HANTAMAN demi hantaman pun berlangsung. Dan si Pendekar Bayangan selalu berhasil menahannya, hingga sampai jurus kelima. Hawa disekitar tempat itu mulai terasa panas. Berpuluh-puluh ekor kera sudah berlompatan menyingkirkan diri. Angin malam yang membersit dari atas Bukit Kera ternyata telah menimbulkan hawa panas yang menyebar disekitarnya.
Bahkan hawa panas itu kini sudah berganti-ganti panas dan dingin, karena Si Pendekar Bayangan telah keluarkan tenaga dalam Inti Es untuk menahan serangan Si Dewa Tengkorak. Pada Jurus kelima ini telah membuat Ki Bayu Sheta terdorong mundur dua langkah. Sedangkan tubuh si Dewa Tengkorak tampak bergoyang-goyang, tapi cukup membuat tokoh hitam Rimba Persilatan ini terkejut karena hawa dingin seperti telah memusnahkan tenaga dalam Inti Apinya.
Jurus keenam telah dilancarkan lagi. Kali ini si Pendekar Bayangan harus hati-hati, karena jurus ini amat berbahaya dan lebih ganas lagi. Pukulan si Dewa Tengkorak mengarah batok kepala orang dengan cengkeraman ganas. Sedang sebelah lengannya lagi menghantam kearah jantung. Serangan ke arah batok kepala dapat dihindarkan.
Akan tetapi yang mengarah ke jantung sukar dihindarkan karena datangnya terlalu cepat dan dibarengi hawa panas yang menyesakkan pernapasan. Tenaga Inti Es nya ternyata seperti meleleh oleh hawa Inti Api si Dewa Tengkorak, yang ternyata lebih kuat. Untung dia keburu doyongkan tubuh, akan tetapi tetap saja pukulan itu bersarang dibahunya sebelah atas. Dan….
Bukk…! Ki Bayu Sheta terdorong tiga langkah. Jubahnya pada bagian bahu sebelah atas itu robek hangus, dan tampak kulit bahunya mengelupas. Namun dengan mengertak gigi, Ki Bayu Sheta tak perlihatkan rasa sakitnya. Bahkan dengan gagah kembali berdiri tegak dengan mengumbar senyum.
“Hebat! Jurus keenam ini cukup luar biasa, sobat Dewa Tengkorak! Nah, aku sudah siap menanti serangan jurus ketujuh!” Berkata Ki Bayu Sheta denga suara santar.
Baca novel ini di Temanin.site
Akan tetapi sampai jurus keenam ini si Dewa Tengkorak berhenti sejenak, seperti memberi waktu pada lawannya untuk mengatur napas. Namun agaknya si Pendekar Bayangan sudah tak sabar lagi. Di merasa bagai seorang bocah kecil yang harus di kasihani. Memang diakuinya bentengan hawa murni pada tubuhnya yang mengandung hawa Inti Es dapat dijebol si Dewa Tengkorak. Dan membuat darahnya seperti bergolak panas membuat dadanya menjadi sesak.
Setetes darah sudah tersembul disudut bibirnya. Akan tetapi mana mau laki-laki perkasa itu menunjukkan kelemahannya? Bahkan seperti tak mengalami apa-apa dia menantang jurus-jurus selanjutnya. Mengetahui si Dewa Tengkorak sengaja menyediakan waktu padanya untuk beristirahat, tentu saja membuat jago tua ini merasa terhina.
“Mengapa berhenti, Dewa Tengkorak? Heh, kau kira aku takut menghadapi ilmu Pukulan Penggebuk Anjingmu itu? Ataukah kau malu mempertunjukkannya padaku? Hahaha.. hehehe….” Sengaja Ki Bayu Sheta mengejek si Dewa Tengkorak agar menjadi marah, dan segalanya akan cepat menjadi beres.
Mendengus si Dewa Tengkorak. Wajahnya seketika menjadi merah padam. Dan dia sudah mengangkat tangannya, seraya berteriak. “Baik Bayu Sheta! Terimalah jurus ketujuh dan kedelapan!”
Tampak sepasang lengan si manusia Jerangkong itu telah berubah merah bagaikan bara api yang mengepulkan asap tipis. Si Pendekar Bayangan menahan napas, dan sudah siap menghadapi dua jurus ketujuh dan kedelapan dari Sepuluh Jurus Pukulan Kematian. Satu bentakan keras seperti membelah bukit.
Hawa panas melingkupi sekitar bukit Kera, ketika sepasang lengan si Dewa Tengkorak bergerak memutar yang menimbulkan angin panas. Ketika putarannya berhenti mendadak tubuh si Manusia Jerangkong itu mencelat keatas setinggi sepuluh tombak. Dan ketika menukik lagi, segera hantamkan lengannya kearah Ki Bayu Sheta.
Dessss…!
Satu pukulan berhasil ditangkis si Jago tua ini. Tubuh Ki Bayu Sheta terhuyung kebelakang. Dan jurus berikutnya adalah tiga serangan sekaligus, yang mengarah ketiga bagian tubuh si Pendekar Bayanga ditempattempat berbahaya. Yaitu tenggorokkan, perut dan selangkangan.
“Jurus keji..!” Terdengar sebuah bentakan, di susul dengan berkelebatnya sebuah bayangan putih. Dan…
Krak! Krak! Buk…!
Jurus kedelapan itu dapat mengenai sasaran. Dan terdengarlah suara jeritan parau menyayat hati, dengan diiringi terlemparnya sesosok tubuh yang ambruk ke tanah. Setelah berkelojotan beberapa saat sosok tubuh itupun diam tak berkutik lagi karena telah tewas dengan seketika. Apakah yang terjadi? Kiranya Ki Bayu Sheta telah terhindar dari pukulan maut si Dewa Tengkorak. Dan justru si pendatang barulah yang telah menahan pukulan keji si Manusia Jerangkong itu dan menjadi korban.
Sedangkan Pendekar Bayangan Ki Bayu Sheta masih berdiri dengan tubuh limbung. Darah segar berwarna hitam kental tersembur beberapa kali dari tubuhnya. Ternyata hantaman pada jurus awal dari jurus ketujuh tadi, Ki Bayu Sheta telah terluka parah. Seandainya tak datang sesosok tubuh yang menahan terjangan jurus selanjutnya dan mengorbankan nyawa, mustahil kalau si Pendekar Bayangan dapat lolos dari maut.
Sementara terjangan-terjangan yang terjadi di atas bukit Kera itu ternyata tak luput dari sepasang mata bening, yang telah turut menyaksikan pertarungan sejak awal tadi. Dialah Roro, si gadis bengal yang telah diamdiam menguntit sang kakek Ki Bayu Sheta. Sepasang mata gadis tanggung ini terbeliak lebar menyaksikan kejadian barusan. Dan dari bibirnya telah terdengar teriakan tertahan. Dan si gadis tanggung ini telah menghambur keluar dari tempat persembunyiannya. Ternyata dia telah mengetahui siapa adanya laki-laki yang mengorbankan nyawa menyelamatkan Ki Bayu Sheta.
“Guruuu…!” Teriaknya dengan suara parau bercampur isak. Dan dengan beberapa kali melompat dia sudah tiba didekat tubuh si pendatang, yang sudah terkapar tak bernyawa. Keadaannya amat mengerikan, karena tulang dadanya remuk, dan tulang leher patah, serta pada bagian selangkangannya telah hancur bersimbah darah. Sesaat Roro sudah jatuhkan tubuhnya untuk memeluki tubuh laki-laki itu, yang tak lain dari Jarot Suradilaga alias si Maling Sakti. Diguncang-guncangkannya tubuh laki-laki itu dengan isak tangis memilukan.
Sementara itu tanpa ada yang mengetahui disudut mata si Dewa Tengkorak tersembul setitik air bening. Untuk pertama kalinya dia mencucurkan air mata. Mengapa demikian? Karena didada si Dewa Tengkorak telah mengaduk berbagai perasaan menjadi satu. Hatinya begitu trenyuh menyaksikan pengorbanan si Maling Sakti pada si Pendekar Bayangan.
Alangkah bahagianya kalau dia dapat mati sebagai seorang Pendekar, seperti si Maling Sakti itu. Dan Si Pendekar Bayangan pun rela mati demi menebus nyawa 300 orang Partai Kaum Pengemis, yang sedianya sudah akan dibantai si Dewa Tengkorak, dan lasykar Kerajaan ketika mereka tengah berkemah bersama keluarga ditempat pengungsiannya ditepi sungai atau Kali Wringin.
Seorang Adipati bernama Haryo Gawuk telah melaporkan pada Raja Kerajaan Medang bahwa Parta Kaum Pengemis telah siap melakukan penyeranga ke Istana. Mereka berkemah ditepi Kali Wringin. Tentu saja Baginda Raja Kerajaan Medang menjadi murka. Karena merasa Partai Kaum Pengemis telah bertindak keterlaluan. Raja telah memberikan janji untuk mengangkat mereka yang telah turut berjuang membela Kerajaan dari kekuasaan musuh, dan telah pula membantu memperjuangkan rakyat dari tindakan para Pembesar yang sewenang-wenang, mengapa diberi penghargaan telah menolak?
Dan kini diam-diam telah mengatur pemberontakan. Segera saja perintahkan Senapati Trenggono untuk menumpas Partai Pemberontak itu. Akan tetapi hatinya menjadi ragu atas pengkhianatan Partai Kaum Pengemis. Segera Sang Raja perintahkan Patih Ganda Setho untuk menyusul Senapati Trenggono dengan membawa surat pembatalan untuk menumpas Partai Kaum Pengemis. Dan memerintahkan untuk menyelidiki terlebih dulu.
Sang Patih berhasil menyusul Senapati Trenggono dan pasukannya. Lalu berikan surat penggagalan penyerangan dari Baginda Raja. Ternyata sekembalinya sang Patih Ganda Setho, Senapati Trenggono yang memang telah mengatur rencana jahat dengan Adipati Haryo Gawuk, segera berunding. Ternyata diam-diam sang Adipati telah berhubungan dengan si Dewa Tengkorak. Dan telah menyogok si Dewa Tengkorak dengan harta dan wanita.
Tentu saja si Dewa Tengkorak yang terkenal berkepandaian tinggi dan ditakuti itu tak menolak. Sebagian lasykar Kerajaan kembali pulang bersama Senapati. Akan tetapi sebagian lagi telah turut menyerbu ke kemah kaum Partai Pengemis, yang pada waktu itu berada di tepi Kali Wringin bersama keluarganya.
Mereka telah dikepung ketat, dan dalam keadaan tak siap siaga. Karena merasa keadaan Kerajaan sudah aman. Mereka sengaja berkumpul karena akan mengadakan penyambutan buat si Pendekar Bayangan dan Ketua Mereka si Maling Sakti, berkenaan dengan menikahnya puteri si Pendekar Bayangan Ki Bayu Sheta dengan Jarot Suradilaga alias si Maling Sakti, sang Ketua mereka. Tentu saja keadaan dikemah mereka cuma ada beberapa puluh orang kaum laki-laki, karena sisanya tengah menghadiri pesta pernikahan anak perempuan si Pendekar Bayangan disisi Kota Raja, yang diadakan dengan sembunyi-sembunyi.
Rupanya hal tersebut sudah bocor, dan diketahui oleh anak buah Adipati Haryo Gawuk. Sang Adipati mengkhawatirkan akan kedudukannya, karena dia memang salah seorang Adipati yang bertindak tidak jujur, dan melakukan pemerasan terhadap rakyat. Dengan adanya Komplotan Partai Pengemis, bisa-bisa dirinya akan tergeser dan dipecat seandainya komplotan para pejuang itu mencium tindakannya.
Demikian juga dengan Senapati Trenggono, karena adalah bekas seorang Tumenggung yang justru disaat keadaan Kerajaan sedang kacau, dia berpihak pada musuh. Bisanya menduduki jabatan sebagai Senapati, tentu saja dengan jalan memutar lidah dihadapan Raja. Dan mengkambing hitamkan rakyat atau para Pembesar Kerajaan lainnya, hingga sang Raja menjatuhkan hukuman mati pada orang yang sebenarnya tidak bersalah.
Karena mengkhawatirkan kedudukannya juga khawatir tersingkap kejahatannya, Senapati Trenggono telah bersengkongkol dengan Adipati Haryo Gawuk untuk menyingkirkan kaum Partai Pengemis para pejuang pembela rakyat itu. Tentu saja pengaturan itu telah dipersiapkan sejak lama. Dan berhasil dihubungi seorang tokoh hitam yang bergelar si Dewa Tengkorak.
Untunglah dalam saat yang genting itu, si Pendekar Bayangan telah menerima laporan dari anak buahnya tentang penyergapan itu. Dan tanpa memberitahukan pada semua kawan-kawan dan anak buahnya yang tengah mengadakan pesta meriah, si Pendekar Bayangan berkelebat cepat sekali kearah Kali Wringin.
Dan berjumpa dengan si Dewa Tengkorak. Ki Bayu Sheta tak dapat berkutik, karena sekali si Dewa Tengkorak memberi isyarat, maka akan segera terjadi pembantaian yang telah dipersiapkan itu. Lebih dari tiga ratus nyawa akan melayang yang terdiri dari anak-anak kecil bayi dan wanita tak berdosa.
Akhirnya dengan memohon belas kasihan, dan dengan rela menukar nyawa 300 jiwa keluarga tak berdosa itu dengan nyawanya, Ki Bayu Sheta memohon agar si Dewa Tengkorak membebaskan mereka. Dewa Tengkorak memang telah mengetahui akan kehebatan si Pendekar Bayangan ini, dan sudah ada niatnya untuk mengadu kesaktian.
Tentu saja tawaran itu tak ditolaknya. Dan gagallah pembantaian atas 300 jiwa keluarga kaum Partai Pengemis. Akan tetapi dengan satu perjanjian, yaitu dibubarkannya Partai Kaum Pengemis dan tidak diperkenankan lagi mencampuri urusan disekitar wilayah Kota Raja.
Memang belakangan Partai Kaum Pengemis itu dibubarkan. Akan tetapi beberapa bulan kemudian gerakan Partai tersebut yang secara sembunyi-sembunyi dibawah pimpinan Jarot Suradilaga alias si Maling Sakti berhasil membongkar kejahatan Adipati Haryo Gawuk.
Dan ketahuan pula siapa sebenarnya Senapati Trenggono. Ternyata Patih Ganda Setho telah membeberkan kejahatan Senapati itu dan membuktikannya dihadapan Raja. Selang sebulan Senapati dan Adipati itu ditangkap, dan dihukum gantung….