Empat Iblis Kali Progo Bab 4

MATAHARI sudah condong ke arah barat. Ginanjar masih tetap menggantung diatas dahan dengan kepala terjuntai kebawah. Dalam keadaan jungkir balik demikian tentu saja bernapaspun tidak leluasa rasanya. Mata bocah laki-laki tanggung ini mulai berkunang-kunang. Kepala terasa berat, tapi anehnya setelah dia salurkan hawa murni ke seluruh tubuh seperti yang diajarkan Ki Bayu Sheta gurunya, segera terasa enak sekali berjuntai seperti kampret begitu.

Apalagi dalam keadaan menjuntai itu si bocah laki-laki tanggung itu telah membayangkan kejadian disungai tadi. Serasa enggan dia membuka sepasang matanya yang mengatup, karena khawatir bayangan indah yang dilihatnya mendadak hilang. Selang beberapa saat, dan entah sudah berapa lama Ginanjar menjuntai demikian tak dirasakannya lagi. Ketika tiba-tiba didengarnya satu suara yang sudah tak asing lagi bagi pendengarannya.

“Ginanjar! Kau sudah boleh turun!”

Tentu saja bocah laki-laki ini jadi terkejut tapi juga girang. Segera dia buka sepasang matanya. Tak dilihatnya ada Ki Bayu Sheta ditempat itu, namun suara tadi memang jelas suara gurunya. Tak ayal segera dia enjot tubuh untuk kembali tegak duduk diatas dahan. Kembali dia pentang mata untuk melihat sekitarnya. Dan memang tak menampak gurunya berada disekitar tempat itu. Hm, suara itu tak mungkin aku salah dengar! Gumam Ginanjar dalam hati. Dan… melompatlah dia dari atas dahan tinggi itu.

Tubuhnya meluncur turun dengan deras, tapi sebelum jejakkan kakinya ke tanah telah melayang sebuah ranting kayu menyambar kakinya. Terkejut bocah laki-laki ini, segera dia jatuhkan diri bergulingan. Sambaran ranting itu memang berhasil lolos. Akan tetapi ketika dia melompat bangkit berdiri, segera perdengarkan suara teriakan mengaduh. Dan kembali jatuh terduduk, karena terasa kakinya kesemutan. Segera saja lengannya bergerak mengurut-urut kedua kakinya.

“Bocah tolol!” Terdengar suara bentakan, dan sebuah bayangan berkelebat yang tak lain Ki Bayu Sheta adanya. “Keadaan kakimu belum pulih! Darah masih berkumpul dikedua kakimu! Mana kuat kau jejakkan kaki ke tanah dengan ketinggian seperti itu? Seharusnya kau salurkan kembali hawa murni dikedua kakimu untuk membuat darah membuyar!” Berkata Ki Bayu Sheta dengan sepasang mata melotot menatap pada Ginanjar.

Baca novel ini di Temanin.site

“Ampunkan kebodohan hamba, guru..!” Ujar Ginanjar, yang segera salurkan hawa murni kearah kedua kaki dan tak lama rasa kesemutan itupun lenyap. Dan sesaat dia sudah mampu melompat untuk berdiri.

Pada saat itu Roro pun muncul dengan wajah berseri gembira. Kiranya sewaktu dalam perjalanan kembali pulang telah pergunakan cara yang diajarkan Ki Bayu Sheta, hingga walaupun berlari-lari sekian lama tidaklah Roro merasa kelelahan. Dalam waktu singkat si gadis tanggung itu telah berhasil menguasai cara mengatur napas.

“Hihihi… kakek! Seharusnya dia tak usah kau suruh turun! Biarkan saja menjuntai diatas dahan menjadi kampret!” Berkata Roro sambil mencibir menatap Ginanjar. Bocah laki-laki tanggung itu cuma tersenyum, dan seketika wajahnya menjadi merah.

“Hm, sudahlah! Ayo, kita kembali ke pondok!” Berkata Ki Bayu Sheta. Dan mendahului berkelebat.

“Eh, Ginanjar! Kau mau pulang atau tidak?” Roro palingkan wajahnya menatap bocah laki-laki itu.

“Pulanglah duluan Roro..! Nanti aku menyusul!” Sahut Ginanjar dengan menatap pada Roro dan jatuhkan pantatnya duduk diatas akar pohon. Lengannya bergerak menguruti kakinya.

“Kakimu sakit?” Tanya Roro, seraya menghampiri.

“Tidak lagi! cuma kesemutan sedikit..!” Ujar Ginanjar.

Gadis tanggung ini gerakkan alisnya, dengan sepasang matanya berkedipan. “Aku akan bantu mengurut, biar lekas sembuh!” Berkata Roro seraya berjongkok dan ulurkan sepasang lengannya.

Berdebar seketika hati Ginanjar akan tetapi cepat-cepat dia berkata. “Sudahlah, cuma sedikit! Ayolah kita pulang..!” Ujar Ginanjar, dan segera bangkit berdiri.

Roro seperti tertegun, tapi segera perlihatkan senyumnya. “Ayoo..!” ujarnya.

Dan segeralah keduanya berlari cepat meninggalkan tempat latihan itu. Dikejauhan masih terdengar suara Roro yang tertawa cekikikan entah apa yang membuatnya geli. Namun sekejap mereka sudah tak kelihatan lagi.

* * * * * * *

Waktu berlalu terus… Dan saat yang dijanjikan itupun tiba juga. Ki Bayu Sheta tampak berdiri diatas bukit itu. Sepasang matanya menatap pada sebuah bukit nun jauh di sana, diarah sebelah barat. Bukit itu memang tampak jelas dari tempat dia berdiri. Itulah Bukit Kera! Bukit yang selalu diperhatikannya disaat-saat bulan Purnama. Senja itu matahari bersinar kemerahan. Cuma cahayanya saja yang menampak, karena sang matahari sudah tak terlihat terhalang bukit. Terdengar suara menghela napasnya, diseling suara menggumam lirih yang hampir tak terdengar.

“Hm, Dewa Tengkorak! Malam nanti aku akan menepati janjiku..!” Dan setelah menghela napas, kakek itupun putarkan tubuh untuk segera berlalu tinggalkan tempat itu.

Senja semakin melenyap untuk segera berganti dengan malam. Malam itu adalah malam bulan purnama yang ketujuh, sejak saat perjanjian yang telah ditentukan. Ki Bayu Sheta memanggil kedua muridnya, yang segera duduk bersimpuh dihadapannya. Pelita minyak sudah dipasang diatas meja kecil dihadapan mereka.

Ruangan pondok itu tampak lengang, karena kedua murid itu tak keluarkan suara sepatah pun. Sejak siang tadi mereka memang telah melihat perubahan sikap si kakek, tentu saja dipanggilnya mereka untuk menghadap bakal ada satu pembicaraan penting.

“Roro…! Ginanjar! Kuharap kalian tidak meninggalkan lereng Gunung Rogojembangan ini sepeninggalku!” Berkata Ki Bayu Sheta dengan suara berat. Mendengar itu kedua bocah ini hampir berbareng mengangkat wajahnya. Roro sudah lantas bertanya.

“Mau kemanakah kakek..?”

Ki Bayu Sheta cuma terdiam menatap kedepan. Lalu ujarnya. “Hm, kukira kalian tak perlu mengetahui! Karena ini adalah urusanku!” Menyahut sang kakek dengan suara tandas. “Yang penting kalian tak boleh meninggalkan tempat ini sampai kedatangan menantuku Jarot Suradilaga! Alias si Maling Sakti!” Ujarnya.

Dan kedua bocah itupun manggut-manggut dengan berbareng. Adapun Roro sudah lantas bertanya lagi. “Apakah menantu itu, kek?”

Tentu saja membuat Ki Bayu Sheta jadi tercenung. Lagi-lagi Roro selalu mengacaukan pembicaraan. Akan tetapi orang tua ini segera menghela napas, dan menjelaskan.

“Menantu itu artinya, gurumu si Maling Sakti itu telah menikah dengan anak perempuanku! Nah, si Jarot itulah menantuku..!” Ujar sang kakek dengan tersenyum.

“Kakek mempunyai seorang anak perempuan?” Tiba-tiba Roro kembali bertanya dengan menatap tajam pada Ki Bayu Sheta.

Laki-laki tua itu manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya. Dari sepasang matanya tiba-tiba sudah menggenang air mata. Tentu saja membuat Roro jadi melengak. Mengapa tahu-tahu si kakek jatuhkan air mata? Pikir Roro.

“Yah, aku memang mempunyai seorang anak perempuan yang telah menikah dengan gurumu Jarot Suradilaga alias si Maling Sakti! Akan tetapi anakku sudah pergi meninggalkannya. Pergi dengan membawa seorang bayi perempuan! Hal itu sudah berlalu empat belas tahun yang lalu…!” Berkata Ki Bayu Sheta dengan menyeka air matanya dengan ujung lengan jubahnya.

“Pergi… ? maksudmu berpisah, kek?” Tanya Roro.

Sang kakek kembali mengangguk, dan menatap pada Roro. “Ya..! kalau bayi itu masih hidup, tentu seusia denganmu Roro..!”

Roro sudah mau bertanya lagi, akan tetapi Ginanjar telah mencubit pahanya, memberi isyarat agar jangan terlalu banyak bertanya. Gadis tanggung ini monyongkan mulutnya, akan tetapi tak berani berkata.

Ki Bayu Sheta kembali teruskan wejangannya yang didengarkan oleh kedua muridnya dengan tundukkan wajah. Kali ini Ki Bayu Sheta benar-benar berpesan seperti orang yang tak akan berjumpa lagi membuat Roro dan Ginanjar jadi was-was hatinya. Namun mereka tak mengucapkan kata sepatahpun kecuali mengangguk.

“Nah, jagalah diri baik-baik!” Selesai berkata sang kakek bangkit berdiri, lalu beranjak keluar menuju halaman. Kedua muridnya ini segera mengikut mengantar kepergiannya. Tak berapa lama setelah menengadahkan kepala menatap rembulan, Ki Bayu Sheta segera berkelebatan cepat tinggalkan pondok di lereng Gunung itu. Roro dan Ginanjar cuma menatap bayangannya saja yang sekejap telah lenyap di keremangan malam….

Siapakah sebenarnya Ki Bayu Sheta alias Pendekar Bayangan itu? Dialah seorang pendekar yang pernah menggemparkan pada dua puluh tahun yang silam. Pendekar ini pernah turut berjuang mempertahankan Kerajaan MEDANG dari serbuan musuh, dan turut serta dalam sebuah pemberontakan, karena ketidak senangannya melihat Para Pembesar Kerajaan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, disaat Kerajaan sudah kembali aman.

Gerakan pemberontakan itu dipimpin secara sembunyi-sembunyi, dengan mengikut sertakan kaum pengemis yang berjiwa Patriot. Disitulah Ki Bayu Sheta berjumpa dengan Jarot Suradilaga alias si Maling Sakti yang ternyata adalah pemimpin dari kelompok Partai Pengemis.

Kerajaan Medang waktu itu dalam keadaan gawat. Namun berkat bantuan rakyat dan kaum Partai Pengemis yang turut berjuang, semua kerusuhan itu dapat dipulihkan. Dan semua itu harus meminta korban jiwa yang tidak sedikit. Walaupun demikian, setelah Kerajaan menjadi aman, ternyata masih ada juga beberapa gelintir manusia yang duduk bercokol dikursi kebesaran dengan kekuasaan yang membuat beban berat terhadap rakyat tanpa setahu Raja.

Bukit Kera adalah tempat yang dituju Ki Bayu Sheta. Yaitu sebuah bukit yang memang banyak dihuni oleh kera-kera. Tampaknya si Pendekar Bayangan tak begitu tergesa-gesa untuk cepat tiba dibukit itu. Bulan Purnama tampak membulat indah pancarkan sinarnya yang terang benderang. Tanpa setahu Ki Bayu Sheta, sesosok tubuh ramping telah mengikutinya dengan gerakan hati-hati. Siapakah gerangan sosok tubuh yang menguntitnya itu?

Tak lain dari seorang bocah perempuan, yang ternyata adalah Roro. Walaupun bayangan tubuh Ki Bayu Sheta sudah tak kelihatan lagi, namun Roro masih bisa mengetahui letak Bukit Kera. Karena Roro memang sudah menduga kepergiannya adalah ke bukit itu, sebab dia sering melihat sang kakek menatap kearah barat. Dan gumamnya terkadang terdengar oleh Roro…..