“Hihihi…. baiklah, kalau kau tak mau makan akan tahu sendiri apa akibatnya!” Berkata si wanita itu seraya lengannya bergerak ke bawah pembaringan batu! Dan sekejap lengannya telah mencekal sebuah bumbung bambu. Dengan cengar-cengir sumbat bumbung bambupun dibuka, dan tuangkan isinya keperut Roro.
Terpekik si gadis tanggung ini, karena segera puluhan ekor binatang Kalajengking telah merayap diatas perutnya. Berteriak-teriak dia dengan ketakutan, dan gerakkan tubuh untuk meronta. Akan tetapi tubuhnya tak dapat bergerak sama sekali.
“Tidaaak! tidaaak..! oh, aduuh! tolooong..! hiiii… auuuw..!” Hampir gila rasanya Roro karena takutnya. Akan tetapi si wanita itu justru mengikik tertawa dengan terpingkal-pingkal.
“Baik, baik..! aku mau makan..! Aku mau makan..!” Akhirnya Roro berteriak dengan wajah pucat ketakutan, terasa geli dan takutnya bukan buatan terhadap binatang itu yang seperti menggelitik kulit perutnya.
“Bagus! Nah, begitu..! Barulah kau seorang bocah yang baik!” Ujar si wanita dengan tampilkan senyum kemenangan. Dan segera diraupnya binatang itu untuk dimasukkan kedalam bumbung bambu, lalu menutup sumbatnya dan letakkan kembali ke bawah pembaringan. Demikianlah, akhirnya Roro mau disuapi makanan aneh itu, yang ternyata adalah lumut laut.
Siapakah sebenarnya si wanita yang bersuara aneh mirip laki-laki dan terkadang wanita itu? Ternyata tak lain dari seorang tokoh Rimba Hijau yang sudah lama mengurung diri digoa dasar tebing Pantai Selatan. Dialah yang berjulukan si Manusia Aneh Pantai Selatan, atau orang menjulukinya Si MANUSIA BANCI.
Baca novel ini di Temanin.site
Karena memang sebenarnyalah wanita genit itu bukanlah seorang wanita, melainkan seorang wadam alias Banci. Tubuhnya memang amat mirip dengan wanita. Akan tetapi sebenarnya tidaklah demikian, karena kepandaiannya merias dirilah yang membuat dia mirip sekali dengan wanita.
Roro yang sudah merasa bosan berada dipembaringan batu dengan tubuh terlentang itu seperti tak digubris permintaannya untuk membebaskan totokan si manusia Banci itu. Demikianlah, entah sudah berapa hari berapa malam, Roro tak dapat berkutik.
Entah berapa puluh kali makanan yang memuakkan itu masuk ke perutnya. Namun lama kelamaan dia sudah biasa. Roro memang sudah berupaya untuk melepaskan diri, akan tetapi si Manusia Banci itu selalu mengulangi menotoknya, hingga dia tak dapat berbuat apa-apa selain mengeluh memikirkan nasibnya.
Satu hal yang membuat Roro tak habis pikir adalah si manusia aneh itu sering menimang-nimang kedua potong benda yang telah direbut dari tangannya, yaitu potongan tombak Pusaka milik si Dewa Tengkorak. Terkadang si Banci itu tertawa-tawa sendiri, tapi terkadang menangis tersedu-sedu dengan air mata bercucuran. Membuat Roro jadi kasihan. Entah ada rahasia apa dibalik keanehannya itu.
Roro semakin menyadari kalau wanita dihadapannya itu bukan wanita, tapi juga bukan laki-laki. Terbukti suatu ketika, tampak seorang gadis cantik sekali memasuki ruangan kamarnya. Terperangah Roro, karena gadis cantik itu tak mengenakan pakaian sama sekali alias telanjang bulat… Rambutnya terurai, dengan sepasang mata redup, bak bidadari bangun tidur layaknya. Langkahnya lemah gemulai dengan perlihatkan senyumnya yang menawan hati.
“Hihihi… Roro! Coba lihatlah aku baik-baik! Apakah aku cantik..?” Bertanya si gadis cantik itu.
Barulah Roro sadar kalau gadis cantik itu tak lain dari si wanita aneh. Segera saja dia mengangguk dengan tersenyum. “Kau amat cantik sekali, bibi..!” Menyahut Roro seraya manggut-manggut.
“Apakah aku amat mirip dengan perempuan..?” Tanyanya lagi. Tentu saja pertanyaan itu membuat dia ternganga, karena jelas wanita itu seorang perempuan, mengapa bertanya demikian? Pikir Roro. Namun dia tak berani memastikan apakah si bibi itu seorang perempuan, karena terkadang memang agak mirip dengan laki-laki. Dan kesemuanya itu membuat dia jadi bingung, tapi segera menjawab.
“Hihihi… kau mirip sekali dengan perempuan, dan bukankah kau… kau memangnya bukannya seorang perempuan seperti aku..?” Tanya Roro yang tak dapat menyembunyikan apa yang dilihatnya. Akan tetapi jawabannya adalah wanita ini menatapnya tajam-tajam dengan sepasang matanya yang berkaca-kaca. Dan terdengar suaranya yang bercampur isak.
“Ah,… seandainya aku memang seorang perempuan, tidaklah aku menderita begini..!” Dan dia sudah balikkan tubuh lalu lengannya menyambar jubah yang biasa dikenakannya. Tak lama dia sudah lepaskan dua buah benda dari tubuhnya, seraya beranjak menghampiri Roro.
“Kau lihatlah! Benda ini adalah hasil ciptaanku yang kubuat sedemikian rupa, karena aku memang ingin sekali menjadi seorang wanita!” Berkata si manusia banci.
Barulah Roro tersadar kalau si wanita aneh itu memang bukan wanita dan bukan lakilaki. Karena segera tampak dadanya yang rata. Benda-benda itu telah membuatnya mirip dengan wanita yang seperti tak mengenakan busana. “Oh..!?” Tersentak Roro, dan kembali dia manggut-manggut dengan hati yang mulai mencair, karena segera timbul rasa kasihan pada si bibi itu.
“Benda-benda ini kelak akan kuhadiahkan padamu, Roro..!” Berkata si manusia Banci, yang kembali sudah perlihatkan wajah cerah.
Beberapa bulan sudah Roro tinggal diruang goa di dasar tebing karang Pantai Selatan itu. Dan selama itu Roro telah diperlakukan secara aneh. Tubuhnya dibalur dengan berbagai macam ramuan. Dan setiap pagi tentu akan menerima makanan memuakkan dari lumut laut. Keanehan-keanehan yang dilakukan terhadap Roro ternyata mempunyai maksud tertentu. Bahkan berbagai macam ramuan telah disuguhkan kepada Roro yang ternyata telah dicampur oleh makanan dari lumut laut itu.
Hingga tanpa disadari Roro telah memakan beberapa ramuan yang langka dan jarang terdapat didunia, yaitu ramuan awet muda. Karena sebenarnya si Manusia Banci itu telah mencapai usia 60 tahun lebih, tapi kenyataannya bagaikan seorang yang masih berusia tiga puluh tahun. Si Manusia Banci memang amat berharap pada Roro agar menjadi muridnya, dan mewarisi segenap ilmu kepandaiannya. Itulah sebabnya Roro diperlakukan secara aneh, untuk segera dapat menerima ilmu-ilmunya.
Demikianlah…. Roro si bocah perempuan yang berusia sekitar lima belas tahun itu telah resmi menjadi murid si Manusia Banci atau si Manusia Aneh Pantai Selatan. Tak seorangpun mengetahui adanya Roro di Pantai Selatan itu, yang tengah digembleng berbagai ilmu kedigjayaan oleh si Manusia Banci. Bahkan Roro mempelajari juga jurus-jurus maut si Dewa Tengkorak yang bernama 10 Jurus Pukulan Kematian.
Ternyata didalam Tombak Pusaka si Dewa Tengkorak itu ada tersimpan segulung kertas yang berisikan tulisan rahasia dari ilmu-ilmu si Dewa Tengkorak, yaitu 10 Jurus Pukulan Kematian itu. Dan Roro telah mempelajarinya dari gurunya yang aneh itu.
Satu hal yang baru dimengerti Roro, adalah ternyata si Dewa Tengkorak adalah laki-laki pujaannya yang telah membuat sang guru tergila-gila padanya. Namun si Dewa Tengkorak tak mengacuhkan “cinta”nya. Ternyata walaupun si Dewa Tengkorak memang banyak mempunyai isteri, si Manusia Banci ini tetap menaruh cinta yang sedalam lautan. Walaupun cintanya tak kesampaian.
Memang satu kejadian yang amat tragis dalam kisah manusia yang memburu cinta. Akan tetapi takdir memang harus disadari oleh setiap manusia. Karena Tuhan memang telah mengkodratkan diri manusia masing-masing dengan keadaannya.
* * * * * * *
Bagaimanakah dengan nasib Ginanjar sepeninggal Roro yang telah pergi diam-diam untuk menyusul Ki Bayu Sheta? Ternyata si pemuda tanggung ini telah mencari-carinya ke setiap tempat. Namun tak membawa hasil. Menjelang pagi segera teruskan pencariannya ke tempat-tempat dimana Roro biasa berlatih.
Akan tetapi tetap saja tak dijumpai si gadis tanggung yang bengal itu. Akhirnya Ginanjar memutuskan untuk tetap berdiam menunggu datangnya si Maling Sakti guru Roro, atau paman gurunya itu. Selama itu Ginanjar selalu berlatih memperdalam kepandaiannya yang telah diajarkan si Pendekar Bayangan.
Namun selama lebih dari satu bulan, tetap saja tak ada orang yang datang menyambangi pondoknya dilereng Rogojembangan itu. Baik Roro maupun sang paman gurunya si Maling Sakti tak memunculkan diri. Akhirnya Ginanjar bertekad turun gunung. Tujuannya adalah mencari dimana adanya Roro saudara seperguruannya itu. Sekalian mencari tahu tentang paman gurunya, yang menurut gurunya berada di wilayah Kota Raja.
Memikir demikian Ginanjar segera berkemas untuk membuntal pakaiannya. Akan tetapi terkejut pemuda tanggung ini ketika menemukan secarik kertas bertulisan dibawah pakaiannya. Ternyata adalah sebuah surat dari Ki Bayu Sheta yang diperuntukkan padanya. Surat itu mengatakan agar Ginanjar segera berangkat bersama Roro ke Kota Raja, bila sang paman guru alias si Maling Sakti tak juga datang dalam waktu satu bulan.
Disana Ginanjar disuruh mencari seorang sahabat sang guru yang berdiam di wilayah Kota Raja, bernama Ronggo Alit. Untuk menjumpainya adalah tidak sulit, karena Ronggo Alit membuka sebuah warung yang berdagang obat-obatan. Ronggo Alit adalah bekas anggota Partai Kaum Pengemis, yang sejak Partai itu dibubarkan dia membuka usaha demikian di wilayah Kota Raja.
Ginanjar dan Roro diharapkan dapat tinggal digedung kediaman sahabatnya itu untuk sementara waktu. Termenung sejenak bocah laki-laki tanggung itu. Lalu diteruskannya membaca surat. Ternyata diakhir kalimat si Pendekar Bayangan ada menitipkan kata-kata untuk sang sahabat, yang disuruhnya Ginanjar dan Roro memanggilnya “Paman”. Dan pada kalimat yang paling akhir adalah Ginanjar telah diwariskan sebuah Pedang Pusaka. Yaitu pedang pusaka milik sang guru. Kemudian ditunjukkan dalam surat tempat penyimpanannya.
Kembali termenung Ginanjar, lalu segera dilipatnya surat itu dimasukkan kesaku bajunya sebelah dalam. Tak lama dia sudah bangkit berdiri, dan segera menghampiri sebuah rak diatas tempat tidur gurunya. Disanalah dia menemukan sebuah pedang yang gagangnya terbuat dari perak berkilauan. Sarung pedangnya berukir seekor naga. Tampak wajah Ginanjar menampilkan wajah girang.
Akan tetapi juga bersedih, karena sampai kini tak diketahui nasib gurunya, juga nasib Roro dan sang paman gurunya. Namun segera pemuda tanggung ini cepat berkemas. Beberapa keping uang ternyata telah diselipkan juga dekat sarung pedang. Dia dapat mempergunakannya bila mana perlu. Agaknya Ki Bayu Sheta telah mempersiapkan terlebih dulu sebelum keberangkatannya.
Ketika matahari sudah hampir berada diatas kepala, Ginanjar sudah tinggalkan pondok dilereng Gunung Rogojembangan itu. Terasa sedih juga hatinya karena hampir sepuluh tahun sejak dia diambil si Pendekar Bayangan dari sebuah rumah yatim piatu, dia dididik ditempat ini oleh Ki Bayu Sheta. Hingga dia merasa sang guru sebagai orang tuanya sendiri.
Dari sang guru diketahuinya bahwa orang tuanya telah meninggal. Tak diketahui jelas siapa dan dimana meninggalkan ayah ibunya, karena Ginanjar memang tak pernah menanyakannya. Tak lama bocah laki-laki tanggung itu telah berkelebat cepat menuruni lereng Rogojembangan.
Dengan bekal keyakinan untuk suatu ketika dia dapat menjumpai Roro saudara seperguruannya. Angin pegunungan berhembus sejuk seperti mengantarkan kepergiannya yang tentu saja akan banyak menimba pengalaman kelak ditempatnya yang baru.