MELOMPATLAH seorang dari Empat Iblis Kali Progo untuk memburu kearah kawannya yang satu ini. Setelah memeriksa betapa terperanjatnya ketika melihat pada leher sang kawan, tedapat dua buah lubang sebesar jari tangan yang mengucurkan darah. Siapakah yang telah menyerangnya? Sentak hatinya. Tiba-tiba berkelebatlah sebuah bayangan hijau ke tengah kalangan dibarengi dengan suara tertawa mengikik merdu. Dan sesosok tubuh telah berdiri di situ.
“Hihihi…hihi… tak tahu malu mengeroyok seorang pemuda yang belum tentu kesalahannya! Rupanya aku amat beruntung sekali dapat berkenalan dengan anda yang bernama besar! Ternyata kalianlah yang menamakan diri Empat Iblis Kali Progo…!”
Bukan saja tiga pasang mata Iblis Kali Progo itu saja yang terbelalak, akan tetapi sepasang mata Ginanjar pun terbelalak dengan tubuh terpaku melihat munculnya seorang gadis yang bertubuh semampai, berpinggang langsing, dengan rambut beriapan. Siapakah wanita ini adanya..? Gumam Ginanjar dalam hati. Dia tak dapat menatap wajah orang, karena sosok tubuh itu membelakanginya.
Akan tetapi tiba-tiba wanita itu sudah balikkan tubuh menatapnya. “Hihihi… kau menyingkirlah, anak muda! Biar aku yang mengirim nyawa mereka ini ke akhirat!”
Terperangah Ginanjar, karena hampir saja dia menyebut nama Roro. Akan tetapi wajah wanita itu tampak kaku dan pucat. Sepasang matanya sipit dengan hidung agak besar. Namun mempunyai perawakan yang hampir mirip dengan saudara seperguruannya itu. Bahkan suaranya bernada mirip sekali. Akan tetapi dia sudah mengangguk, dan segera melompat ke tepi. Sementara hati Ginanjar berkecamuk sendiri, ketiga orang dari Empat Iblis Kali Progo itu telah perdengarkan bentakannya.
“Heh! Kiranya kau yang telah membokong saudaraku..?” Bentak salah seorang.
Baca novel ini di Temanin.site
“Membokong..? Hihihi… hihi.. dalam bertarung tak ada urusan dengan segala macam aturan! Apa lagi menghadapi manusia keji semacam kalian yang sudah aku dengar kejahatannya! Berapa orang gadis didesa wilayah Kadipaten Banjar Mangu yang telah kalian perkosa? Dan berapa orang dari rakyat yang tak bersalah telah kalian aniaya..? Dan ternyata kalian sendiri telah mengeroyok seorang pemuda yang belum tentu bersalah!” Berkata wanita itu dengan suara lantang.
“Kurang ajar! mulutmu harus dihajar dengan ini!” Teriak Reksa yang sudah menerjang diikuti kedua orang kawannya.
Berkelebatan tiga buah golok yang berkilatan menabas dan merencah tubuhnya. Akan tetapi dengan gerakan tubuh terhuyung kesana-kemari serangan mereka sekejapan telah lolos. Terkejut bukan main mereka, karena tampaknya si wanita ini bukannya menggelakkan diri, akan tetapi terhuyung-huyung bagai orang mabuk. Namun nyatanya serangan mereka telah terelakkan dengan mudah.
Segeralah mereka merobah gerakan dengan gerakan memutari tubuh si wanita itu. Sementara senjata-senjata mereka membuat gerakan menebas dan menusuk secara bergantian, disertai bentakan-bentakan keras yang mengacaukan konsentrasi lawan. Akan tetapi tampaknya hal itu tak membawa hasil, karena justru si wanita pergunakan jurus yang aneh. Sepasang lengannya bergerak mengibas keberapa arah.
Terkejutlah ketiga Iblis Kali Progo ini. Karena segera merasai segelombang angin panas telah menerjangnya. Tampak serangan mereka mulai kacau. Tiba-tiba terdengar suara tertawa mengikik si wanita. Tahu-tahu tubuhnya telah lenyap, karena terbungkus oleh asap kabut yang menghalangi pandangan mereka.
Ginanjar yang menyaksikan jalannya pertarungan jadi berseru kagum, karena tubuh si wanita bagaikan bayangan telah berada diluar kepungan tanpa setahu ketiga lawannya. Dan saat berikutnya, sudah terdengar suara jeritan-jeritan menyayat hati. Karena lengan si wanita telah bergerak cepat sekali dibarengi kelebatan tubuhnya.
Sekejapan saja tubuh tiga manusia dari Empat Iblis Kali Progo itu telah roboh ke tanah dengan berkelojotan meregang nyawa. Tak berapa lama tiga manusia itu sudah lepaskan nyawa masingmasing, dan berkaparan ditanah dengan bersimbah darah. Sesaat ketika asap kabut mulai menipis kembali tubuh wanita itu telah lenyap entah kemana…
Terkejut Ginanjar dengan mata terbelalak lebar. Seperti melihat hantu saja layaknya. Kejadian itu berlalu begitu cepat, sampai-sampai pandangan matanya tak dapat mengikuti kelebatan tubuh si wanita. Dan tahu-tahu sudah lenyap. Sejenak membuat Ginanjar jadi terpaku. Akan tetapi tubuhnya sudah berkelebat melompat menghampiri ketiga mayat. Ketika memeriksanya, ternyata pada masing-masing leher mereka terdapat dua buah lubang sebesar jarijari tangan.
Tersentak dia seketika. Hatinya berseru kagum, akan tetapi juga ngeri. Karena dengan tangan kosong saja si wanita itu telah berhasil merobohkan ketiga lawannya. Menandakan betapa tingginya ilmu si wanita itu. Bahkan tadi dia telah berhasil diselamatkan nyawanya oleh si wanita misterius itu yang mempergunakan sambitan dengan batu kerikil.
Entah dimana suaranya, tahu-tahu telah terdengar lapat-lapat suara tertawa mengikik si wanita itu dibarengi kata-kata… “Hihihi… hihi… anak muda! Segeralah kau bawa pulang gadismu itu! Dia berada diujung jalan yang menuju kehutan…!”
Tentu saja kata-kata itu membuat terkejut Ginanjar, karena jelas ditujukan kepadanya. Aneh nya suara itu seperti menyusup masuk ketelinganya. Sesaat Ginanjar sudah melompat dari situ, akan tetapi tibatiba dia kembali putarkan tubuh ketika teringat akan si kakek tua renta. Dan kembali berkelebat ke arah reruntuhan gedung tua. Sekejap dia sudah berdiri dimuka pintu. Terbelalaklah matanya melihat sosok tubuh sang kakek yang sudah terkapar bersimbah darah tanpa berkutik lagi.
“Hah!? kakek..!” Dia sudah melompat menghampiri. Tercenung seketika Ginanjar menatap mayat kakek tua renta tanpa daksa yang telah tewas dengan keadaan mengerikan itu. Tak terasa sepasang matanya sudah berkacakaca. Akan tetapi tak lama pemuda itu sudah berkelebat tinggalkan reruntuhan gedung tua itu.
* * * * * * *
“Kasmini…!” Berteriak Ginanjar dengan suara parau, ketika melihat sesosok tubuh tergeletak disisi jalan dengan keadaan tubuh hampir telanjat bulat. Kerena pakaiannya sudah robek-robek disana-sini. Tak jauh dari tubuh gadis itu terkapar sesosok tubuh laki-laki brewok yang tak bernyawa lagi. Ternyata tak lain dari laki-laki yang pernah dihajarnya tadi dibelakang pasar. Dipandanginya mayat laki-laki itu.
Segera Ginanjar teringat kejadian tadi. Sekilas memang dia melihat suara teriakan sang gadis, lalu melihat sang dara ini dalam pondongan laki-laki. Akan tetapi saat itu dia tengah menghadapi terjangan-terjangan si Empat Iblis Kali Progo yang mengancam jiwanya, hingga dia tak berdaya untuk berbuat apa-apa selain bertarung mempertahankan nyawanya.
Keadaan tubuh laki-laki brewok itu amat mengerikan, karena tulang dadanya remuk dan patah-patah mencuat keluar. Sedangkan selangkangannya bersimbah darah. Terperangah seketika Ginanjar. Akan tetapi Ginanjar sudah alihkan tatapannya pada gadis itu lagi.
“Kasmini..!” teriaknya lirih, seraya guncang-guncangkan tubuh sang gadis.
Kasmini tampak membuka sepasang matanya. Ketika melihat siapa yang telah berada dihadapannya, segera saja gadis itu berteriak girang seraya memeluk pemuda itu dengan erat sambil menangis terisak-isak.
“Sudahlah adik..! Bahaya telah lewat! kau telah selamat…!” Berkata Ginanjar dengan wajah memerah, dan jantungnya terasa bergetar karena keadaan tubuh sang gadis dalam keadaan sedemikian rupa. Bahkan sepasang payudaranya yang terbuka memutih padat itu menekan erat ke dadanya.
“Kau… kau benahilah pakaianmu, Kasmini…!” Ujar Ginanjar lirih, seraya mendorong tubuh si gadis.
“Ahh…?” Tersentak sang gadis itu ketika menyadari keadaan tubuhnya. Segera dia beringsut untuk merapihkan sobekan bajunya yang menyingkap dadanya.
Sementara sepasang matanya telah menatap ke arah sesosok mayat laki-laki brewok yang dikenalnya. Segera Kasmini teringat akan kejadian yang menimpanya. “Oh, kaukah yang telah menolongku, tuan muda..? Dan… bagaimana dengan nasib kakekku..?” Bertanya Kasmini seraya palingkan wajah menatap Ginanjar.
Pemuda ini cuma tundukkan wajah sambil menggeleng. “Bukan aku yang telah menolongmu..! Sayang, kakekmu yang malang itu sudah tewas..!” Ujarnya dengan suara lirih.
“Ah., kakek…!” Sentak sang gadis dengan sepasang mata terbelalak. Dan dia sudah terisak-isak lagi dengan air mata bercucuran. “Kalau bukan kau yang menolongku, lalu siapakah…?” Tanya si gadis tiba-tiba, yang segera menengadahkan wajahnya menatap pada Ginanjar.
“Seorang wanita yang berilmu amat tinggi…! Entah siapa aku tak mengetahui…!” Sahut Ginanjar dengan suara lirih, seraya bangkit berdiri dan tatapkan matanya jauh ke arah depan.
Tercenung sang gadis tanpa dapat berkata apa-apa. Desir angin yang lewat ditempat itu menyibakkan rambutnya. Dan Ginanjar masih berdiri memandang jauh kearah sana, sementara hatinya dilanda dengan berbagai macam pertanyaan. Kemanakah gerangan wanita itu ? Siapakah dia..? Suaranya amat mirip dengan Roro, akan tetapi dia bukan Roro! Karena aku masih ingat betul pada raut wajahnya…! Bertanya-tanya hati si pemuda ini dengan tatapan mata seperti tak berkedip. Entah apa yang ditatapnya. Tapi yang jelas wajah cantik saudara seperguruannya itu yang berkelebatan diruang matanya….
* * * * * * *
Tahu-tahu sesosok tubuh telah berkelebat ke hadapannya. Terkesiap pemuda itu, karena sosok tubuh wanita yang menolongnya telah berada ditempat itu.
“Hihihi… mengapa melamun anak muda..? Gadismu itu amat cantik! Mengapa tak kau bawa pulang…? Hari sudah semakin senja! Pulanglah! Ajaklah dia ke tempat tinggalmu. Dan berilah perlindungan padanya..!” Ujarnya, seraya berpaling menatap Kasmini. “Jenazah kakekmu itu kulihat sudah ada yang mengurusnya! Kau nona manis tak perlu mengkhawatirkannya lagi, dia sudah tenang di Alam Baka…!” Ujar si wanita itu dengan suara terdengar merdu.
Cepat-cepat Kasmini bangkit berdiri lalu menjura seraya ucapkan terima kasih atas pertolongannya. Melihat mayat lakilaki brewok itu dan keadaan dirinya yang masih utuh serta penjelasan Ginanjar, segera tahulah dia kalau wanita inilah yang telah menyelamatkannya dari bencana. Ginanjar pun segera menjura hormat.
“Terima kasih atas bantuanmu, nona Pendekar..! Bolehkan aku mengetahui siapa nama nona Pendekar…?” Tanya Ginanjar dengan amat hati-hati. Sementara tatapan matanya tak lepas memperhatikan wajah wanita itu.
“Hihihi… namaku…” Wanita itu tak meneruskan kata-katanya, karena lengannya sudah bergerak mengupas kulit mukanya. Ternyata dia memakai kulit muka palsu dari bahan karet yang lunak dan tipis. Segera terpampang seraut wajah yang cantik jelita…
“Roro..!” Teriak Ginanjar tiba-tiba, dan sepasang mata Ginanjar sudah membeliak menatapnya.
“Hihihi… aku bukan Roro! Siapa bilang aku Roro..? Kalau ditambahi Centil barulah betul! Namaku memang Roro Centil..!” Berkata gadis cantik itu dengan tertawa mengikik merdu. Dan sebelum Ginanjar sempat berkata apaapa, tubuh sang dara cantik itu sudah berkelebat cepat. Sekejap saja sudah lenyap dari hadapan mereka. Ginanjar baru tersadar dari terperangahnya, dan segera berkelebat mengejar.
“Rooroooooo Rorooooooo…!” Berteriak-teriak Ginanjar. Akan tetapi tubuh sang gadis cantik itu sudah tak kelihatan lagi. Pemuda ini kembali berdiri terpaku menatap ke depan, lalu tundukkan wajahnya. Setitik air bening membersit turun dari sudut matanya. Entah apa yang dirasakannya kini, gembira ataukah bersedih…? Dia telah berhasil menjumpai Roro. Akan tetapi Roro yang telah muncul dihadapannya sudah bukan Roro yang dulu lagi, melainkan Roro Centil yang ilmunya susah diukur tingginya.
Angin senja berhembus pelahan, menyibak rambut didahi pemuda lereng Rogojembangan itu. Ketika sepasang lengan halus menggamit tangannya dan mencekalnya erat-erat, Ginanjar baru tersadar.
Sepasang kakinya pun beranjak melangkah. Ditinggalkannya tempat yang telah membawa kenangan itu dengan hati masygul, akan tetapi bibir sang pemuda telah sunggingkan senyuman. Senyum yang amat trenyuh, karena telah mengingat lagi akan kisah-kisah indah yang lucu di air terjun, di lereng Rogojembangan. Sayup-sayup seperti ada terdengar suara menyusup ke telinganya.
“Ginanjar..! kalau ada kesempatan, datanglah ke Pantai Selatan tahun depan! Aku berada disana..! Oh, ya… jagalah gadismu baik-baik…!”