah memperhatikan pertarungan dengan wajah pucat. Sekejap dia sudah melompat ke pintu. Lengannya bergerak menarik lengan gadis itu yang jadi menyentak terlepas dari pegangannya ke tubuh si kakek.
“Hehehe… Kasmini! ayo, kau ikutilah bersamaku! Biarkan pemuda itu mampus!”
“Hah!? Tidak! tidaak! lepaskan aku..! kau… kau bajingan keparat..!” Berteriak-teriak Kasmini dengan terkejut. Segera dia meronta-ronta untuk melepaskan cekalan laki-laki itu. Akan tetapi satu hantaman pada belakang lehernya membuat gadis itu mengeluh, dan pingsan tak sadarkan diri.
Terkejut sang kakek, yang melihat keadaan cucunya. Segera dia beringsut cepat seraya melompat untuk menangkap tubuh cucunya yang akan dipondong si laki-laki. “Jangan..!? Jangan ganggu cucuku… lepaskan.. dia..!” Teriaknya dengan suara terengah. Akan tetapi satu hantaman telak telah mengenai dadanya.
Buk..! Terdengar si kakek mengeluh, lalu tubuhnya ambruk ke lantai. Sekali bergerak si laki-laki brewok itu sudah memondong sang gadis, dengan perlihatkan wajah menyeringai. Namun diluar dugaan lengan si kakek kembali menyambar. Dan sebelah kakinya kena ditangkap. Agaknya dalam keadaan yang sedemikian fatal itu dia sudah tak hiraukan dirinya lagi.
Sisa-sisa tenaganya dipergunakan untuk membela cucunya, walau dalam keadaan sakit dan tubuh tanpa daksa. Hantaman lengan laki-laki barusan itu telah membuat tulang iganya berderak patah. Akan tetapi semangatnya untuk mempertahankan cucu perempuannya bagaikan semangat seekor banteng luka.
Sayang… semua yang dilakukannya itu tak berarti apa-apa. Bahkan dengan sekali kaki si laki-laki brewok itu bergerak, terlemparlah tubuh si kakek bergulingan ke tengah ruangan. Dan baru berhenti ketika membentur tembok. Terdengar suara teriakan parau menyayat hati, yang kedengarannya amat lemah sekali. Tampak tubuh tua renta itu menggeliat sejenak, lalu terdiam.
Ternyata nyawanya telah melayang dengan seketika. Tulang-tulangnya yang telah rapuh itu tak kuat untuk beradu dengan tembok tebal. Bahkan belakang batok kepalanya telah rengat mencucurkan darah. Tewaslah sang kakek dengan keadaan yang menyedihkan, tanpa diketahui lagi oleh sang cucu perempuannya yang telah tak sadarkan diri.
“Hehehe… kakek tua renta! Kau memang sudah sepantasnya mampus..!” Mendesis si laki-laki itu dengan wajah geram menatap tubuh si kakek yang sudah tak berkutik lagi. Tak ayal segera dibalikkan tubuh, untuk bekelebat tinggalkan tempat itu.
Sementara pertarungan terus berlangsung hingga belasan jurus. Ginanjar telah mendengar suara teriakan Kasmini, akan tetapi untuk melepaskan diri dari rangsakan keempat manusia itu teramat sulit. Salah-salah nyawa bisa melayang. Karena terjangan-terjangan golok mereka benar-benar sebat dan sulit untuk dihindari. Beruntunglah Ginanjar mencekal pedang. Dan dengan pedangnya dia dapat menangkis setiap serangan. Ternyata Ginanjar memang kalah dalam pengalaman bertarung. Jurus-jurus gerak tipu keempat lawannya terkadang membingungkan. Hingga kini dia lebih banyak bertahan dari pada menyerang.
“Hahaha… biarkan saja gadismu itu tak usah kau urusi! Kalau kau mampus toh banyak orang lain yang mengurusi..!” Mengejek Tambi si lakilaki kekar berkulit hitam.
Ginanjar tak perdulikan ocehan orang. Segera dia mulai mencari jalan memecahkan serangan mereka. Untunglah otaknya cerdas. Segera teringat dia akan beberapa jurus yang cukup ampuh yang pernah dipelajari. Tiba-tiba dia telah merobah sikap tempurnya. Kini gerakkan pedang memutar dahsyat hingga keluarkan angin pusaran yang menderu. Inilah jurus Naga Membuyarkan Awan.
Terkejut juga si Empat Iblis Kali Progo, segera mereka mundur beberapa langkah dengan pasang kuda-kuda. Lalu salah seorang memberi isyarat untuk segera bergerak memutar, dan berlompatan dengar gerakan menyilang. Sementara setiap gerakan melompat selalu diiringi dengan tebasan, ke arah kaki.
Mau tak mau Ginanjar sambil putarkan pedangnya berlompatan menghindari serangan-serangan yang datang bergantian itu. Tampak keringat anak muda itu telah mengucur deras. Baru pertama kali bertarung sudah menemukan lawan yang tangguh, bahkan dikeroyok empat orang. Membuat pemuda Lereng Rogojembangan ini jadi benar-benar memeras keringat. Tiba-tiba dia sudah perdengarkan bentakan-bentakannya. Kini sebelah lengannya dipergunakan menghantam ke arah setiap tubuh yang berkelebat menabaskan senjata ke arah kakinya.
Hal tersebut rupanya telah dimaklumi oleh si Empat Iblis Kali Progo. Segera gerakan mereka berubah arah. Kini menyerang secara bergantian ke arah kepala, dengan lompatan-lompatan tingginya. Bersyiuran angin dari setiap tebasan golok lawan mengarah kepalanya.
Ginanjar jadi kertak gigi menahan amarah. Kini sepasang pedangnya bergerak lebih cepat menghantam dan menghalau setiap serangan. Hasilnya memang cukup memuaskan. Karena segera tampak keempat orang lawannya terdesak mundur. Gerakan-gerakan pedangnya adalah yang dinamakan jurus Naga Mengamuk Menerjang Taufan. Tentu saja dengan menggunakan jurus ini Ginanjar telah mengeluarkan banyak tenaga. Namun segera terdengar teriakan tertahan dari salah seorang lawan.
Bret…! Tebasan pedangnya yang bergulung-gulung itu berhasil merobek pundak salah seorang lawan berikut tersobeknya daging lengannya. Darah menyemburat, dan laki-laki bernama Begu Lowo itu meringis memegangi lukanya dan melompat mundur dua tombak.
Tiga orang kawannya menggerung keras. Dan menerjang dengan tebasantebasan gencar dengan arah yang tidak bersamaan. Ada yang mengarah leher, ada yang mengarah pinggang dan mengarah ke kaki. Serangan serentak itu dibarengi dengan hantaman-hantaman sebelah lengannya yang bertenaga dalam kuat.
Tersentak Ginanjar. Kali ini dia harus tak boleh salah perhitungan. Tubuhnya segera melompat melambung setinggi dua tombak. Pedangnya dipergunakan menangkis setiap serangan, sambil elakkan tubuh mengegos. Tapi kali ini satu tabasan tak berhasil dihindari. Ketika tubuhnya meluncur turun, satu hantaman lengan membuat tubuhnya doyong ke belakang. Dan saat itu dipergunakan Tambi untuk menabaskan goloknya.
Bret…! Nyaris pinggang Ginanjar putus tertebas, pada saat itu tak meluncur sebutir batu kerikil menghantam golok Tambi hingga terpental…
Trang…!
Terkesiap laki-laki bernama Tambi itu, karena lengannya bergetar kesemutan. Dan dia tak dapat menahan genggaman goloknya lagi, yang segera terlepas terpental. Dengan terperanjat dia sudah melompat mundur. Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya kembali terlempar ke depan dengan perdengarkan teriakan parau menyayat hati, lalu roboh meregang nyawa dengan menggeliat-geliat. Sesaat kemudian dia sudah tewas.