Empat Iblis Kali Progo Bab 2

WAKTU berlalu begitu cepat seperti anak panah lepas dari busurnya. Tujuh tahun kemudian sejak kejadian dijalan desa sunyi itu….

“Roroooooo…!” Roroooooo…!”

Satu suara terdengar sayup-sayup dikejauhan, diantara tebing dan bukit dekat air terjun. Pemandangan disitu memang indah. Bukit-bukit dan tebing menjulang disana-sini. Dilereng Gunung Rogojembangan itu mengalir sebuah sungai berair jernih. Disebelah barat, persis diarah hulu sungai itu, terlihat menonjol sebuah lamping bukit curam yang berbentuk aneh dan indah sekali.

Karena bila diperhatikan amat mirip dengan kepala burung Rajawali Raksasa. Menghadap kearah sisi bukit itu adalah hutan belantara. Dan air terjun itu persis berada dibawah lamping bukit yang berbentuk kepala burung Rajawali.

“Roroooooo..!” Kembali terdengar suara memanggil itu. Kali ini suaranya lebih keras. Seorang bocah laki-laki tanggung kira-kira berusia empat belas tahun, tampak melompat diantara batubatu tebing dan bukit terjal. Gerakannya amat lincah sekali. Dengan sebat bocah laki-laki tanggung itu menuruni akar pohon yang melintang di lereng tebing lalu melompat lagi menuju kebawah bukit. Dari gerakannya dapatlah diketahui bahwa bocah lakilaki tanggung itu bukanlah bocah sembarangan, tapi seorang bocah yang terlatih.

Setelah berpaling ke kanan dan ke kiri, orang yang dicarinya tidak ada, matanya tertuju pada air terjun. Dengan gerakan sebat, kembali dia berlompatan d atas batu-batu disisi sungai. Dan sebentar saja telah berada disisi bukit, di bawah lamping batu menonjol itu dimana disisinya adalah air terjun. Sepasang matanya kembali jelalatan memandang sekitarnya mencari-cari adakah orang disekitar tempat itu. Namun tak ada tanda-tanda orang yang dicarinya berada disitu.

Baca novel ini di Temanin.site

“Aiiih, kemana gerangan anak itu..?” Gumamnya pelahan. Akhirnya diapun langkahkan kaki menjauh lagi air terjun itu, dan jatuhkan pantatnya keatas sebuah batu besar. Tangannya merayap menjumpu batu-batu kerikil, dan dilemparkannya ke tengah sungai. Suaranya bergemerutukan diair yang jernih itu. Terlampias juga rasa kesalnya. Memandang air jernih dan udara siang hari yang cukup panas, membuat bangkitnya selera untuk mandi. Setelah tengok kiri-kanan tak ada orang, segera dia membuka bajunya. Dan lepaskan celananya….

BYURRRRR…! Bocah laki-laki tanggung ini sudah terjun ke sungai. Air disini tak seberapa dalam. Tak berapa lama kepalanya sudah tersembul dipermukaan air. Saat dia mandi dan merendam tubuhnya didalam air sebatas dada itu tiba-tiba sepasang matanya jadi membeliak, karena terasa kakinya ada yang mencekal dibawah air. Tentu saja bocah laki-laki tanggung ini jadi terkesiap. Sekilas saja sudah terlintas sesuatu yang menakutkan dibenaknya. Dongeng adanya “Hantu Air” yang suka mengganggu orang mandi di sungai. Dan….

“Wuaaaaaa..! tolong! toloooong..!?” Berteriak-teriaklah dia ketakutan, sambil berusaha menarik kakinya yang terasa dibetot ke dalam air. Justru dia mencoba menarik, bahkan tubuhnya semakin terbetot ke dalam air. Tak ampun lagi segera kapalanya membenam. Meronta-ronta bocah laki-laki tanggung itu dengan gelagapan. Kepalanya sebentar timbul sebentar hilang. Dan dua-tiga teguk air sudah tertelan masuk tenggorokannya.

Tiba-tiba terasa cekalan itu terlepas. Cepat dia berenang menepi. Wajahnya tampak pucat pias karena takutnya. Sesaat dia sudah berhasil mencapai tepian sungai. Lengannya meraih batu, dan sudah siap gerakkan tubuh yang lemas itu untuk melompat ke darat. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara tertawa cekikikan dibelakangnya. Semakin takutlah bocah ini. Namun dengan justru sisa-sisa tenaganya dia sudah berhasil naik. Setelah merasa aman barulah dia balikkan tubuh untuk menoleh ke belakang.

Betapa terkejut dan mendongkolnya bocah laki-laki ini, karena yang tertawa cekikikan di belakangnya tak lain dari Roro. Yaitu si bocah perempuan yang tengah dicari-carinya tadi.

“Roro..!? kau… kau sungguh keterlaluan menakut-nakuti orang! Jadi Hantu Air yang kau dongengkan tadi adalah kau sendiri..?” Berkata bocah laki-laki tanggung itu dengan sepasang mata mendelik kesal, tapi bibirnya sunggingkan senyuman. Karena rasa kekhawatirannya seketika sirna.

Bocah perempuan tanggung bernama Roro itu beranjak menepi. Ternyata seorang bocah perempuan yang berwajah ayu. Bentuk wajahnya membulat bagai daun sirih. Sepasang matanya jernih. Rambutnya yang panjang sebatas punggung itu basah kuyup. Segera saja dia sudah naik melompat ke darat. Sementara si bocah laki-laki tanggung itu cuma me natap dengan mata tak berkedip. Akan tetapi baru saja dia naik ke darat, sudah terdengar lagi suara tertawanya mengikik geli.

“Hihihi… hihihi… hihi…. Lucu! Hihihi… lucu sekali..!”

Melihat gadis tanggung dihadapannya mengikik tertawa sambil menunjuknunjuk kearah bagian bagian bawah tubuhnya, keruan saja dia jadi kebingungan. Ketika sadar akan keadaan dirinya, seketika wajahnya berubah memerah. Sebelah lengannya dengan cepat bergerak menutupi bagian yang terbuka itu, dan begitu menemukannya, bergegas mengenakannya, dan….

“Hm, beres..!” Teriaknya dalam hati, setelah selesai mengenakan celananya. Sedangkan bajunya tak terburu-buru dipakainya, tapi diletakan diatas pundak. Sementara sepasang matanya menatap pada kawan perempuannya yang masih berdiri ditempat tadi.

Sementara si bocah perempuan tanggung bernama Roro itu telah hentikan tertawanya. Dilihatnya sang kawan itu terus menatapnya dengan mata tak berkedip dengan bibir ternganga. Apakah yang diperhatikan? Pikirnya. Roro yang sama sekali tak menyadari keadaan dirinya, segera melompat mendekati bocah laki-laki kawannya itu.

Semakin dekat dia menghampiri, semakin membinar sepasang mata sang kawannya itu menatapnya. Tentu saja si bocah perempuan tanggung itupun tak menyadari kalau tubuhnya dalam keadaan telanjang bulat, dan tatapan sepasang mata kawannya yang membinar-binar adalah karena memperhatikan sekujur tubuhnya.

“Heh?! Ginanjar! Kau kenapakah..? apakah kesurupan setan Hantu Air…?” Tanya Roro seraya beranjak menghampiri, dan menepuk nepuk pundaknya. Bahkan mengguncang-guncangkan tubuhnya.

Tentu saja membuat bocah laki-laki tanggung bernama Ginanjar itu jadi tersipu-sipu sambil melengos. Namun seonggok senyum lucu, tapi lugu tersungging dibibirnya.

“Roroooooo…! Ginanjaaaar..!”

Satu suara serak parau terdengar sayup dikejauhan. Suara yang sudah amat dikenal betul oleh kedua bocah tanggung itu.

“Hah!? Celaka…! Kita bakal kena damprat! Dan bakal dapat hukuman berat..! Oh, aku telah melalaikan tugas guru..! Yah, gara-gara mencarimu tak bertemu..!” Bisik Ginanjar dengan wajah pucat.

“Hihihi… biarlah kau dapat hukuman! Siapa suruh kau mencariku? Sudah tak bertemu, kenapa terus mandi? Itukan salahmu sendiri!” Tukas Roro dengan wajah tak menampakkan keterkejutan. Berbeda dengan Ginanjar yang seketika wajahnya pucat pias dan bergegas mengenakan bajunya.

Ternyata Roro pun segera melompat ke tempat menyimpan pakaiannya yang ternyata disembunyikan dibalik batu. Dan bergegas pula mengenakannya. Tak berapa lama dua sosok tubuh telah berlompatan keluar dari bawah lamping bukit itu. Ginanjar melompat terlebih dahulu, lalu disusul oleh Roro. Kedua bocah tanggung ini bergerak cepat sekali melompati batu-batu terjal, meniti akar pohon, dan mendaki lereng perbukitan. Tak berapa lama keduanya telah tiba diatas. Tampaknya Ginanjar mengatur napas sebentar, lalu berlarilari lagi menyusul Roro, yang sudah mendahului tanpa berhenti untuk beristirahat.

Siapakah gerangan gadis tanggung bernama Roro itu? Dialah kiranya si bocah angon yang telah ditolong oleh seorang laki-laki dari terjangan kaki-kaki kuda pada tujuh tahun yang lalu. Marilah kita ikuti kemana gerangan kedua bocah tanggung itu menujunya.

Diujung jalan setapak, pada sebuah tempat yang bersih dan luas, tampak duduk seorang kakek diatas sebuah batu besar. Sang kakek ini berambut gondrong yang sudah putih semua. Bahkan kumis dan jenggotnya yang tebal itupun telah memutih bagaikan kapas. Hati Ginanjar sudah kebat-kebit dari kejauhan ketika melihat orang tua ini. Sementara Roro terus berlari cepat didepan Ginanjar. Ketika kira-kira beberapa tombak lagi, tiba-tiba tubuh Roro meletik indah, dan berjumpalitan diudara. Begitu menginjak tanah, ternyata sudah tiba dihadapan sang kakek tua itu.

“Ada apakah, kek? kau memanggilku..?” Bertanya Roro, yang segera duduk bersimpuh dihadapannya.

Sang kakek ini tak menjawab, tapi bibirnya diam-diam sunggingkan senyuman. Hatinya memuji kagum melihat gerakan lincah bocah perempuan tanggung ini, yang gunakan jurus Rajawali Menukik. Sementara tatapan matanya ditujukan pada Ginanjar, yang sudah tiba dan segera duduk bersimpuh disamping Roro.

“Hm, kalian pasti habis mandi..!” Berkata sang kakek seraya menatap keduanya yang rambutnya masih basah.

Hampir berbareng keduanya mengangguk. Roro tampak tenang-tenang saja, tapi Ginanjar terlihat benar gelisahnya. Sedari tadi hatinya memang sudah kebat-kebit.

“Bukankah sudah kukatakan, kalian tidak boleh mandi berdua-dua? Apakah kalian memang sengaja melanggar larangan, dan mau menjadi murid-murid yang keras kepala..?” Tanya sang kakek.

“Hayo jawab..!!” Bentak si kakek tiba-tiba, membuat Ginanjar jadi terlonjak kaget. Sedangkan Roro tiba-tiba menutup mulutnya karena merasa hal itu amat lucu. Tubuh Ginanjar tampak gemetaran tanpa bisa menjawab. Melihat demikian Roro cepat-cepat menjawab seenaknya.

“Kami tidak mandi berdua, kek..! Apakah kakek telah melihat sendiri dengan mata kepala?” Bertanya Roro.

Sang kakek jadi berpaling menatap Roro. Alisnya yang putih itu bergerak menyatu, dan sepasang matanya melotot tajam. Akan tetapi memang dia jadi gelagapan ditanya demikian, karena sebenarnya dia tidak melihat kedua bocah itu mandi berdua ataukah seorang diri.