RORO Centil membentak keras “Awas kau, monyet tua…! Kalau berhasil kutangkap jangan salahkan aku kalau kuberbuat kejam..!” Tiba-tiba melayang sebuah benda ke arah Roro. Dengan cepat si Pendekat Wanita ini menyambuti. Ternyata adalah buntalan pakaiannya.
Terlihat bayangan si kacung tua itu kembali berkelebat dari balik semak, lalu sekejap telah menghilang. Roro Centil tak berusaha mengejarnya, akan tetapi memeriksa isi buntalannya. Terkejut Roro, karena Kitab Pusaka berkulit ular yang diselipkan di dalam buntalan itu telah lenyap.
“Setan alas…!” Memaki Roro. Seraya berkelebat mengejar ke arah si kacung tua itu melarikan diri. Sengaja Roro Centil mengambil arah yang bukan jurusannya, ternyata membawa hasil memuaskan. Justru si pancuri kitab itu telah kelihatan oleh Roro. Bagus…! Biarlah! Ingin kutahu, ke mana gerangan ia akan pergi… berkata dalam hati. Segera dia sembunyi dan mengintai.
Sementara kacung gagu itu tampak tersenyum-senyum sendiri sambil bersiul-siul. Tiba-tiba terdengar suaranya; “He he he… akhirnya kudapatkan juga Kitab Ular ini. Kalau aku tak kebetulan mengintip ke dalam kamar, tak kuketahui kalau si paderi palsu bernama Kuti itu meninggalkan Kitab rampasannya yang sedang dibenahi si wanita tawanannya. Akhirnya kesabaranku membawa hasil memuaskan…!”
Seraya berkata laki-laki itu sudah kembali bersiul-siul dengan senang. Dan melangkah seenaknya. Namun selang tak lama, ia telah berkelebat cepat. Dan yang dituju adalah arah makam Kuno.
Terkejut Roro Centil mengetahui kalau si kacung gagu itu ternyata dapat berbicara. Ternyata manusia itu hanya berpura-pura gagu saja, dan telah lama mengincar Kitab di tangan Kuti. Entah dengan akal bagaimana hingga ia bisa menjadi kacung di Gedung Kuno itu. Dan berpura-pura menjadi seorang kacung tua yang gagu dan kelihatan tolol.
Baca novel ini di Temanin.site
Roro cepat mengejar, dan terus membuntuti. Akhirnya ia mengetahui kalau si kacung bernama Tonga itu mempunyai tempat sembunyi di lubang rahasia di dalam kuburan. Ternyata Roro tidak terus mengejar. Tapi setelah mengingatkan tempat itu, ia segera berkelebat pergi. Biarlah…! Kelak kita merebutnya lagi. Yang penting aku telah mengetahui tempat pesembunyiannya. Berfikir Roro dalam benaknya, seraya meneruskan berkelebat meninggalkan tempat itu.
Demikianlah hingga Roro muncul lagi di saat terjadi pertarungan antara kedua wanita, si wanita bertongkat Naga dan muridnya yang berbaju merah, dengan si ketiga paderi palsu. Ternyata Roro Centil telah bersahabat dengan gadis baju merah itu. Bahkan sudah beberapa hari mereka tidur di penginapan satu kamar. Demikianlah kisah belakangan ini, hingga ketika Kuti kembali ke Gedung Kuno itu, Roro Centil telah bebas kembali.
“Kita harus cari tempat sembunyi yang aman. Dan mengenai Kitab itu, biarlah urusanku untuk merampasnya kembali…!” Berkata Kuti pada kedua adiknya.
Kebo Ireng dan Lembu Alas cuma bisa mengangguk. Akan tetapi diam-diam mereka agak mendongkol pada sang kakak, yang mempelajari isi kitab pusaka itu tanpa mengikutsertakan mereka. Bahkan menjamahpun mereka tidak pernah. Sementara itu Roro Centil dipenginapan telah menceritakan pada si Tongkat Seribu Racun mengenai Kitab Ular itu. Tentu saja membuat si wanita tua itu menjadi kecewa.
Akan tetapi juga bergirang hati, karena benda itu sudah berpindah tangan dari si tiga manusia yang dibencinya. Walau ia tetap berniat untuk merebut kembali kitab itu. Sayang si wanita tak mau menceritakan tentang isi kitab itu pada Roro, sehingga Roro Centil tak banyak bertanya apa-apa. Memang Roro pernah membuka isi kitab itu, tapi tak mengerti akan tulisannya. Karena huruf-hurufnya amat asing baginya.
Menjelang pagi, Roro Centil mohon diri untuk menemui Sentanu, si laki-laki penunggang kuda. Ternyata gadis berbaju merah yang bernama Roro Dampit itu, ingin turut serta. Roro tak dapat menolaknya. Sementara sang guru si gadis baju merah cuma mengangguk memberi izin.
Tak berapa lama keduanya segera berangkat. Tampaknya kedua gadis itu amat akrab. Memang Roro Dampit merasa simpati pada Roro Centil. Di samping nama depan mereka yang sama.
* * * * * * *
Keadaan di rumah kediaman Sentanu ternyata tengah berduka cita. Karena sang wanita tua yang malang itu telah meninggal dunia. Akibat tekanan perasaan yang luar biasa. Penguburan jenazah ibunya baru saja selesai pagi tadi.
Beberapa orang yang telah berdatangan menyampaikan rasa duka cita, telah kembali pulang. Kini tinggal Sentanu seorang diri di rumah tua peninggalan orang tuanya. Saat itulah Roro Centil dan si gadis baju merah memasuki halaman rumah laki-laki itu. Tentu saja membuat Sentanu jadi melengak. Segera ia telah mengenali si wanita Pendekar Pantai Selatan ini, dan berdiri menyambutnya.
Roro Centil segera memperkenalkan laki-laki itu pada si gadis baju merah, Roro Dampit. Lama mereka berbincang-bincang. Roro pun mengisahkan tentang penyelidikkannya. Yang sudah menemui titik-titik terang, yaitu adanya tiga orang paderi yang pernah mau membunuh Sentanu itu, telah dicurigai Roro Centil. Namun ia masih perlu mencari data-data lain yang lebih kuat.
“Aku turut berduka cita atas meninggalnya ibumu, sobat Sentanu…! Semoga kau dapat menguatkan imanmu, karena semua manusia toh pada akhirnya akan mati. Dan kematian itu adalah wajar, karena semua manusia sebenarnya telah ditakdirkan hidup-matinya…” Berkata Roro Centil, menghibur lakilaki itu dari kesedihannya.
Laki-laki tampak berkumis kecil itu cuma tersenyum tawar, walau sebenarnya hatinya remuk redam. Karena kematian ibunya justru akibat tekanan perasaan karena orang tua itu tak kuat mendengar cemooh kiri dan kanan. Apa lagi tuduhan demi tuduhan pada Sentanu. Membuat wanita tua itu semakin menderita korban perasaan, walaupun ia mengetahui tak mungkin anak laki-lakinya berbuat sekeji itu. Segala perasaan itu dipendam orang tua yang malang itu, hingga ia jatuh sakit.
Dan wafat dalam keadaan menderita kepedihan hati yang terus menerus. Semua kematian itu memang takdir, akan tetapi siapa yang tak akan berduka melihat penderitaan orang tua yang amat dicintainya? Semua itu adalah akibat fitnahan keji!
Sementara diam-diam Roro Dampit agak memperhatikan laki-laki gagah itu. Entah mengapa di hati gadis itu ada timbul semacam perasaan aneh. Seolah ia turut merasakan kesedihan Sentanu…
Selang tak berapa lama Roro Centil pun mohon diri. Sejenak si gadis baju merah melirik pada lakilaki itu yang kebetulan Sentanu pun tengah melihat padanya. Kedua pasang mata pun saling beradu menatap. Namun cepat-cepat Roro Dampit menundukkan wajah. Dan tiba-tiba saja hatinya jadi berdebaran secara aneh. Ketika tubuh kedua gadis itu telah tak kelihatan lagi, Sentanu mengeluarkan kudanya. Dan sekejap telah melompat ke punggung kuda. Untuk selanjutnya memacunya pergi entah menuju ke mana.
Matahari telah semakin tinggi, dengan panasnya yang amat terik, membuat setiap tubuh akan merasa kegerahan, dan keluarkan keringat. Penginapan yang di bagian bawahnya adalah sebuah restoran kecil, tampak hari itu ramai dikunjungi orang. Akan tetapi tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan, seorang wanita tua, telah keluar dari rumah penginapan itu. Dan berjalan dengan cepat, seperti ada suatu keperluan yang amat penting.
Kepergian wanita tua itu ternyata telah dibuntuti oleh tiga orang laki-laki yang memakai tudung. Yang tadi terlihat duduk di meja rumah makan. Tentu saja tak ada yang curiga, karena masing-masing sibuk dengan urusannya. Namun seorang pemuda diam-diam telah keluar pula dari penginapan itu. Kiranya si wanita tua itu adalah gurunya si wanita berbaju merah, yaitu si Tongkat Naga Seribu Racun. Tubuhnya berkelebat cepat, ketika tiba ditempat yang sepi. Yang ditujunya adalah ke tempat penguburan jenazah yang sudah tak pernah digunakan, yaitu Makam Kuno.
Tapi belum lagi ia tiba ditempat tujuan, yang kira-kira pada jarak dua puluh tombak lagi, tiga sosok tubuh yang membuntutinya telah menghadang. Kiranya ketiga orang bertudung itu mengambil jalan memutar.
“Ha ha ha… berhenti dulu, perempuan tua…! Kamu pasti telah memiliki Kitab Ular itu dari si Roro Centil. Serahkan kembali kitab pusaka itu pada kami! Kalau kau berani membangkang, tahu sendiri akibatnya…!” Teriak salah seorang. Sementara ia sudah melepas topi tudungnya. Yang segera saja diikuti oleh kedua orang kawannya. Ternyata mereka adalah si Tiga Paderi Lereng Gunung Wilis.
Wanita tua bertongkat Naga ini cuma mendengus. Walau pun ia mengetahui bahwa Kitab itu tak berada di tangannya, mana mau si wanita tokoh dari lereng Merapi ini membiarkan tiga manusia jual lagak di depannya. Memang sebenarnyalah si Tongkat Naga Seribu Racun mempunyai watak angkuh. Apa lagi sudah diketahuinya seorang murid perempuannya tewas oleh ketiga paderi palsu ini, menurut penuturan muridnya.
“Kalian paderi-paderi palsu jangan bertingkah tengik di hadapanku. Sebelum mengurusi soal kitab, mengapa tak kau urusi dulu kesalahanmu membunuh muridku?” Bentak si wanita.
“Membunuh muridmu…?” Teriak Kuti dengan mata melotot. Tapi ia telah tertawa terbahak-bahak. Dan lanjutnya. “Mengapa kau bisa menuduh aku yang membunuhnya? Dengan dalih apa kau bisa katakan kami yang berbuat?” Tanya Kuti.
“Heh! Belangmu sudah ketahuan, paderi palsu! Kau tak usah memungkiri lagi. Semua korban pemerkosaan di beberapa desa ini sudah tak pelak lagi adalah perbuatan kalian…! Kini kita teruskan lagi pertarungan kemarin! Kalian kira aku takut? Hi hi hi…si Tongkat Naga Seribu Racun tak punya kamus semacam itu…!”
Berkata wanita lereng Merapi ini. Dan ia sudah memutarkan tongkatnya di udara. Tentu saja ketiga paderi ini jadi naik pitam. Dan serentak mengurung wanita itu. Si paderi pendek bernama Lembu Alas sudah segera keluarkan senjata Kipas Baja dan tasbih hitam. Sementara si paderi berkuiit hitam mencabut keluar sebuah seruling besi, yang pada salah satu ujungnya berbentuk kepala burung, dengan paruh yang runcing. Adapun Kuti cuma bertangan kosong.
Ternyata kedua paderi itu telah lebih dulu menerjang si wanita bertongkat Naga, dengan disertai bentakan bentakan keras. Kipas baja si paderi yang pendek yang berujung tajam itu membersit menyambar leher, sementara tasbih hitamnya pun meluncur deras mengarah kepala.
Sedang si paderi berkuiit hitam Kebo Ireng pergunakan serulingnya menghantam dada. Wanita Tokoh Rimba Hijau dari lereng Merapi ini cuma perdengarkan dengusan di hidung. Sekonyong-konyong ia telah gerakkan tongkatnya menyambar terjangan itu, dengan diiringi gerakan menghindar ke samping.
“Wuusss…! Terpaksa si paderi pendek gagalkan serangannya, agaknya ia tak mau adakan benturan dengan senjata lawan. Namun tasbihnya bagai bermata, terus mengejar si wanita. Terpaksa si wanita lereng Merapi gerakkan gagang tongkatnya.
Rrttt…! Tasbih hitam si paderi itu ternyata telah menggubat tongkat lawan. Sementara seruling besi Kebo Ireng yang telah lolos dari serangan pertama, telah kembali merangkak dengan sengit. Terkejut juga si Tongkat Naga Seribu Racun. Sebelah lengannya segera menghantam lengan si paderi pendek yang mencekal tasbih, disertai bentakan keras.
Wuttt…! Terpaksa Lembu Alas lepaskan jeratan tasbihnya, dan dengan gerakan sebat ia telah lompat ke samping. Sementara itu serangan dari si paderi kulit hitam telah dihalau dengan asap beracun yang keluar dari kepala tongkat Naganya. Hingga terpaksa Kebo Ireng melompat mundur sambil tutup hidungnya. Demikianlah pertarungan berjalan dengan seru. Saat itu Kuti, si paderi tertua belum bereaksi apa-apa. Ia cuma perhatikan jalannya pertarungan.
Tampaknya si wanita itu sudah segera merobah gerakan tongkatnya. Kini terlihat kehebatan tongkat Naganya. Wanita ini telah mainkan tongkatnya dengan gerakan-gerakan cepat, untuk mengaburkan pandangan lawan. Yang terlihat cuma kelebatan tongkatnya saja bagaikan seekor naga kecil yang tengah mengamuk mengibaskan ekor. Sementara kepala tongkatnya semburkan uap putih yang menerjang kedua lawan.
Paderi pendek terpaksa gunakan kipasnya untuk mengusir uap yang terus mencecarnya, walau ia berhasil menghindar, tak urung ia telah kena menghisap uap beracun itu. Hingga ia agak ayal sesaat. Kesempatan itu memang ditunggu si wanita hebat ini.
Tiba-tiba dari balik uap itu telah meluncur deras ujung tongkatnya ke arah leher Lembu Alas. Terkejut paderi ini. Namun ia masih bisa melihat serangan mendadak itu. Segera ia jatuhkan diri menghindar. Akan tetapi ia tak dapat menghindari hantaman telak dari lengan si wanita tua yang mengandung tenaga dalam.
Bluk…! Si paderi pendek perdengarkan teriakannya. Dan tubuhnya terlempar lima enam tombak. Kuti menggeram gusar. Ia sudah lompat maju menerjang, seraya membentak keras; “Perempuan tua…! Terimalah kematianmu…!”
Bentakan hebat itu dibarengi dengan pukulan telapak tangannya seraya beruntun. Segera saja segelombang tenaga yang tak kelihatan menerjang si wanita itu. Asap beracun seketika buyar kena terhantam, sekaligus membuat tongkat si wanita tokoh lereng Merapi itu terhantam lepas. Dan pukulan kedua menghantam telak pada punggung wanita itu.
Terdengar pekik tertahan si Tongkat Naga Seribu Racun. Tubuhnya terlempar delapan tombak bergulingan. Kuti tidak berhenti sampai di situ saja, karena telah melesat memburunya, seraya hantamkan lagi telapak tangannya.
Akan tetapi si wanita tua itu bukanlah tokoh kemarin sore, ia telah balikkan tubuh dengan mendadak, ketika rasakan sambaran angin di belakangnya. Dan dengan tenaga dalam yang ia telah salurkan di tangan, ia telah papaki serangan si paderi jangkung itu.
Derrr…! Dua tenaga dalam segera beradu keras. Akibatnya terdengar teriakan dari dua orang itu yang hampir berbareng. Tubuh si paderi Kuti terhuyung empat tindak, dan jatuh terduduk. Akan tetapi tubuh si wanita lereng Merapi terlempar lagi bergulingan tujuh-delapan tombak, ke arah si paderi pendek.
Kesempatan baik itu tak disia-siakan Lembu Alas. Yang segera mencobloskan Kipas Bajanya yang runcing itu seketika menembus dada si Tongkat Naga Seribu Racun. Darah segar segera bermuncratan ketika Lembu Alas mencabut senjatanya. Wanita ini perdengarkan teriakan menyayat hati. Namun ia masih dapat bangkit berdiri, walau dengan tubuh terhuyung limbung.
Sepasang matanya terbeliak menatap pada paderi Kuti. Sedang lengannya tampak bergetar terangkat. Agaknya ia mau menggunakan tenaga terakhirnya untuk menyerang. Namun pada saat itu berkelebat bayangan si paderi kulit hitam, dari arah samping. Ujung seruling besinya yang runcing telah meluncur deras ke arah leher wanita hebat ini, dengan keluarkan suara membersit. Indra si wanita Tongkat Naga Seribu Racun agaknya sudah tidak berfungsi lagi sehingga ia tak dapat mengelakkan serangan ganas itu.
Jros…! Ujung seruling besi Kebo ireng telah amblas menembus lehernya. Terdengar suara seperti orang muntah. Darah kembali menyemburat, ketika si paderi kulit hitam itu menarik keluar senjatanya. Sesaat tubuh wanita kosen ini masih berdiri… namun tiba-tiba tampak oleh bergetaran, dan detik berikutnya segera roboh ambruk ke tanah, dengan berkelojotan mengerikan. Lalu diam untuk selama-lamanya.
“Ha ha ha… bagus…! Hayo, kalian periksa tubuhnya. Cari Kitab Ular itu…!” Teriak Kuti Segera saja kedua paderi itu bergerak cepat untuk memeriksanya. Akan tetapi sudah diraba di sana-sini, tak ditemukan apa-apa.
“Sial…! Ia tak menyimpannya..! Pasti berada pada murid wanitanya. Atau masih di tangan si Wanita Pendekar Roro Centil…!”. Berkata Kebo Ireng.
“Huh! Mengumbar tenaga percuma saja…! Aku yang sial terkena hantamannya…!” Berkata Lembu Alas si paderi pendek menggerutu, dengan wajah masih menyeringai menahan sakit pada dadanya.
“Sudahlah…! Ayo, kita pergi dari sini…!” Teriak Kuti. Segera saja ketiganya telah berkelebatan meninggalkan tempat itu. Sayang mereka tak mengetahui kalau si pemegang Kitab Ular ada di dalam Makam Kuno.
Makam Kuno itu memang makam yang misterius. Karena banyak lubang-lubang rahasia berada di bawahnya. Seperti tempat itu tempat memadu kasih saja layaknya. Karena tampak ada dua sejoli yang mirip suami istri, telah memasuki juga sebuah kuburan yang terbuka, dengan menggeser sebuah batu di balik rumpun.
Sementara itu di tempat kejadian tadi, sepasang mata telah mengikuti semua kejadian pertarungan itu hingga akhirnya. Si pengintai itu adalah Mandra. Ternyata Mandra telah pula menguntit ketiga paderi itu sejak dari rumah tempat penginapan. Pemuda ini memang mencurigai akan tindak-tanduk tiga orang bertudung itu. Karena ia seperti pernah melihat wajah serta potongan tubuhnya. Ternyata ketiga orang itu benarlah orang yang hari kemarin dilihatnya berada di rumah gedung Bupati Daeng Panuluh.
Memang Mandra agak mencurigai sang ayah. Yaitu Sengkuti alias Carik Desa itu yang sering mengunjungi Bupati Daeng Panuluh. Juga ia mencurigai sikap sang ayah, ketika ia akan mengajak adiknya pindah sementara. Marni, adik kandung Mandra terpaksa dibawa ke rumah majikannya. Tempat ia bekerja. Pemuda ini beranggapan bahwa adiknya akan aman berada di sana. Karena di samping ia memang jarang pulang, dan sering menginap di tempat pekerjaannya, Mandra bisa menjaga sang adik dalam situasi yang sedang genting itu.
Entah berapa kali Mandra mengorek keterangan dari mulut adiknya untuk menceritakan siapa yang telah berbuat nista padanya. Akan tetapi Marni selalu membungkam. Memang sejak kejadian itu, Marni tak pernah mau bicara. Hal mana membuat Mandra dapat mengerti, karena Mandra beranggapan sang adik mengalami gangguan perasaan, akibat kejadian itu.
Mandra memang merasa bersalah dalam hal ini, karena ia terlalu mempercayakan adiknya pada sang ayah, yang memang sebenarnya ayahnya bukanlah ayah kandungnya. Karena ayah sebenarnya telah meninggal sejak Marni masih bayi. Mereka berdua yang yatim piatu, telah dipungut oleh Sengkuti yang tak mempunyai anak seorang pun dari istrinya.
Gagalnya Mandra mendesak Marni buka mulut, membuat Mandra penasaran untuk menyelidiki sang ayah, ia memang melihat tingkah laku ayahnya yang aneh, ketika ia mengatakan Marni akan dibawanya ke tempat majikannya untuk tinggal sementara di sana. Demikianlah, akhirnya Mandra dapat menangkap pembicaraan sang ayah angkatnya pada sang Bupati. Ternyata mereka semua turut berkomplot dengan si ketiga paderi.
Bahkan ia melihat sendiri ketika ketiga paderi itu memasuki gedung sang bupati. Nyaris saja ia ketahuan, kalau tidak ditolong oleh seorang pemuda berbaju putih tak dikenal, yang rupanya ada di belakungnya turut mangutip pembicaraan mereka. Ketika terdengar bentakan dari dalam ruangan, si pemuda itu telah menyambarnya, untuk dibawa berkelebat dari tempat itu.
Pemuda itulah yang bernama Ginanjar. Ketiga paderi segera mengejar mereka. Namun beruntung mereka berdua dapat tempat sembunyi yang aman. Mereka pun berpisah. Dan Mandra kembali ke rumah majikannya. Tapi pemuda ini telah mengetahui kalau ayahnya terlibat dalam penculikan para gadis, juga perampokan, serta pemerasan. Karena Mandra telah mendengarnya dari penuturan si pemuda bernama Ginanjar itu.
Di depan matanya tadi ia telah melihat ketiga paderi palsu itu membunuh dengan keji si wanita bertongkat naga, dengan melalui pertarungan yang tidak adil. Setelah merenung sejenak, pemuda ini segera tinggalkan tempat itu. Ternyata ia kembali menuju ke penginapan tadi. Terkejut Mandra, ketika melihat Sentanu berada di depan penginapan. Yang ternyata tengah bercakap-cakap dengan dua orang wanita.
Segera saja Mandra mengenali akan si gadis baju merah. Karena pemuda inilah yang membantu mengubur jenazah adik gadis itu beberapa hari yang lalu. Yaitu mayat wanita yang ditemukan di pematang sawah. Sementara Roro Centil sudah dapat mengenali pemuda itu anak Carik Desa, yang pernah ia melihatnya ketika sedang bertarung bicara di dekat biara rusak tempo hari. Segera saja Mandra menghampiri, dan menjura hormat pada ketiganya, seraya berkata;
“Selamat berjumpa sobat Sentanu, dan nona-nona cantik…! Eh! Bolehkah aku mengetahui siapa adanya nona ini, adik Roro Dampit…!” Ujar Mandra seraya melirik pada Roro Centil yang ditanya segera tampilkan senyuman, dan menyahuti, dengan dekatkan wajahnya pada telinga Mandra.
“Eh, pemuda tolol! Apakah kau tak mengetahui kalau nona ini adalah nona Pendekar Wanita Pantai Selatan, yang bernama Roro Centil…? Mengapa kau berlaku kurang sopan?” Bisik si wanita baju merah.
Tentu saja bisikan itu membuat wajah Mandra jadi berubah kaget. Dan segera saja ia menjura sekali lagi pada Roro, seraya berkata; “Oh! Maafkanlah aku yang bodoh ini. Hingga tak mengetahui adanya nona Pendekar Pantai Selatan di sini…!”
Roro Centil jadi tersenyum. Namun sudah pura-pura cemberut memarahi si gadis baju merah. Gadis ini cuma tertawa saja. Sementara Roro Centil sudah berkata; “Ah, sahabatku ini terlalu menyanjung aku… sobat Mandra. Senang sekali kita dapat berkumpul…! Bukankah begitu sobat Sentanu…?” Ujar Roro Centil seraya palingkan kepala menatap si laki-laki berkumis kecil itu.
Sentanu cuma manggut-manggut, dan tersenyum hambar. Agaknya ia masih mendongkol pada Mandra. Apalagi sampai saat ini Sentanu belum bisa melacak siapa sebenarnya yang telah menodai Marni, adik kandungnya pemuda bernama Mandra itu.
Akan tetapi wajah Mandra tiba-tiba menampakkan perubahan mendadak. Dan ia sudah segera berkata. “Sobat Sentanu…! Sementara aku mencabut dulu tuduhanku padamu, mengenai kasus adikku Marni. Ada satu berita yang perlu kusampaikan pada kalian…!”
“Berita apakah…?” Roro Centil sudah mendahului bertanya.
Tampak Mandra menghela napas. Mandra memang telah mengetahui kalau si wanita bertongkat yang tewas itu ada hubungannya dengan kedua gadis ini. Karena ia memang telah melihat ketiga wanita tersebut menginap di penginapan ini semalam. Segera saja ia menceritakan apa yang telah terjadi beberapa saat yang lalu.
Terkejut Roro Dampit, seketika wajahnya menjadi pucat mendengar penuturan Mandra yang mengatakan tentang pertarungan seorang wanita tua bertongkat Naga dengan tiga orang paderi. Segera saja ia telah melompat masuk ke dalam penginapan.
Di sana ia telah memeriksa keadaan di dalam kamar, yang ternyata Gurunya si Tongkat Naga Seribu Racun sudah tidak ada. Dan terkejut si gadis baju merah ketika melihat sepucuk surat singkat tergeletak di meja. Dari surat itu segera ia mengetahui kalau sang Guru pergi ke Makam Kuno, mencari jejak si pencuri Kitab Ular.
Sesaat ia telah kembali keluar. Dilihatnya ketiga orang sahabatnya itu masih berada di tempat. Dan tengah menatap padanya. Tak banyak berkata, si gadis baju merah telah segera menarik lengan Mandra. Dengan suara terisak masih sempat berkata; “Cepat…! Tunjukkan aku di mana beliau tewasnya…”
Mandra hanya bisa mengangguk, dan segera beranjak pergi setengah berlari diikuti si gadis baju merah. Roro Centil dan Sentanu segera mengikuti di belakang.
Beberapa pengunjung rumah makan, yang kebetulan melihat, cuma bisa bertanya-tanya karena tak mengetahui mengapa keempat orang itu berlarian dengan tergesa-gesa. Setelah melewati ujung desa, dan mengambil jalan terdekat menuju arah Makam Kuno itu, segera telah terlihat sesosok tubuh terkapar tak bergerak dengan tubuh bersimbah darah.
Si gadis baju merah perdengarkan jeritan menyayat, dan berlari mendahului untuk menubruk mayat gurunya. Dan sekejap kemudian ia telah tenggelam dalam ratap tangis yang memilukan. Setelah kematian adiknya, kini kematian sang Guru yang dicintainya. Betapa tidak hancur hati dan perasaan gadis itu.
Suasana kesedihan itu amat terasa sekali pada ketiga orang yang mendengar dan menyaksikannya. Selang sesaat, setelah tangis Roro Dampit agak mereda, Roro Centil segera mendakati gadis itu, dan menghiburnya. Demikianlah… akhirnya jenazah si Tongkat Naga Seribu Racun dikebumikan di tempat itu juga dengan upacara sederhana.
Saat itu hari telah menjelang senja. Pelahan-lahan udara mulai menjadi agak teduh, karena sang mentari telah tinggal sedikit lagi lenyap di balik bukit. Keempat orang itu segera tinggalkan tempat yang membawa kesedihan itu. Mandra mengambil kesempatan untuk mengajak mereka bermalam di rumah majikannya. Yang ternyata tak ditolak oleh ketiga sahabat itu.
Namun dipersimpangan jalan Sentanu minta izin untuk menjemput kudanya terlebih dulu, dan berjanji akan menyusul belakangan. Semuanya menyetujui. Demikianlah, Sentanu segera bergegas pergi dengan langkah cepat. Sementara Mandra meneruskan perjalanannya dengan ditemani kedua gadis yang cantikcantik itu.
Kira-kira menjelang malam baru saja menyibak, mereka telah tiba ke tempat yang dituju. Dan beberapa saat antaranya Sentanu pun telah menyusul. Yang ternyata laki-laki tampak berkumis kecil itu telah mengetahui tempat di mana Mandra menginap, di rumah majikannya. Malam itu mereka tampak duduk berbincang-bincang. Ternyata ditemani dengan majikan Mandra, yang juga duduk dan turut serta terlibat dalam pembicaraan.
Akhirnya Marni mulai dikorek keterangannya. Atas desakan dan bujukan Roro Centil, akhirnya adik perempuan Mandra mau juga buka suara. Terkejutlah Mandra. Juga yang lainnya, mengetahui pengakuan Marni adalah Sang ayah angkatnya alias laki-laki bernama Singkuti itulah, yang telah memberikan Marni pada sang Bupati Daeng Panuluh untuk dijadikan pemuas nafsunya.
Tentu saja dengan imbalan besar. Dan yang membuat Mandra semakin berang adalah sang ayah angkat yang sudah dianggapnya ayahnya sendiri itu, juga menggagahi anak angkat, atau anak asuhnya sendiri. Dan memberikan ancaman akan membunuhnya, bila berani mengadukan hai itu pada siapa saja. Terutama kakaknya, Mandra.
“Manusia keparat…! Aku memang sudah mencurigainya…! Benar-benar iblis yang bermuka manusia…!” Memaki Mandra dengan geram.
Betapa marahnya Mandra sukarlah dapat dibayangkan… Namun Roro Centil dapat segera menahannya ketika malam itu juga Mandra akan segera mencari ayah angkatnya. Demikianlah… Akhirnya terbuka juga rahasia kemelut yang hampir-hampir saja menjadikan Sentanu korban dari fitnahan keji. Ternyata si Carik Desa itulah yang telah membawa Marni ke kamar Sentanu, yang memang jarang ditiduri.
Mandra membenamkan kepalanya pada kedua lengannya. Tubuhnya tampak tergetar hebat. Dengan nafasnya yang terlihat memburu. Betapa susah tampaknya ia menenangkan hatinya yang bergemuruh. Namun selang sesaat, Mandra sudah kembali tenang. Tak lama ia sudah bangkit, dengan sepasang matanya menatap pada Sentanu.
“Sentanu…! Maafkanlah semua kesalahanku yang terlalu mempercayai hasutan-hasutan keji ayah angkatku. Sehingga aku telah menuduhmu dengan serampangan…!”. Berkata Mandra, seraya mengajaknya berjabatan tangan. Sentanu tersenyum. Lengannya cepat bergerak untuk menjawab tangan Mandra, seraya ia berkata;
“Tak apalah Mandra…! Semua manusia mempunyai kekhilapan dan kesalahan. Semoga kita dapat terus bersahabat sampai kapanpun…!”
“Terima kasih, Sentanu…!”. Ujar pemuda pandai besi itu, seraya mengepal erat lengan sahabatnya, seperti enggan melepaskan lagi.
Isteri majikan Mandra yang ramah tamah itu telah membawa lagi seteko air kopi manis, seraya menuangkannya lagi pada gelas-gelas yang kosong. Tampaknya suasana malam itu amat meriah. Ditambah persoalan yang selama ini membeku, kini telah menjadi cair dengan terbukanya tabir semua persoalan yang hampir menemui jalan buntu.
Malam pun semakin melarut juga. Dan suasana di rumah majikan Mandra itu mulai agak sunyi dari orang-orang yang bicara. Menjelang pagi telah terdengar suara gaduh di sisi jalan desa. Dan banyak orang berlari-lari ke arah rumah bengkel tempat Mandra bekerja.
“Ada apakah…?” Berkata Mandra dengan terkejut. Ia baru saja terjaga dari tidurnya, karena sampai lewat tengah malam, pemuda ini tak dapat memicingkan matanya. Dan baru bisa tidur setelah mau menjelang pagi. Terkejut pemuda ini ketika mengetahui tak ada orang di rumah. Dan suara ribut-ribut di sisi jalan itu mengundang pertanyaan. Segera saja ia telah melompat untuk berlari memburu ke arah bengkelnya. Terlihatlah banyak orang berkerumun di sisi tembok bengkelnya.
“Ada apa…!? Ada apa…!?” Teriak Mandra, seraya menyeruak masuk di antara kerumuman orang.
Betapa terkejutnya pemuda ini melihat sesosok tubuh yang terbujur tak bergerak dengan sepasang mata membeliak keluar. Dan terlihat pada bagian dadanya sebuah lubang bekas tusukan senjata tajam, dengan darah yang hampir mengering. Sedang di atas perutnya terlihat sebuah topeng muka berwarna hitam, tergeletak. Yang membuat Mandra amat terkejut adalah mayat laki-laki itu tak lain dari mayat Carik Desa, alias Sengkuti atau ayah angkatnya sendiri.
Sementara di tembok bengkelnya terdapat surat bertulisan ‘Manusia tidak bermoral ini memilih jalan hidupnya dengan kematian! Dia terlibat dengan enam kali perampokan, sembilan kali pembunuhan dan delapan kali pemerkosaan, yang mencemarkan nama baik kepemimpinan Bupati Ki Ageng Panuluh. Senapati Kerajaan Medang Wira Pati.’
Tercenung Mandra membaca tulisan dari surat yang bertanda tangan Senapati Kerajaan itu. Sementara seseorang telah menepuk pundaknya. Ternyata Sentanu.
“Sudahlah Mandra, mari kita segera urusi mayat ayah angkatmu ini…!” Berkata Sentanu.