Senja sebentar lagi akan lewat dan berganti dengan malam. Telaga yang berair jernih itu menampakkan dua bayangan sosok tubuh, namun tidak jelas karena air telaga bergoyang-goyang terkena hembusan angin. Ternyata sang angin terus menghembus ke darat dan menyibak segerumbul rumput alang-alang yang segera terdengar bunyi berkeresekan. Kedua sosok tubuh itu ternyata berada di tempat itu, terlindung semak lebat yang banyak tumbuh di sisi telaga. Keduanya dalam jarak yang dekat sekali, sehingga saling menempel tubuh yang satu dengan lainnya.
“Ayolah, buka pakaianmu…” Salah seorang berbisik.
“Tunggu dulu sampai agak gelap, aku takut ada orang melihat kita. Menyahut yang seorang.
“Aih… Percayalah, tempat ini tersembunyi. Takkan ada orang yang melihat kita!” Yang seorang agaknya sudah tak sabar lagi menunggu, dan segera membukai pakaiannya. Terpaksa ia pun menuruti membuka pakaiannya satu persatu. Dan tak lama kemudian kedua sosok tubuh itu sudah dalam keadaan bugil. Sementara cuaca semakin gelap. Rembulan sisa kemarin malam belum lagi muncul. Terdengar yang seorang mendesah.
“Oh, dinginnya!”
“Hmm… nanti setelah kita berenang pasti akan menjadi hangat, percayalah!” Berkata sosok tubuh yang disebelahnya. Dan sebelum kata-kata itu disahuti, sosok tubuh yang berada di sebelahnya telah berkata; “Lihatlah…!”
Baca novel ini di Temanin.site
Sebuah benda hitam panjang meluncur ke luar dari balik semak! Bergerak-gerak dedaunan yang kena tersenggol benda tersebut. Mata sosok tubuh yang melihat keluarnya benda itu jadi menatap tak berkedip. Dan tak lama kemudian.
“Ayo… doronglah sedikit lagi, tekan agak kuat…! Nah, begitu… !” Terdengar suara. Dan terlihatlah dengan jelas sebuah rakit melaju ke tengah telaga yang dikemudikan oleh seorang wanita setengah umur dengan mempergunakan sebatang bambu panjang untuk pengayuhnya.
Dari seberang telaga itu terdengar lagi suara seorang wanita; “Cepat kau tarik rakit itu ke pinggir, dan ikatkan yang kuat dengan rakitmu!”
Si wanita itu tak menyahuti karena sibuk menancapkan batang bambu panjang itu ke dalam air. Bila telah menyentuh dasar, segera menekannya dan mendorong rakitnya yang diarahkan pada rakit yang terapung di tengah telaga itu.
Sebentar kemudian kedua rakit itu telah merapat. Segera si wanita itu mengikatnya kuat-kuat pada ujung kedua rakit itu dengan tali yang telah disediakan. Dan selanjutnya ia sudah mengayuh lagi rakitnya untuk kembali lagi ke seberang telaga. Terdengar si wanita itu menggumam sendiri.
“Heran?! Entah rakit siapa yang hanyut sampai ke mari…!”
Sementara kedua sosok tubuh yang telah membugil itu jadi saling pandang dan garuk-garuk kepala. “Huh!? Pembantu-pembantu tua itu telah menggagalkan rencana kita!” Berkata yang seorang.
“Ini semua adalah gara-garamu, yang tidak mengikat rakit dengan kencang, hingga hanyut ke tengah…!” Kata yang seorang lagi mendesis.
Ternyata kedua orang itu adalah si tukang gali kuburan, yaitu Gento dan si hidung betet. Yang sudah mengatur rencana untuk menyeberang dengan rakit yang telah disembunyikan di balik semak, namun ikatannya terlepas dan hanyut ke tengah telaga.
Si hidung betet tak bisa menjawab, namun hatinya diam-diam memikir; Rasanya sudah ku ikat cukup kuat… tapi entahlah! Karena waktu itu aku tergesa-gesa takut dilihat orang. Dan entah galah bambunya itu hanyut ke mana. Berfikir lagi ia. Rasa sakit pada pangkal pahanya dan gatal-gatal pada punggungnya membuat si hidung betet berteriak tertahan;
“Aduh!” Dan terdengarlah suara Plak! Plok! ketika lengannya bergerak ke sana-kemari memukuli tubuhnya. Ternyata nyamuk-nyamuk rawa telah menggigit tubuhnya yang telanjang bulat. Dan mulai menyerbu menyantap darah yang dihidangkan untuknya.
Segera saja cepat-cepat ia mengenakan pakaiannya lagi dengan terburu-buru. Begitu juga Gento yang mulai diserbu binatang-binatang penghisap darah itu, segera sambar pakaiannya. Sementara mulutnya terus menggerutu mempersalahkan kawannya. Belum lagi dua pekan kedua sahabat itu yang kerjanya cuma sebagai kuli suruhan orang, telah tidak mempunyai uang lagi.
Rupanya Gento mempunyai kelakuan yang tidak baik, yang telah menyeret si hidung betet untuk mencuri pada salah sebuah rumah gedung di seberang telaga itu. Rakit bambu sudah sejak siang-siang mereka sediakan untuk menyeberang. Rencana sudah diatur matang sejak tadi siang. Gedung itu memang di samping letaknya agak terpencil, juga bagian belakangnya sudah bolong-bolong. Hingga mengundang orang untuk berniat jahat.
Mereka sengaja menyeberang tidak terlalu malam, karena di belakang gedung itu ada tempat untuk bersembunyi, sambil melihat situasi untuk segera mereka melaksanakan niatnya nanti malam. Tapi apa lacur sang rakit telah hanyut ke tengah. Mereka sudah membukai pakaiannya untuk dibawa berenang ke sana, ternyata telah keduluan munculnya pembantu-pembantu rumah gedung itu yang kini tengah menarik rakitnya dibawa langsung ke seberang. Gagallah rencana jahatnya. Tak berapa lama kemudian keduanya sudah kembali menyuruk ke semak-semak untuk segera meninggalkan tepian telaga tersebut.
Ketika kedua bayangan sosok tubuh kedua tukang gali kubur itu sudah lenyap di kejauhan, sesosok tubuh muncul dari balik pohon di tempat yang agak ketinggian itu. Ternyata dia Roro Centil. Terlihat senyumnya yang menawan tatkala sang gadis Pendekar Pantai Selatan itu menatap rakit terapung yang sudah ditarik sampai ke seberang. Dan terdengar gumamnya puas.
“Heh! Biar kau rasakan kegagalanmu maling-maling picisan…”
Ternyata yang melepaskan rakit kedua tukang gali kubur itu adalah hasil perbuatan Roro, yang rencananya telah ia ketahui. Ternyata pertemuannya dengan Ginanjar telah menambah pengalamannya. Roro makin teliti dengan keadaan lingkungannya. Beberapa keping uang pemberian Pak Ronggo Alit cukup untuk makan tidur beberapa pekan, dan membeli satu setel pakaian laki-laki bekas di pasar loak. Entah akan dipergunakan untuk apa.
Roro Centil baru saja kembali dari Kota Raja entah mengapa ia ingin sekali mengetahui di mana tempat tinggal pemuda itu yang masih terhitung saudara seperguruannya. Ternyata orang yang bernama Ronggo Alit itu, seorang yang amat ramah tamah. Berumur kira-kira lima puluh tahun. Di rumah pak Ronggo Alit itulah Ginanjar tinggal selama ini.
Usaha pak Ronggo Alit ternyata amat maju pesat sebagai penjual obat-obatan. Toko nya yang besar itu dilengkapi dengan beberapa orang pembantu. Menurut penuturannya baru setahun inilah usaha itu dikembangkan. Gadis bernama Kasmini itu yang pernah ditolongnya, ternyata berada di sana. Juga bekerja sebagai pelayan di toko itu.
Banyak kisah menarik yang Roro dengar dari tokoh bekas pejuang dari Partai Pengemis, yang bersahabat baik dengan Ki Bayu Seta atau si Pendekar Bayangan almarhum. Dan tentu saja iapun menceritakan tentang kematian Pendekar Besar itu, yang masih termasuk Guru Roro, karena iapun mewarisi beberapa jurus ilmu kepandaiannya.
Hampir dua pekan ia berada di gedung sederhana tempat tinggal pak Ronggo Alit itu selama berada di sana banyak berita baik yang didengarnya. Yaitu ditumpasnya Partai Pengemis Baru yang telah muncul dan mengacau oleh pihak Kerajaan. Partai Pengemis lama pun telah dibubarkan agar tidak terjadi lagi hal-hal yang dikhawatirkan akan menimbulkan kericuhan.
Kini orang-orang Partai Pengemis lama yang pernah bersatu padu dengan pihak Kerajaan Medang dalam menumpas pemberontak, dapat bernapas lega. Sekembalinya dari Kota Raja, Roro menginap pada sebuah penginapan sederhana di dekat pasar. Malam baru saja merayap. Ketika Roro kembali ke tempatnya. Udara panas, seperti mau turun hujan. Rembulan pun terlihat dari selasela jendela agak meredup tertutup awan. Begitu tiba di kamarnya ia sudah lemparkan tubuhnya ke pembaringan empuk itu, yang segera berderit mengusik kelengangan.
Seperti biasa ia tak lupa untuk berserah diri pada Tuhan dan segera pejamkan mata. Rasa panas mulai berkurang ketika ada angin bertiup di luar. Kamar bagian atas tepat Roro bermalam itu cuma ada tiga kamar. Dan kebetulan malam itu tak ada lagi tamu yang menginap selain Roro. Dapat dilihat olehnya tadi sewaktu melewati kedua kamar itu yang terlihat kosong. Iapun dapat bernafas lega, karena sebagai seorang wanita selalu ada saja rasa khawatir terhadap keselamatan dirinya.
Suara burung Perkutut yang telah dikerek persis dekat jendela kamarnya itu membuat ia segera mendusin. Ternyata hari sudah agak siang. Karena jelas terlihat sorot panas matahari yang menyemprot dari sela-sela jendela. Bergegas ia bangun dan gerakkan tubuh untuk memulihkan lagi otot-otot yang kendur, dan melancarkan darah serta pernafasannya melalui beberapa gerakan khusus, mirip sebuah tarian yang diajarkan oleh si manusia banci Gurunya.
Selesai itu ia pun bergegas turun untuk mandi, setelah membuka terlebih dahulu jendela kamarnya, serta melirik sekejap pada seekor Perkutut yang sedang asyik manggung. Namun tersentak dan terhenti sejenak, karena terkejut melihat jendela yang sekonyong-konyong terbuka.