Tiga Paderi Pemetik Bunga Bab 5

MANDRA palingkan kepala ke beberapa arah, ternyata Roro Centil, dan si gadis baju merah Roro Dampit, serta adiknya Marni telah berada di tempat itu. Juga kedua suami istri majikannya. Pemuda ini anggukkan kepala. Walaupun ia amat membenci sang ayah angkatnya ini, akan tetapi tetap saja ia bersedih hati. Karena tak menyangka sang ayah telah menjadi utusan orang-orang Kerajaan. Dan telah menjadi intaian yang berwajib selama ini. Bahkan sampai senapati Wirapati turun tangan.

Dilihatnya Marni, sang adik tengah terisak dipeluk oleh si Pendekar Wanita Roro Centil. Setelah menatap sejenak, segera ia menyuruh semua orang yang berkerumun itu bubar. Dan dengan cepat ia telah segera pondong tubuh Carik Desa itu, dan dibawanya bergegas dengan langkah cepat menuju ke rumah majikannya. Roro Centil dan yang lainnya segera mengikuti dari belakang.

Keadaan yang ramai di sisi jalan itu pun mulai kembali sepi. Cuma tinggal beberapa orang yang masih bercakap-cakap di seberang jalan desa, memperbincangkan kejadian itu. Akan tetapi penduduk desa telah menjadi tahu kalau Carik Desanya ternyata adalah seorang yang berkelakuan tidak baik. Dan memuji tindakan Senapati Kerajaan Medang yang turun tangan menumpas kejahatan manusia yang bagai musang berbulu ayam itu.

Namun hanya sebagian penduduk saja yang cuma menganggap sang Carik Desanya yang berbuat kesalahan dan menjadi biang kerusuhan selama ini. Karena sebagian lain dari penduduk telah mulai mencium jejak adanya tiga orang paderi palsu, yang juga bergentayangan menyebar kejahatan.

Tentu saja mereka tetap kurang puas, karena belum adanya berita tentang ketiga paderi palsu itu. Di antara desas-desus penduduk yang kurang puas itu, ternyata Mandra lebih-lebih kurang puas. Karena ia merasa Bupati Daeng Panuluh terlibat dalam urusan itu.

Tapi mengapa sampai saat ini tak ada berita mengenai diambilnya tindakan pada sang Bupati itu? Bahkan sampai beberapa hari ini sang Bupati tampak mulai sering kelihatan berkeliling desa-desa dengan menunggang kuda. Dengan beberapa pengawal Kerajaan di belakangnya. Dengan sikap seperti seorang yang amat berwibawa.

Baca novel ini di Temanin.site

Tentu saja di setiap tempat, penduduk mengangguk hormat. Apa lagi ketika suatu hari berkeliling dengan berkuda, bersama sang Senapati Wira Pati. Pasar-pasar yang ramai penuh dengan orang yang memenuhi jalan itu, segera menjadi terkuak untuk mareka segera menyingkir ke tepi, ketika kedua pembesar Kerajaan ini akan lewat.

Sementara dari kerumunan para pedagang dan pembeli, sepasang mata menatap tajam pada sang Senapati yang berwajah angker dan tampak angkuh itu. Itulah sepasang mata Sentanu. Bekas seorang perwira Kerajaan Medang. Laki-laki ini gerakkan topi tudungnya untuk menutup wajahnya, ketika kedua orang penting itu lewat di hadapannya.

Dan ia sudah membuka lagi topi tudungnya, ketika mereka sudah melewati tempat itu. Wajah laki-laki ini tampak memerah padam memandang punggung kedua manusia yang lewat itu. Lalu tak lama kemudian, segera berlalu meninggalkan pasar yang kembali ramai itu.

Tentu saja Sentanu mengetahui akan tingkah laku dan akhlak sang Senapati Wirapati pamannya itu. Yang sebenarnya Wira Pati adalah adik tiri dari almarhum ibunya. Sejak Wira Pati masih menjabat Tumenggung, Sentanu sudah melihat akan watak-watak buruk laki-laki itu. Entah mengapa tampaknya Wira Pati seperti membencinya.

Apakah karena ayahnya semasa masih hidup, dan masih menjabat sebagai Senapati Kerajaan Medang sering menasihatinya. Karena memang baik Sentanu maupun ayahnya sering memergoki Tumenggung Wira Pati di tempat-tempat pelacuran dan perjudian.

Bahkan perbuatannya sudah tak layak dilakukan oleh seorang Tumenggung. Yang seharusnya memberi pengarahan pada rakyat, tapi justru dia sendiri tenggelam dalam arus kemaksiatan. Untunglah sang ayah seorang yang bijaksana, dan masih memandang adanya tali persaudaraan, hingga kelakuan-kelakuan buruk Tumenggung Wira Pati tak dilaporkan pada Raja.

Yang membuat Sentanu tak mengerti adalah tugas menyerang pemberontak di utara, yang menyebabkan kematian sang ayah. Ternyata belakangan baru diketahui oleh Sentanu kelau tak ada surat perintah dari Raja untuk ia memimpin anak buahnya menyerang ke sana. Sayang orang yang mengetahui rahasia surat perintah palsu itu justru telah tewas oleh segerombolan perampok, yang tiba-tiba menyerang rumahnya.

Di samping ludas seluruh harta bendanya, juga keluarga Perwira sahabat Sentanu itupun dibantai habis. Sehingga Sentanu tak punya bukti untuk menuduh sang paman. Sejak diangkatnya Wira Pati menjadi pengganti ayahnya sebagai Senapati Kerajaan, Sentanu tak lama segera mengundurkan diri dari keprajuritan. Ia kembali ke desa, di mana sang ibunya hidup dengan segala kesederhanaan.

Akan tetapi sangat mendongkol Sentanu, karena ada desas-desus dari penduduk bahwa keluarnya ia dari keprajuritan adalah karena dipecat. Bahkan tewasnya sang ayah di medan pertampuran, justru yang didengarnya dari penduduk malah karena dianggap memberontak pada Raja. Dan sang ayah diberitakan penduduk telah mati di tiang gantungan.

Hal itulah yang membuat Sentanu tak habis mengerti. Hingga ia jarang berdiam di rumah, karena ia enggan menghadapi wajah wajah sinis semua tetangganya. Kasihan sang ibundanya, yang tak kuat menahan perasaan berlarut-larut, akhirnya jatuh sakit. Apa lagi mendengar Sentanu terlihat dengan kasus pemerkosaan.

Wanita malang itu kini telah meninggal dunia. Dan Sentanu merasa perlu untuk mengungkap kasus yang telah menyeret dirinya. Kini kasus itu sedikit demi sedikit telah mulai terungkap. Cuma satu hal yang masih menjadi teka-teki bagi Sentanu. Yaitu siapakah manusianya yang telah mencemarkan nama baik keluarganya itu…? Ia memang mencurigai pamannya sendiri yaitu Senapati Wira Pati.

Namun Sentanu memang tak dapat berbuat apa-apa. Ia telah menjadi rakyat jelata. Berurusan dengan Wira Pati sama dengan berurusan dengan pihak Kerajaan. Harga diri dan martabatnya telah cemar di tempat tinggal almarhum orang tuanya. Sentanu merasakan hidupnya penuh dengan kehambaran. Seolah tiada lagi gairah untuk hidup. Akan tetapi tak sampai membuat Sentanu putus asa. Cuma ia bertekad untuk secepatnya pergi tinggalkan desanya. Dan entah ke mana tujuannya, ia sendiri tak mengetahui.

Demikianlah laki-laki ini berjalan dengan gontai. Topi tudungnya ia benamkan dalam-dalam di kepalanya. Cuma sepasang matanya saja yang terlihat menatap tanah. Memandang ujung-ujung kakinya yang menyusuri jalan-jalan setapak.

* * * * * * *

Mandra yang merasa kurang puas, dengan tidak diambilnya tindakan pada si Bupati Daeng Panuluh, telah langkahkan kakinya menuju ke arah gedung Kadipaten. Sengaja pemuda ini mengambil arah memutar, melalui jalan setapak.

Kira-kira separuh lagi perjalanan, ia mendengar derap suara kaki kuda yang jauh di belakangnya. Cepat sekali pemuda ini berkelebat untuk sembunyi. Ingin sekali ia melihat siapakah gerangan si penunggang kuda di belakangnya itu, yang sebentar lagi akan melewati jalan setapak ini.

Tak lama kemudian segera terlihat seorang penunggang kuda, dengan pakaian gemerlapan. Dari sutra kuning dan hijau. Ikat kepalanya memakai perhiasan berukir dibagian depan. Tampak berkibaran mantel berbulu, yang indah di belakang punggungnya. Sekelebat saja Mandra telah mengetahui laki-laki penunggang kuda yang berusia 40 tahun itu adalah Senapati Wira Pati.

Ternyata laki-laki itu menjalankan kudanya tidak terlalu cepat. Sebentar kemudian telah melewati dimana Mandra bersembunyi. Sepasang mata pemuda ini memperhatikannya hingga jauh. Terlihat di belakang punggung Senapati ini terselip sebuah tombak pendek yang digubat dengan kain sutera merah, yang berkibaran tertiup angin.

“Hah…!? Mau ke mana Senapati itu…?” Gumam Mandra. Seraya ia sudah beranjak untuk diam-diam membuntutinya. Demikianlah, pemuda itu segera menguntitnya dengan hati-hati. Karena ia yakin sang Senapati itu pasti seorang yang berilmu tinggi.

Ternyata tujuannya adalah rumah gedung sang Bupati Daeng Panuluh. Sebentar kemudian ia telah memasuki pekarangan yang luas itu. Dua orang penjaga segera menjura hormat. Dan menuntun kuda sang Senapati untuk segera ditambatkan. Di pintu masuk kembali seorang penjaga menjura, dan mempersilahkan Pembesar Kerajaan itu memasuki ruangan pendopo.

Tampaknya ruangan depan itu sunyi. Wira Pati terlihat mengerutkan alisnya. Ketika tak lama muncul seorang pembantu wanita dari dalam, yang segera menghampiri dengan membungkuk-bungkuk.

“Ke mana Ndoromu…!?” Bertanya Wira Pati.

Wanita tua itu menghaturkan sembah seraya berkata; “Ampun Ndoro Gusti Senapati… Anu… Ndoro Panuluh sedang tidak ada. Beliau belum lama pergi berkuda…! Silahkan duduk Ndoro Gusti Senapati. Mungkin sebentar akan kembali…!” Ujar si pembantu wanita tua itu, seraya kemudian mengundurkan diri kembali ke belakang.

Senapati Wira Pati tak berkata sepatahpun. Segera ia beranjak untuk duduk di kursi tamu. Sepasang matanya tampak memandang ke segala penjuru, seperti meneliti ruangan yang besar itu. Angin yang bertiup agak keras telah masuk ke dalam ruangan, menyingkapkan tirai-tirai kain jendela. Udara tampak agak sejuk.

Laki-laki ini membuka belahan bajunya sebatas pusar. Dan letakkan tombak pendek yang selalu dibawanya itu di atas meja. Lalu terdengar ia menghela napas. Tapi sepasang matanya jadi menatap tertegun, melihat sebuah betis yang tersingkap dari sesosok tubuh yang menggeletak di pembaringan.

Angin keras yang menyeruak masuk dari jendela tadi telah menyingkapkan kain tirai penutup kamar, yang pintunya terbuka. Sehingga pemandangan yang sekilas itu telah tidak luput dari tatapan Wira Pati. Tentu saja sepasang matanya jadi berkilatan. Dan segera saja ia sudah tampakkan senyumnya. Seraya sudah beranjak bangun berdiri. Lalu langkahkan kaki menuju kamar. Kain tirai itu disibakkan, lalu sekejap sudah tertutup lagi. Tubuh Senapati itupun lenyap di balik tirai kamar.

Sementara si pembantu wanita tua telah sembulkan kepalanya di balik pintu ruangan belakang. Dengan menatap pada tempat duduk tamu yang kosong. Lalu buru-buru kembali ke belakang menemui kawan pembantunya. Dan tampak ia berbisik-bisik pada wanita kawannya.

Sang kawan cuma bisa belalakkan matanya. Lalu terlihat ia membentangkan lengannya, seperti merasa tak mampu berbuat apa-apa. Selanjutnya mereka sudah kembali bekerja. Walau sesekali melirik ke ruangan depan. Namun tempat duduk tamu itu masih tetap saja kosong.

Wira Pati terpaku memandang sesosok tubuh yang tergolek di hadapannya. Ternyata seorang gadis berparas cantik. Bagaikan sekuntum bunga yang menunggu sang kumbang untuk siap dihisap madunya. Sepasang mata laki-laki ini sudah segera menelusuri lekuk-liku sang tubuh yang terbungkus selembar kain sutera tipis itu.

Seperti seekor serigala yang melihat mangsa di hadapannya, sang Senapati telah menelan air liurnya. Lengan sang senapati telah terjulur untuk menyibak kain selimut pembungkus tubuh mulus itu. Tampak terdengar gadis itu mengeluh, seperti mengerang. Lalu terdengar mendesis. Agaknya seperti baru tersadar dari tidurnya.

Kelopak matanya tampak mulai bergerak untuk terbuka sedikit. Namun seperti sukar ia membuka seluruhnya. Bahkan tampak ia berusaha menggerakkan tubuh dan lengannya. Terkejut juga sang Senapati, yang kemudian baru sadar kalau gadis itu dalam keadaan tertotok.

Segera ia telah gerakkan lengannya membuka totokan. Yang kemudian barulah gadis itu mampu gerakkan tangan dan kakinya. Pantas…! Menggumam Wira Pati dalam hati. Gadis ini pasti telah disediakan buatku. Tapi ia sengaja telah menotoknya, agar tak menyulitkan. Ha ha ha… si Daeng memang pandai memilihkan yang baik untukku…! Berkata Wira Pati dalam hati.

Tiba-tiba ia telah beranjak mendekati meja. Lengannya menyambar sebuah mangkuk yang telah kosong. Sekejap ia telah mencium pinggiran atas cawan itu seperti tengah memeriksa dengan penciumannya. Sesaat ia telah letakkan lagi cawan itu, dan beranjak mendekati sang gadis. Selanjutnya tiba-tiba ia telah bungkukkan tubuh. Kepalanya terjulur ke dekat wajah gadis itu. Ternyata ia tengah mengendus ke atas bibir sang gadis. Lalu terlihat ia tersenyum.

“He he… pantas! Ia telah dijejali ramuan hebat dari si paderi bernama Kuti itu. Agaknya ia memang telah menyiapkan segalanya untukku…!” Mendesis Wira Pati. Dan tiba-tiba ia telah segera meniadakan apa yang melekat di tubuhnya. Dan membersihkannya sama sekali. Terdengar suara merintih tatkala gadis ini menggeliat. Sepasang matanya setengah terkatup dan setengah terbuka.

Sementara desah angin telah kembali menyibak tirai dengan keras, hingga terlepas. Seekor laba-laba yang tengah membuat sarang segera bergerak cepat menangkap mangsanya, ketika seekor lalat terjerat pada perangkap yang telah dibuatnya.

Senapati Wira Pati meneguk arak yang telah disediakan di atas meja. Tampak ia bangkit berdiri dan memanggil pembantu wanita tua itu, yang tampak tongolkan kepalanya di pintu ruangan belakang. Bergegas dengan terbungkukbungkuk wanita pelayan ini menghaturkan sembah pada sang Senapati, yang segera berujar;

“Katakan pada Ndoromu bahwa aku datang. Agaknya aku harus segera kembali, karena ada tugas lain senja ini yang perlu kuselesaikan. Sampaikan terima kasihku padanya!”

“Baik, Ndoro Gusti Senapati…!” Menyahuti si wanita tua.

Selesai berkata, Wira Pati sudah segera menyelipkan kembali Tombak pendeknya ke belakang punggung. Dan segera beranjak keluar. Pembantu wanita ini mengantarnya dari belakang. Lalu menutupkan kembali pintu ruangan. Seorang penjaga yang berdiri di muka pintu pendopo, telah melihat keluarnya sang Senapati ini segera cepat-cepat menjura hormat. Wira Pati cuma anggukkan kepalanya. Lalu bergegas menuju keluar.

Seorang penjaga telah membawakan ke hadapannya kuda tunggangannya. Sementara seorang lagi tetap berdiri di pintu masuk halaman gedung. Selang sesaat sang Senapati ini telah melompat ke atas kuda. Dan selanjutnya memacunya dengan cepat keluar dari halaman Kadipaten. Dua penjaga itu memberinya jalan, seraya lakukan penghormatan dengan bungkukkan tubuh mereka.

Sekejap antaranya Wira Pati telah memacu kudanya dengan cepat, tanpa menoleh lagi ke belakang. Pada wajahnya tampak tampilkan senyum kepuasan. Senyum yang hanya bisa terlihat kalau hati sang Pembesar Kerajaan ini sedang mendapat angin baik. Tanpa memikirkan bahwa di dalam kesenangan dirinya itu, di pihak lain tenggelam dalam kesedihan dan kesusahan. Bahkan jeritan yang menyayat hati. Namun mana manusia yang tak mengenal halusnya perasaan ini dapat mendengarnya?

Karena telinga dan hatinya telah tertutup rapat-rapat dengan dinding nafsu angkara. Sehingga bathinnya pun menjadi kotor. Agaknya memang telah sulit untuk membasuh bathin manusia yang telah sedemikian. Karena watak manusia tak akan bisa berubah. Kalau tak manusia itu sendiri yang merubahnya.

Mandra yang berada di tempat persembunyiannya, di sisi jalan dekat gedung itu, kembali melihat kepulangannya sang Senapati yang kudanya mencongklang dengan cepat. Tentu saja ia tak mengetahui keadaan di dalam. Tapi tiba-tiba terlihat dari arah yang berlawanan seekor kuda mendatangi ke arah gedung. Dan segera terdengar ringkikan kuda sang Senapati, ketika laki-laki Pembesar Kerajaan itu menghentikan kudanya.

Ternyata si pendatang itu pun menghentikan pula kudanya. Sehingga kuda-kuda perdengarkan ringkikannya. Kiranya yang datang adalah sang Bupati Daeng Panuluh. Terdengar Wira Pati berkata dengan tampilkan senyum di wajahnya, melihat kedatangan sahabatnya.

“Aha…! Dari mana Daeng…? Lama aku menunggumu. Sayang aku ada tugas lagi senja ini. Jadi aku tak dapat menemanimu berbincang-bincang. Oh, ya…! Mengenai upeti untukku, biarlah untuk pekan ini tak usah kau setorkan. Asal kau harus berhati-hati kali ini. Terutama tiga orang paderi itu jangan sampai ia menyusahkan kita…!” Berkata sang Senapati.

Daeng Panuluh tersenyum dan manggut-manggut seraya berkata dengan nafas agak tersengal. Agaknya ia tadi melarikan kudanya dengan sekencang-kencangnya, seperti memburu sesuatu. “Te…terima kasih abang Wira Pati…!” Ujar Daeng Panuluh yang membahasakan sebutan abang, atau kakak pada laki-laki sahabatnya itu, karena sebenarnya Daeng adalah bukan orang asli tanah Jawa.

Ia perantau dari seberang pulau, yang terletak jauh di sebelah timur laut Pulau Jawa. Dan hidup di pesisir laut. Boleh dikatakan Daeng Panuluh besar dan dewasa di tengah ombak lautan. Sayang Daeng terjerat dalam kehidupan sesat. Dan memilih beberapa tahun yang lalu, sejak Wira Pati menjabat sebagai Tumenggung. Dari sahabatnya inilah Daeng dapat menduduki jabatan sebagai Bupati.

“Tapi bagaimana mengenai ancaman seorang pemuda misterius itu…?” Daeng telah lanjutkan dengan pertanyaan.

“Tenanglah…! Kelak aku yang mengurusinya. Bukankah kau tahu, si Sengkuti itu dengan mudah dapat kusingkirkan. Tak perduli ia seorang Carik Desa. Kalau bakal membahayakan, terpaksa harus disingkirkan. Walaupun tadinya ia orang yang membantu kita…!” Berkata Senapati Wira Pati dengan wajah tenang, namun suaranya terdengar tandas.

Daeng Panuluh manggut-manggut. Tapi tiba-tiba wajahnya kembali berubah agak pucat. Dan tampak dengan gugup ia berkata… “Ng…te… terima kasih sahabatku! Akan tetapi maaf… aku lelah sekali, dan memerlukan istirahat. Oh, ya… tentu abang Wira Pati jemu menungguku tadi…!”

Pembesar Kerajaan ini cuma tersenyum, seraya ujarnya; “Silahkan beristirahat, Daeng..! Memang akupun ada tugas yang menantiku…! Dan… ha ha ha… Terima kasihku padamu atas hidangan yang kau suguhkan itu. Tentu saja kelak akan ada imbalan tersendiri yang istimewa buatmu…!”

Daeng Panuluh jadi melengak mendengarnya. Akan tetapi sang Senapati telah segera mengeprak kudanya. Yang segera mencongklang lari dengan cepat. Adapun Daeng Panuluh setelah tercenung sesaat, tiba-tiba telah berteriak keras, dan memacu kudanya dengan cepat ke arah gedungnya.

Baru saja sampai di halaman, ia telah melompat dengan cepat, dan berlari menuju pintu Pendopo. Dua pengawal tak sempat lagi menjura, karena sang Bupati bagaikan gila telah menerobos masuk. Dan secepat itu pula telah memasuki kamar, di mana tergolek sesosok tubuh yang telah kehabisan tenaga.

“Nurimah…! Nurimaaaah…!?” Suara teriakannya tersendat seketika, melihat ke hadapannya.

Pembaringan itu telah kusut masai. Bantal dan guling telah berserakan tak keruan. Dan sang gadis tengah mengerang seperti dalam saat sekarat. Sekilas saja ia telah tahu apa yang telah terjadi. Kenyataan itu telah dibuktikan dengan jelas melalui penglihatannya.

Tiba-tiba laki-laki ini telah berteriak dengan suara parau. Dan menubruk tubuh gadis itu serta memelukinya dengan suara tangis meraung. Tampak sepasang mata Daeng telah bercucuran air mata. Dan terlontarlah kata-kata yang sudah delapan tahun lebih itu tak pernah terucapkan dari bibirnya.

“Anakku… Nurimah…! Anakku… Oh…” Selanjutnya cuma suara isak tangis bagaikan anak kecil yang terdengar. Tiba-tiba ia telah lepaskan pelukannya pada wanita yang terbujur itu. Wanita yang ternyata memanglah anak gadisnya sendiri. Dan terdengarlah suara teriakannya memanggil sang pembantu wanita. Yang dengan tergopoh-gopoh segera berlari menghampiri.

“Bodoh…!”. Teriaknya memaki. “Mengapa kau biarkan semua itu terjadi. Dia… dia anakku, tahu…! Keparrrat…!”

Plak! Sebelah lengannya telah bergerak menampar kepala sang pembantu wanita tua itu. Yang segera saja terpelanting dengan suara teriakan menyayat hati. Namun Daeng kembali sudah memburunya. Lengannya bergerak menjambak rambut wanita yang bernasib sial itu.

Akan tetapi terkejut Daeng, karena sudah tak terdengar lagi jeritan kesakitan ketika dijambak rambutnya. Kiranya sang pembantu yang malang itu telah tewas. Dengan geram Daeng menghempaskannya ke lantai. Segera ia bergerak lagi melompat untuk mencegat seorang pembantu wanita lagi, yang menggigil ketakutan.

“Ampun, Ndoro…! Jangan bunuh hamba…! Hamba tidak bisa mencegahnya… Ja… jangan bunuh hamba Ndoro…” Berkata wanita pembantu itu dengan meratap tangis.

“Aku takkan membunuhmu, Mariyem…!” Membentak Daeng Panuluh. Tiba-tiba laki-laki ini telah keluarkan sesuatu dari saku bajunya. “Berikan ini pada anakku. Jejalkan di mulutnya. Ingat! Dua butir pel ini harus benar-benar tertelan. Kalau sampai gagal, nyawamu sebagai gantinya, mengerti…?!”

“Ba…baik Ngoro…! Akan hamba kerjakan…!” Menyahuti sang pembantu wanita seraya menerima dua butir pel itu dari tangan Daeng, dengan lengan gemetar dan wajah pucat bagaikan mayat. Namun ia telah bersyukur dalam hati yang jiwanya selamat. Sekejap kemudian.